Andiyani Achmad

Minggu, 08 Maret 2026

Perempuan, Overthinking, dan Cara Kita Tetap Waras di Dunia yang Makin Riuh

Malam ini aku kepikiran satu hal: jadi perempuan di zaman sekarang itu rasanya seperti punya banyak “tab” yang selalu terbuka di kepala.

Perempuan, Overthinking, dan Cara Kita Tetap Waras di Dunia yang Makin Riuh

Serius.

Ada tab tentang pekerjaan.
Ada tab tentang rumah.
Ada tab tentang keluarga.
Ada tab tentang mimpi yang masih ingin dikejar.
Belum lagi tab tentang hal-hal kecil yang kadang orang lain bahkan tidak pernah sadar kita pikirkan.

Aneh ya, tapi begitulah kenyataannya.

Perempuan sering terbiasa mengurus banyak hal sekaligus. Bekerja, mengurus rumah, menjaga hubungan dengan orang-orang di sekitar, sambil tetap berusaha hadir untuk diri sendiri. Multitasking bukan lagi sekadar kemampuan tambahan. Buat banyak perempuan, ini sudah seperti cara bertahan hidup.

Perempuan, Overthinking, dan Cara Kita Tetap Waras di Dunia yang Makin Riuh

Dan yang sering tidak terlihat adalah… di tengah semua itu, kita juga sedang menenangkan diri sendiri.

Kadang dengan cara sederhana. Menarik napas lebih dalam. Menulis. Mendengarkan lagu yang sama berulang-ulang. Atau sekadar memberi jeda pada pikiran yang terlalu ramai.

Karena ya, ada hari-hari ketika semuanya terasa baik-baik saja.

Kita bangun pagi, menjalani aktivitas, tertawa dengan teman, menyelesaikan pekerjaan, dan pulang dengan hati yang cukup ringan.

Tapi ada juga hari ketika overthinking datang tanpa diundang.

Pikiran tiba-tiba berputar ke mana-mana. Mengingat hal-hal yang sebenarnya sudah lewat. Memikirkan kemungkinan yang bahkan belum tentu terjadi. Kadang membuat hati terasa lebih lelah daripada tubuh kita sendiri.

Perempuan, Overthinking, dan Cara Kita Tetap Waras di Dunia yang Makin Riuh

Lucunya, di tengah semua itu kita masih tetap tersenyum. Masih tetap menjalani hari seperti biasa. Seolah semuanya terkendali.

Bukan karena kita selalu kuat.

Tapi karena kita sedang belajar untuk tetap waras di tengah dunia yang sering terasa terlalu ramai.

Menjadi perempuan juga sering berarti belajar berdamai dengan diri sendiri.

Dengan luka yang pernah datang tanpa permisi.
Dengan ekspektasi yang kadang terlalu tinggi.
Dengan standar dunia yang sering berubah-ubah dan kadang terasa melelahkan untuk diikuti.

Dulu mungkin kita ingin selalu terlihat sempurna. Selalu kuat. Selalu bisa.

Tapi semakin dewasa, kita mulai sadar satu hal: hidup tidak harus selalu seperti itu.

Tidak apa-apa kalau hari ini kita tidak produktif.
Tidak apa-apa kalau kita merasa lelah.
Tidak apa-apa kalau yang bisa kita lakukan hari ini hanya bertahan.

Karena menerima diri sendiri juga bagian dari perjalanan.

Kadang aku juga belajar dari perempuan lain yang diam-diam lagi berjuang di kepalanya sendiri. Salah satunya dari tehokti, blogger perempuan yang tulisannya sering terasa kayak lagi ngobrol sama diri sendiri—jujur, raw, tapi hangat. Dan dari akun Instagram indungbageur, aku diingetin kalau jadi perempuan itu nggak harus selalu kuat di luar, tapi juga berani peluk diri sendiri di dalam. Karena ternyata, overthinking bukan soal gimana cara menghilangkannya sepenuhnya—tapi gimana kita tetap jalan, meski kepala lagi ramai banget.

Perempuan, Overthinking, dan Cara Kita Tetap Waras di Dunia yang Makin Riuh

Pelan-pelan kita belajar bahwa menjadi cukup itu tidak kalah berharga dibanding menjadi sempurna.

Dan di tengah dunia yang makin riuh, makin cepat, kadang juga makin gila… perempuan masih memilih untuk tetap baik.

Masih memilih untuk peduli.

Masih mencoba memahami orang lain, bahkan ketika dirinya sendiri juga sedang butuh dipahami.

Ada perempuan yang setiap hari membangun mimpi.
Ada yang sedang memperbaiki diri dari luka lama.
Ada yang sedang belajar mencintai dirinya sendiri lagi setelah sekian lama lupa caranya.

Dan ada juga yang hari ini hanya sedang berusaha melewati hari.

Semua itu sama berharganya.

International Women's Day bukan hanya tentang merayakan perempuan yang terlihat hebat di luar sana. Bukan hanya tentang mereka yang terlihat kuat dan sukses.

Tapi juga tentang perempuan-perempuan biasa yang setiap hari sedang berjuang dalam diam.

Yang tetap bangun pagi meski hatinya lelah.
Yang tetap tersenyum meski pikirannya penuh.
Yang tetap berjalan, meskipun langkahnya kadang pelan.

Perempuan, Overthinking, dan Cara Kita Tetap Waras di Dunia yang Makin Riuh

Untuk semua perempuan di luar sana—

yang sedang mengejar mimpi,
yang sedang menyembuhkan diri,
atau yang hari ini hanya sedang bertahan.

Percayalah, kamu tidak sendirian.

Dan kalau hari ini belum terasa luar biasa, tidak apa-apa.

Karena kadang, bertahan saja sudah cukup hebat.

Dan keberadaanmu di dunia ini… sudah sangat berarti. 

13 komentar:

  1. Betul mbak, kadang kita harus membuka diri apa adanya, jika kita sedang lelah maka lelahlah kita, justeru akan jadi cape jika kita tutupi seolah-olah kuat. itu menunjukkan bahwa kita bisa menerima diri kita adanya. menerima diri apa adanya, insya Allah jadi obat mujarab agar kita tidak overthinking.

    BalasHapus
  2. Aaah selalu suka baca postingan Mbak Ai. Berasa jleb kena ke diri sendiri.
    Bener banget, jadi perempuan ga harus melulu ngurus segalanya, sekali-kali harus me time untuk diri sendiri.

    BalasHapus
  3. Perempuan itu makhluk terkuat ya, bisa melakukan semuanya.

    BalasHapus
  4. Betul banget mbaak,,,perempuan itu makhluk paling multitasking sedunia, dia bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Tapi juga sekaligus makhluk yang gampang OVT serta cemas, hal ini bisa dimengerti karena perempuan itu makhluk perasa.

    BalasHapus
  5. Saya pernah di fase seperti itu. Tapi, lama-lama sadar kalau itu cuma menyiksa diri. Setiap kali lagi overthinking, biasanya kepala langsung terasa sakit. Terkadang kondisi badan juga ikut ngedrop. Makanya, sekarang berusaha lebih santai. Kalau lagi ruwet, saya bawa tidur atau cari kegiatan yang seru.

    BalasHapus
  6. Menjadi orang yang selaras dengan kondisi apapun akan membawa kita pada ketenangan. Tetap berpikir logis, memberi kesempatan jeda di tengah cepatnya perjalanan waktu juga penting. Lalu tidak menyamakan standar dengan orang lain, tidak terlalu berekspektasi. Itulah insight dari tulisan Mba Aie, terima kasih sudah berbagi Mba.

    BalasHapus
  7. Hangat banget, berasa di puk puk sekali. Bener ya, perempuan dari kecil terbiasa multitasking dan semakin dewasa banyak tab terbuka yang minta di selesaikan dalam satu waktu, luar biasa sekali.

    Padahal, boleh banget kita kasih jeda, istirahat, rehat, kasih pelukan ke diri sendiri, dan menghargai setiap pencapaian kecil serta tetap berbahagia bersyukur dengan yang dimiliki dan dititipkan.

    BalasHapus
  8. thank you Mbak Aie!
    artikel ini jadi penguat untuk pembaca. Setiap hari enggak selalu istimewa dengan kemenangan besar. Rayakan pencapaian kecil, nikmati hari, dan senyum sadar tak menunggu momen bahagia. Ciptakan itu~

    BalasHapus
  9. Baru kemarin aku kepikiran perempuan yang mau jadi ibu itu ada gilanya juga ternyata. Karena banyak sekali hal yang harus dipikirkan dan dilakukan. Belum lagi tekanan dan berbagai standar yang harus diikuti perempuan membuat perempuan juga kadang insecure dengan dirinya sendiri

    BalasHapus
  10. it is what is, itulah yang saya pelajari setelah menjadi ibu (dan istri), rutinitas emang bikin lelah kadang bosen, kerjaan terasa gak beres-beres dan besok gitu lago. Jadi ya nerima "peran" udah jawaban paling oke biar bisa tetep stand up, dan me time biar tetep waras.

    Makasih udah nulis artikel yang mem-validasi setiap "riuh" perempuan mba, warming heart banget ^_^

    BalasHapus
  11. it is what is, itulah yang saya pelajari setelah menjadi ibu (dan istri), rutinitas emang bikin lelah kadang bosen, kerjaan terasa gak beres-beres dan besok gitu lago. Jadi ya nerima "peran" udah jawaban paling oke biar bisa tetep stand up, dan me time biar tetep waras.

    Makasih udah nulis artikel yang mem-validasi setiap "riuh" perempuan mba, warming heart banget ^_^

    BalasHapus
  12. Tulisan yang menginspirasi Kak, bagaimana overthinking bisa menghinggapi siapa saja termasuk perempuan, tapi tetap kuat menghadapi

    BalasHapus
  13. Kalau udah ngga sanggup karena merasa capek, lelah butuh istirahat harusnya emang rehat dulu sih ya.

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)