Andiyani Achmad

Senin, 02 Februari 2026

Circle Datang dan Pergi, Aku Tetap Bertumbuh

Kalau hidup ini film, mungkin fase pertemanan adalah soundtrack-nya. Ada yang keras, ada yang lembut, ada juga yang cuma numpang lewat tapi ninggalin gema. Begitu juga dengan circle pertemananku, yang berubah-ubah seiring waktu, seiring tumbuhnya usia, dan seiring realita yang pelan-pelan datang tanpa permisi.

Circle Datang dan Pergi, Aku Tetap Bertumbuh

Circle SD–SMP–SMA: Dunia Kecil yang Terasa Besar

Masa sekolah adalah fase paling “ramai” dalam hidupku. Sejak SD, SMP, sampai SMA, selalu ada circle pertemanan yang seru, solid, dan rasanya aman. Kami punya versi Geng Cinta ala film Ada Apa dengan Cinta—bedanya, tanpa puisi Rangga dan tanpa drama besar. Tapi soal kebersamaan? Sama hangatnya.

Kami berbagi cerita receh, rahasia kecil, tawa di sela jam pelajaran, dan mimpi-mimpi yang belum tahu akan ke mana arahnya. Saat itu, pertemanan bukan soal manfaat, tapi soal hadir. Duduk bareng, pulang bareng, dan merasa “aku nggak sendirian”.

Dari fase ini aku belajar satu hal: kedekatan lahir dari waktu yang dihabiskan bersama, bukan dari seberapa penting posisi kita di hidup orang lain.

Circle Datang dan Pergi, Aku Tetap Bertumbuh

Circle Datang dan Pergi, Aku Tetap Bertumbuh

Circle Kuliah: Singkat, Padat, dan Penuh Cerita

Masuk dunia kuliah, circle pertemanan berubah bentuk. Lebih cair, lebih fleksibel, tapi juga lebih cepat berlalu. Circle teman kuliahku mungkin tidak berlangsung lama, tapi padat pengalaman.

Di fase ini, hidupku terbagi ke tiga dunia: kuliah, pertemanan, dan kerja part time di Starbucks. Dan iya, aku juga punya circle sendiri selama kerja part time. Kami disatukan oleh shift yang panjang, aroma kopi, kaki pegal, dan obrolan jujur di sela jam istirahat.

Circle Starbucks mengajarkanku tentang tanggung jawab, kerja keras, dan arti pulang dengan badan lelah tapi hati penuh. Mereka bukan cuma rekan kerja, tapi teman seperjuangan yang sama-sama belajar jadi dewasa.

Circle Datang dan Pergi, Aku Tetap Bertumbuh

Dunia Kerja: Circle yang Tidak Lagi Romantis

Masuk dunia kerja, ekspektasiku soal pertemanan pelan-pelan luruh. Tidak ada lagi circle yang semanis masa sekolah. Tidak ada obrolan panjang tanpa kepentingan. Yang ada hanyalah circle teman makan siang.

Kami makan bersama, bertukar cerita ringan, mengeluh sebentar sebagai buruh korporat, lalu kembali ke meja masing-masing. Circle ini masih ada sampai sekarang. Tidak lebih, tidak kurang. Sekadar teman makan siang saja. Dan ternyata, itu cukup.

Circle Datang dan Pergi, Aku Tetap Bertumbuh

Banyak Kenalan, Sedikit Kedekatan

Kalau ditanya sekarang, aku punya banyak kenalan. Tapi yang benar-benar dekat? Hampir tidak ada. Dan itu bukan sesuatu yang menyedihkan.

Aku justru menemukan kenyamanan dalam waktu sendiri. Menikmati hening. Menghabiskan waktu dengan keluarga. Tidak merasa harus selalu punya circle untuk merasa utuh.

Aku belajar bahwa kedewasaan bukan tentang memperluas circle, tapi menyempurnakan ruang batin sendiri.

Circle Datang dan Pergi, Aku Tetap Bertumbuh

Di titik hidup seperti ini, aku juga berdamai dengan peranku sebagai content writer dan SEO Content Writer—pekerjaan yang justru banyak menuntut waktu sendiri. Menulis, merangkai kata, dan mengolah cerita agar relevan sekaligus mudah ditemukan mesin pencari mengajarkanku satu hal yang sama dengan perjalanan pertemanan: tidak semua hal harus ramai untuk bermakna. Kadang, duduk sendiri di depan layar, ditemani pikiran dan kopi, justru terasa paling jujur. Dari sana aku belajar bahwa produktivitas dan kedewasaan sering lahir dari kesunyian yang kita pilih, bukan dari keramaian yang kita paksakan.

Circle Datang dan Pergi, Aku Tetap Bertumbuh

Circle Boleh Berubah, Diri Tetap Bertumbuh

Circle pertemanan datang dan pergi, dan itu tidak apa-apa. Tidak semua hubungan harus bertahan selamanya untuk dianggap bermakna. Ada yang hadir untuk mengajarkan tawa, ada yang hadir untuk mengajarkan batas, ada juga yang hadir hanya untuk satu musim.

Dan aku? Baik-baik saja dengan itu.

Karena pada akhirnya, hidup bukan soal seberapa ramai lingkaran pertemanan kita, tapi seberapa jujur kita pada diri sendiri.
Dan mungkin, circle terbaikku hari ini adalah diriku sendiri dan keluarga.
Dan itu, lebih dari cukup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)