Ada kalanya tubuh memberi kita peringatan dengan cara yang tidak bisa diabaikan.
Bukan lewat reminder.
Bukan lewat notifikasi.
Bukan lewat kalender yang penuh.
Tapi lewat satu kondisi yang membuat kita akhirnya berhenti sejenak dan berpikir,
“Oke... mungkin sudah waktunya aku lebih memperhatikan diri sendiri.”
Begitulah kira-kira yang aku rasakan ketika vertigo menyerang.
Rasanya seperti tubuh tiba-tiba meminta perhatian.
Dan di saat seperti itu, aku jadi teringat betapa seringnya kita sebagai perempuan, terutama ketika sudah menjadi ibu dan bekerja, terlalu sibuk mengurus semuanya sampai lupa mengurus diri sendiri.
Pekerjaan dipikirkan.
Anak dipikirkan.
Suami dipikirkan.
Rumah dipikirkan.
Deadline dipikirkan.
Hal-hal kecil yang sebenarnya bisa ditunda pun sering kali tetap kita pikirkan.
Sementara satu orang yang seharusnya juga masuk dalam daftar perhatian justru sering berada paling belakang:
diri sendiri.
Lucu ya?
Kita bisa begitu perhatian kalau anak kurang tidur.
Bisa panik kalau pasangan sedang tidak enak badan.
Bisa mengingat banyak hal yang harus dilakukan untuk keluarga.
Tapi ketika tubuh sendiri mulai memberikan sinyal, kita sering menjawab,
“Nanti saja.”
Padahal tubuh juga punya batas.
Pengalaman vertigo ini membuatku kembali melihat pola hidup sehari-hari.
Bagaimana pola tidur.
Bagaimana aktivitas fisik.
Bagaimana makanan.
Bagaimana mengelola stres.
Bagaimana memberikan waktu untuk tubuh beristirahat.
Bukan berarti setelah mengalami satu kejadian kemudian semuanya harus berubah drastis.
Aku justru ingin mulai dari hal-hal sederhana.
Lebih memperhatikan kebutuhan tubuh.
Tidak mengabaikan rasa lelah.
Berusaha tidur lebih cukup.
Lebih bijak memilih makanan.
Memperbanyak bergerak.
Mengurangi kebiasaan yang membuat tubuh semakin kelelahan.
Dan yang paling penting, belajar mendengarkan tubuh sebelum dia berteriak lebih keras.
Karena sehat itu ternyata bukan cuma tentang tidak sakit.
Sehat juga tentang punya energi untuk menjalani hidup.
Punya tenaga untuk bekerja.
Punya energi untuk menemani anak.
Punya waktu dan kondisi yang cukup untuk menikmati kebersamaan dengan suami.
Dan punya kesempatan untuk melakukan hal-hal yang kita sukai.
Ada satu hal yang juga semakin aku sadari:
menjaga kesehatan bukan cuma tentang umur panjang.
Ada alasan yang lebih sederhana dan lebih dekat.
Aku ingin tetap hadir.
Aku ingin melihat anakku tumbuh.
Aku ingin bisa menemani berbagai fase hidupnya.
Aku ingin punya cukup tenaga untuk menjalani hari-hari bersama keluarga.
Dan tentu saja...
aku juga ingin sehat untuk diriku sendiri.
Karena menjaga kesehatan tidak seharusnya selalu dikaitkan dengan orang lain.
Aku juga berhak punya tubuh yang dirawat.
Aku juga berhak merasa sehat.
Aku juga berhak memperlakukan diri sendiri dengan lebih baik.
Mungkin selama ini kita terlalu sering menunggu sakit untuk mulai peduli.
Menunggu tubuh benar-benar lelah untuk istirahat.
Menunggu berat badan berubah untuk mulai memperhatikan makanan.
Menunggu kondisi tertentu terjadi untuk mulai bergerak.
Padahal mungkin tidak perlu menunggu sejauh itu.
Kita bisa mulai sekarang.
Pelan-pelan.
Tidak harus langsung menjadi manusia paling sehat sedunia.
Tidak harus tiba-tiba olahraga setiap hari, makan super clean, tidur jam sembilan malam, dan bangun sebelum subuh sambil tersenyum bahagia.
Realistis saja.
Satu perubahan kecil.
Lalu satu lagi.
Dan satu lagi.
Yang penting konsisten.
Pengalaman vertigo ini akhirnya menjadi semacam pengingat untukku.
Bahwa tubuh bukan mesin.
Bahwa menjadi ibu, istri, perempuan, sekaligus working mom bukan berarti kita harus terus berjalan tanpa jeda.
Kita boleh berhenti.
Boleh istirahat.
Boleh memperhatikan diri sendiri.
Dan kalau tubuh memberikan sinyal yang mengkhawatirkan atau berulang, tentu jangan hanya mengandalkan “nanti juga sembuh”—periksakan diri ke tenaga medis agar penyebabnya bisa dinilai dengan tepat.
Karena pada akhirnya, hidup sehat bukan tentang menjadi sempurna.
Ini tentang belajar lebih sayang kepada tubuh yang selama ini sudah bekerja keras menemani kita.
Jadi, ketika vertigo menyerangku, mungkin aku bisa melihatnya sebagai sebuah pengingat.
Bukan untuk takut.
Tapi untuk mulai lebih peduli.
Karena aku masih punya banyak hal yang ingin dilakukan.
Masih ingin menikmati kopi tanpa terburu-buru.
Masih ingin menulis.
Masih ingin bekerja.
Masih ingin melihat anakku tumbuh dewasa.
Masih ingin menikmati banyak cerita bersama suami.
Dan tentu saja...
masih ingin menjalani hidup yang panjang, sehat, dan lebih sadar bahwa diri sendiri juga layak diperjuangkan.
Demi keluarga, iya.
Tapi pertama-tama...
demi diriku sendiri.





Mbak Aie, sakit jadi pengingat diri kalau tubuh minta diperhatikan juga. Sehat sehat kita...karena tugas kehidupan menanti. Take a break for a while sebelum ngegasss lagi.
BalasHapusBtw ini aku pun sedang migrain.
Kak Aie, aku sedang menikmati fase mencintai diri sendiri nih. Setuju jadi alart kak. Kita bukan robot ya. Jadi bisa mengenal diri maka kita akan tahu juga ya formula untuk diri kita yang gimana? Sehat sehat kakak...Aamiin.
BalasHapusTerima kasih Mbak Andiyani buat reminder-nya. Aku pernah baca postingan orang juga di sosmed kalau tubuh enggak pernah berbohong. Kalau kita sudah beraktivitas terlalu padat dan kurang isitrahat, pasti ada sinyal dari dalam tubuh yang bereaksi. Tapi sering kali kita menafsirkan tanda-tanda itu sebagai hal kecil, padahal justru di sanalah alarm paling awal berbunyi. Jika terlalu makasa diri tanpa mendengar, suatu hari tubuh akan memaksa berhenti — dengan cara yang lebih keras.
BalasHapusTerima kasih Mba Andiyani buat reminder-nya. Aku pernah baca juga postingan orang di sosmed, kalau tubuh enggak pernah berbohong. Kalau kita beraktivitas terlalu padat, pasti akan ada sinyalnya. Tapi sering kali kita menafsirkan tanda-tanda itu sebagai hal kecil, padahal justru di sanalah alarm paling awal berbunyi. Jika terus memaksa diri tanpa mendengar, suatu hari tubuh akan memaksa berhenti — dengan cara yang lebih keras.
BalasHapusJujur kepada diri sendiri. Saat jujur itu tubuh kita benar-benar minta haknya untuk diperhatikan. Umur 40plus emang matang tapi bagi yang sibuk justeru bisa jadi jebakan. Karena kesibukannya melupakan Hak tubuhnya.
BalasHapusPengalaman yang sangat berharga sekaligus jadi pengingat buat kita semua untuk selalu dengarkan sinyal tubuh. Saat tubuh sudah minta istirahat, memang paling benar untuk langsung rem sejenak. Semoga Mbak Andiyani senantiasa diberikan kesehatan dan stamina yang prima. Sehat-sehat selalu ya, Mbak Andiyani!
BalasHapusPertengahan bulan ini juga sempat ngalamin vertigo begitu bangun tidur, dan yang ada di pikiran tuh tetap, wah ini belum ngabarin soal jemputan les, urusan bekal gimana, ngajuin cutinya gimana karena mesti bikin surat, dst. Bahkan dalam keadaan kurang optimal pun tetap ya pikiran ibu-ibu tuh rasanya penuuuh gitu. Makasih Mbak sudah mengingatkan.
BalasHapusAgree, tubuh juga punya kapasitas dan haknya untuk istirahat. Reminder untuk peka terhadap sinyal-sinyal yang diberikan tubuh, daripada ambruk dan akhirnya sakit, lebih repot. Sehat-sehat selalu.
BalasHapusAkupun kadang baru sadar kalo butuh istirahat pas udah sakit mba, tapi memang betul saat itu jg langsung kepikiran buat sehat karena msh banyak yang harus dicapai dan melihat anak2 sukses
BalasHapusTubuh kita itu sebenarnya selalu memberi sinyal ya kalau misal ada yang nggak beres. Cuma kitanya aja yang kadang abai dan berasa sehat terus sampai akhirnya tubuh nggak kuat dan jadi sakit deh. Aku sendiri juga lagi diperingatin sama tubuh yang obesitas mbak lewat lutut yang nyeri melulu harusnya sih diet ketat nih tapi kok aku susah banget ya dietnya huhu
BalasHapusPeluk virtual mbak. Baca ini aku jadi ke cubit dan diingatkan betapa penting merawat serta menjaga kesehatan. Vertigo yang datang bukan hanya membuat kepala nyeri dan sakit. Tetapi ada kesadaran yang menguat. Keinginan buat hidup lebih sehat. Terutama buat diri sendiri agar nyaman menjalani hari dan peran apapun di kehidupan. Semangat terus mbak.
BalasHapusiyaa banget, penting untuk kita mengingat diri dan peduli sama kondisi diri sendiri. Kalau kita sebagai ibu kondisinya ambruk, ya seisi rumah juga bakalan ambruk. Apalagi saat vertigo, Ya Allah, kebayang gimana ga enak rasanya terputar-putar gitu. Kakak saya vertigo sampai opname di RS.
BalasHapusTerkadang sebuah penyakit jika kita melihat dari sisi yang berbeda, justru bisa menjadi sebuah kifarat dosa-dosa kita mba, Insyaallah..
BalasHapus