Ketika Vertigo Menyerangku, Oke, Saatnya Hidup Lebih Sehat Lagi Demi Diri Sendiri, Anak dan Suami

Senin, 24 Agustus 2026

Ada kalanya tubuh memberi kita peringatan dengan cara yang tidak bisa diabaikan.

Bukan lewat reminder.

Bukan lewat notifikasi.

Bukan lewat kalender yang penuh.

Tapi lewat satu kondisi yang membuat kita akhirnya berhenti sejenak dan berpikir,

“Oke... mungkin sudah waktunya aku lebih memperhatikan diri sendiri.”

Ketika Vertigo Menyerangku, Oke, Saatnya Hidup Lebih Sehat Lagi Demi Diri Sendiri, Anak dan Suami

Begitulah kira-kira yang aku rasakan ketika vertigo menyerang.

Rasanya seperti tubuh tiba-tiba meminta perhatian.

Dan di saat seperti itu, aku jadi teringat betapa seringnya kita sebagai perempuan, terutama ketika sudah menjadi ibu dan bekerja, terlalu sibuk mengurus semuanya sampai lupa mengurus diri sendiri.

Pekerjaan dipikirkan.

Anak dipikirkan.

Suami dipikirkan.

Rumah dipikirkan.

Deadline dipikirkan.

Hal-hal kecil yang sebenarnya bisa ditunda pun sering kali tetap kita pikirkan.

Sementara satu orang yang seharusnya juga masuk dalam daftar perhatian justru sering berada paling belakang:

diri sendiri.

Ketika Vertigo Menyerangku, Oke, Saatnya Hidup Lebih Sehat Lagi Demi Diri Sendiri, Anak dan Suami

Lucu ya?

Kita bisa begitu perhatian kalau anak kurang tidur.

Bisa panik kalau pasangan sedang tidak enak badan.

Bisa mengingat banyak hal yang harus dilakukan untuk keluarga.

Tapi ketika tubuh sendiri mulai memberikan sinyal, kita sering menjawab,

“Nanti saja.”

Padahal tubuh juga punya batas.

Pengalaman vertigo ini membuatku kembali melihat pola hidup sehari-hari.

Bagaimana pola tidur.

Bagaimana aktivitas fisik.

Bagaimana makanan.

Bagaimana mengelola stres.

Bagaimana memberikan waktu untuk tubuh beristirahat.

Ketika Vertigo Menyerangku, Oke, Saatnya Hidup Lebih Sehat Lagi Demi Diri Sendiri, Anak dan Suami

Bukan berarti setelah mengalami satu kejadian kemudian semuanya harus berubah drastis.

Aku justru ingin mulai dari hal-hal sederhana.

Lebih memperhatikan kebutuhan tubuh.

Tidak mengabaikan rasa lelah.

Berusaha tidur lebih cukup.

Lebih bijak memilih makanan.

Memperbanyak bergerak.

Mengurangi kebiasaan yang membuat tubuh semakin kelelahan.

Dan yang paling penting, belajar mendengarkan tubuh sebelum dia berteriak lebih keras.

Karena sehat itu ternyata bukan cuma tentang tidak sakit.

Sehat juga tentang punya energi untuk menjalani hidup.

Punya tenaga untuk bekerja.

Punya energi untuk menemani anak.

Punya waktu dan kondisi yang cukup untuk menikmati kebersamaan dengan suami.

Dan punya kesempatan untuk melakukan hal-hal yang kita sukai.

Ada satu hal yang juga semakin aku sadari:

menjaga kesehatan bukan cuma tentang umur panjang.

Ada alasan yang lebih sederhana dan lebih dekat.

Ketika Vertigo Menyerangku, Oke, Saatnya Hidup Lebih Sehat Lagi Demi Diri Sendiri, Anak dan Suami

Aku ingin tetap hadir.

Aku ingin melihat anakku tumbuh.

Aku ingin bisa menemani berbagai fase hidupnya.

Aku ingin punya cukup tenaga untuk menjalani hari-hari bersama keluarga.

Dan tentu saja...

aku juga ingin sehat untuk diriku sendiri.

Karena menjaga kesehatan tidak seharusnya selalu dikaitkan dengan orang lain.

Aku juga berhak punya tubuh yang dirawat.

Aku juga berhak merasa sehat.

Aku juga berhak memperlakukan diri sendiri dengan lebih baik.

Mungkin selama ini kita terlalu sering menunggu sakit untuk mulai peduli.

Menunggu tubuh benar-benar lelah untuk istirahat.

Menunggu berat badan berubah untuk mulai memperhatikan makanan.

Menunggu kondisi tertentu terjadi untuk mulai bergerak.

Padahal mungkin tidak perlu menunggu sejauh itu.

Kita bisa mulai sekarang.

Pelan-pelan.

Tidak harus langsung menjadi manusia paling sehat sedunia.

Tidak harus tiba-tiba olahraga setiap hari, makan super clean, tidur jam sembilan malam, dan bangun sebelum subuh sambil tersenyum bahagia. 

Realistis saja.

Satu perubahan kecil.

Lalu satu lagi.

Dan satu lagi.

Yang penting konsisten.

Pengalaman vertigo ini akhirnya menjadi semacam pengingat untukku.

Bahwa tubuh bukan mesin.

Bahwa menjadi ibu, istri, perempuan, sekaligus working mom bukan berarti kita harus terus berjalan tanpa jeda.

Kita boleh berhenti.

Boleh istirahat.

Boleh memperhatikan diri sendiri.

Ketika Vertigo Menyerangku, Oke, Saatnya Hidup Lebih Sehat Lagi Demi Diri Sendiri, Anak dan Suami

Dan kalau tubuh memberikan sinyal yang mengkhawatirkan atau berulang, tentu jangan hanya mengandalkan “nanti juga sembuh”—periksakan diri ke tenaga medis agar penyebabnya bisa dinilai dengan tepat.

Karena pada akhirnya, hidup sehat bukan tentang menjadi sempurna.

Ini tentang belajar lebih sayang kepada tubuh yang selama ini sudah bekerja keras menemani kita.

Jadi, ketika vertigo menyerangku, mungkin aku bisa melihatnya sebagai sebuah pengingat.

Bukan untuk takut.

Tapi untuk mulai lebih peduli.

Karena aku masih punya banyak hal yang ingin dilakukan.

Masih ingin menikmati kopi tanpa terburu-buru.

Masih ingin menulis.

Masih ingin bekerja.

Masih ingin melihat anakku tumbuh dewasa.

Masih ingin menikmati banyak cerita bersama suami.

Dan tentu saja...

masih ingin menjalani hidup yang panjang, sehat, dan lebih sadar bahwa diri sendiri juga layak diperjuangkan.

Demi keluarga, iya.

Tapi pertama-tama...

demi diriku sendiri.

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)