Ada satu hal yang kadang lebih sulit daripada pulang dari kantor: benar-benar meninggalkan pekerjaan di kantor. Secara fisik, kita sudah keluar dari gedung. Laptop sudah ditutup, ID card sudah dilepas, bahkan mungkin perjalanan pulang sudah dimulai. Tapi kepala? Masih di meja kerja. Masih memikirkan email yang belum dibalas, pekerjaan yang belum selesai, meeting besok, atau percakapan dengan rekan kerja yang entah kenapa masih terputar-putar di kepala.
Ada Hari-Hari Ketika Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri Terasa Terlalu Melelahkan
Senin, 05 Oktober 2026
Belakangan ini aku sering berpikir tentang satu kalimat yang terlalu sering kita dengar:
“Be the best version of yourself.”
Jadilah versi terbaik dirimu.
Kedengarannya bagus.
Inspiratif.
Positif.
Cocok dijadikan caption Instagram dengan foto matahari terbenam.
Kita Sering Sedih Bukan Karena Kehilangan, Tapi Karena Ekspektasi
Kamis, 01 Oktober 2026
Pernah nggak kamu merasa sangat kecewa terhadap seseorang, padahal sebenarnya orang itu tidak melakukan sesuatu yang benar-benar salah?
Dia hanya tidak melakukan apa yang kita harapkan.
Tidak menghubungi.
Tidak bertanya.
Tidak datang.
Tidak mengerti.
Tidak bereaksi seperti yang kita bayangkan.
Dan tiba-tiba kita sedih.
Bukan karena sesuatu benar-benar hilang.
Tapi karena sesuatu yang kita harapkan terjadi ternyata tidak terjadi.
Shift Kedua Seorang Working Mom Dimulai Setelah Pulang Kantor
Jumat, 25 September 2026
Ada satu hal yang baru benar-benar aku pahami setelah menjadi working mom:
Pulang kantor ternyata bukan berarti selesai bekerja.
Kadang justru itu tanda bahwa shift kedua akan segera dimulai.
Jam kerja di kantor mungkin secara resmi selesai pukul lima sore.
Tapi setelah itu?
Masih ada kehidupan lain yang menunggu.
Bukan Tidak Bersyukur, Aku Cuma Sedang Lelah
Senin, 21 September 2026
Pernah nggak sih, ketika kita bilang, “Aku capek,” kita malah buru-buru merasa bersalah?
Seolah-olah setelah mengeluh tentang lelah, kita harus segera menambahkan kalimat pembelaan.
“Aku sebenarnya bersyukur kok.”
“Masih banyak orang yang hidupnya lebih susah.”
“Aku tahu ini rezeki.”
“Aku cuma lagi capek aja.”
Kadang yang Kita Butuhkan Bukan Jawaban, Tapi Berdamai dengan Kenyataan
Jumat, 18 September 2026
Ada beberapa pertanyaan dalam hidup yang mungkin tidak pernah mendapatkan jawaban yang benar-benar memuaskan.
“Kenapa harus aku?”
“Kenapa dia pergi?”
“Kenapa sesuatu yang sudah aku perjuangkan tidak berhasil?”
“Kenapa orang yang kita percaya justru mengecewakan?”
“Kenapa hidup harus berjalan seperti ini?”
Belajar Tidak Merasa Menjadi Pusat dari Semua Cerita
Kamis, 17 September 2026
Pernah nggak sih kita melihat sebuah postingan, membaca sebuah quote, atau mendengar seseorang mengatakan sesuatu, lalu tiba-tiba merasa...
“Ini pasti tentang aku.”
Padahal belum tentu.
Kita Tidak Harus Disukai Semua Orang
Senin, 14 September 2026
Ada satu fase dalam hidup ketika kita mulai lelah berusaha membuat semua orang menyukai kita.
Dulu rasanya penting sekali.
Kalau ada yang tidak suka, kita kepikiran.
Kalau ada yang salah paham, kita ingin menjelaskan.
Kalau ada yang kecewa, kita merasa bersalah.
Ada Orang yang Memang Cukup Dikenal, Tidak Perlu Dipertahankan
Kamis, 10 September 2026
Ada orang yang datang ke hidup kita untuk tinggal.
Ada yang datang untuk mengajarkan sesuatu.
Ada yang datang untuk menemani satu fase.
Dan ada juga yang ternyata memang hanya cukup dikenal.
Tidak perlu dipertahankan.
Kenapa Working Mom Sering Merasa Harus Bisa Semuanya?
Jumat, 04 September 2026
Ada satu penyakit tidak tertulis yang sering dialami working mom.
Namanya:
“Aku harus bisa semuanya.”
Harus profesional di kantor.
Harus menjadi ibu yang perhatian.
Harus menjadi pasangan yang baik.
Harus punya rumah yang rapi.
Harus bisa mengurus anak.
Harus tetap punya waktu untuk keluarga.
Harus menjaga penampilan.
Harus sehat.
Harus produktif.
Dan kalau masih punya waktu...
mungkin harus punya waktu untuk diri sendiri juga.
Masalahnya, waktu dua puluh empat jam sehari tetap saja cuma dua puluh empat jam.
Kita bisa mengatur jadwal.
Bisa membuat to-do list.
Bisa menggunakan aplikasi.
Tapi kita tidak bisa menambahkan dua puluh empat jam lagi ke dalam sehari.
Lalu kenapa working mom sering merasa harus bisa semuanya?
Karena kita terbiasa menjadi “yang bisa diandalkan”
Sejak menjadi ibu, banyak perempuan otomatis mengambil peran sebagai pusat koordinasi keluarga.
Anak butuh apa?
Kita tahu.
Jadwal sekolah kapan?
Kita ingat.
Ada acara keluarga?
Kita pikirkan.
Stok kebutuhan rumah habis?
Kita yang sadar duluan.
Bahkan kadang suami bertanya,
“Besok anak ada kegiatan apa?”
Dan kita bisa menjawab lengkap dengan jam, lokasi, pakaian, sampai barang yang harus dibawa.
Padahal...
kok semua informasi keluarga kayaknya tersimpan di kepala ibu?
Belum selesai urusan rumah, pekerjaan kantor juga menunggu.
Ada email.
Ada meeting.
Ada deadline.
Ada target.
Ada masalah yang harus diselesaikan.
Dan somehow kita tetap merasa harus memberikan performa terbaik di semuanya.
Ketika istirahat justru membuat kita merasa bersalah
Yang menarik, working mom sering kali tidak kesulitan melakukan banyak hal.
Yang sulit justru berhenti.
Saat ada waktu kosong, kita merasa harus mengisinya.
Kalau anak tidur, kita membereskan rumah.
Kalau weekend, kita mencuci.
Kalau sedang tidak ada pekerjaan kantor, kita menyelesaikan pekerjaan domestik.
Kalau akhirnya duduk dan tidak melakukan apa-apa...
mulai merasa bersalah.
“Harusnya aku melakukan sesuatu.”
Padahal tubuh sedang bilang:
“Aku cuma ingin istirahat.”
Kita perlu memahami bahwa istirahat bukan kemalasan.
Istirahat adalah kebutuhan.
Karena seorang ibu yang terus dipaksa berfungsi tanpa jeda bukan menjadi lebih hebat.
Dia hanya semakin dekat dengan titik kelelahan.
Tidak harus semuanya dikerjakan sendiri
Mungkin sudah waktunya working mom berhenti menganggap meminta bantuan sebagai tanda ketidakmampuan.
Rumah bukan tanggung jawab satu orang.
Mengurus anak bukan tugas satu orang.
Dan menjaga keluarga bukan berarti seorang ibu harus kehilangan dirinya sendiri.
Kalau bisa dibagi, ya dibagi.
Kalau bisa didelegasikan, ya delegasikan.
Kalau ada sesuatu yang sebenarnya tidak harus dilakukan hari ini, mungkin memang bisa ditunda.
Karena tidak semua hal harus selesai sekarang juga.
Kadang rumah sedikit berantakan tidak akan menghancurkan dunia.
Makan malam sederhana juga tetap makan malam.
Laundry menumpuk sehari bukan kiamat.
Dan anak tidak membutuhkan ibu yang sempurna.
Anak membutuhkan ibu yang hadir.
Working mom juga berhak punya hidup sendiri
Ada satu hal yang sering terlupakan.
Sebelum menjadi ibu, kita adalah seorang perempuan.
Punya kesukaan.
Punya mimpi.
Punya teman.
Punya waktu sendiri.
Punya hal-hal yang membuat kita bahagia.
Menjadi ibu tidak berarti semua itu harus hilang.
Menjadi working mom juga bukan berarti hidup kita hanya terdiri dari pekerjaan dan keluarga.
Kita boleh punya waktu untuk minum kopi sendirian.
Boleh jalan dengan teman.
Boleh membaca buku.
Boleh menonton drama sampai malam.
Boleh punya hobi.
Boleh melakukan sesuatu hanya karena kita menyukainya.
Tanpa harus mencari alasan produktif di baliknya.
Karena tidak semua yang kita lakukan harus punya manfaat untuk orang lain.
Ada hal-hal yang boleh dilakukan hanya karena kita menikmatinya.
Kita tidak harus menjadi perempuan yang bisa semuanya
Mungkin sudah waktunya mengganti kalimat:
“Aku harus bisa semuanya.”
Menjadi:
“Aku akan melakukan yang memang penting, dan aku akan meminta bantuan untuk sisanya.”
Karena menjadi working mom bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling kuat.
Kita tidak mendapatkan medali karena paling banyak mengorbankan diri.
Dan anak-anak kita juga tidak membutuhkan ibu yang kehabisan tenaga demi memastikan semuanya sempurna.
Mereka hanya membutuhkan ibu yang masih punya energi untuk memeluk mereka.
Untuk mendengarkan cerita mereka.
Untuk tertawa bersama.
Untuk hadir.
Jadi kalau hari ini kamu merasa tidak sanggup mengurus semuanya...
mungkin masalahnya bukan kamu kurang hebat.
Mungkin memang terlalu banyak yang selama ini kamu pikul sendirian.
Dan kamu tidak harus terus begitu.
Tentang Hal-Hal yang Dulu Kita Kejar, Tapi Sekarang Sudah Tidak Penting
Selasa, 01 September 2026
Ada banyak hal yang dulu rasanya penting sekali.
Sampai-sampai kita rela capek, kehilangan waktu tidur, menahan kecewa, bahkan membandingkan hidup sendiri dengan hidup orang lain hanya untuk mendapatkannya.
Drama SPMB 2026: Perjuangan Panjang Mengantar Anak ke SMA Negeri Unggulan
Jumat, 28 Agustus 2026
Ada cerita yang ternyata butuh waktu untuk dituliskan.
Bukan karena aku lupa, justru karena masih terlalu banyak rasa yang tertinggal setelah semuanya selesai.
Kurang lebih sebulan setelah anakku akhirnya diterima di SMA Negeri Unggulan di Jakarta melalui Jalur Domisili SPMB 2026, barulah aku merasa cukup tenang untuk menuliskan perjalanan ini.
Ketika Vertigo Menyerangku, Oke, Saatnya Hidup Lebih Sehat Lagi Demi Diri Sendiri, Anak dan Suami
Senin, 24 Agustus 2026
Ada kalanya tubuh memberi kita peringatan dengan cara yang tidak bisa diabaikan.
Bukan lewat reminder.
Bukan lewat notifikasi.
Bukan lewat kalender yang penuh.
Tapi lewat satu kondisi yang membuat kita akhirnya berhenti sejenak dan berpikir,
“Oke... mungkin sudah waktunya aku lebih memperhatikan diri sendiri.”
Aku Sudah Tidak Ingin Menjelaskan Diriku kepada Semua Orang
Rabu, 19 Agustus 2026
Dulu aku pikir, kalau ada orang yang salah memahami kita, berarti kita harus menjelaskan.
Kalau ada yang salah menilai, kita harus meluruskan.
Kalau ada yang menganggap kita begini padahal kenyataannya begitu, kita merasa perlu memberikan penjelasan panjang lebar.
Karena rasanya tidak nyaman ketika orang lain punya cerita tentang kita yang tidak sesuai kenyataan.
Apalagi kalau kita tahu bahwa cerita itu tidak benar.
Ada Fase dalam Hidup Ketika Kita Cuma Ingin Hidup yang Biasa-Biasa Saja
Jumat, 07 Agustus 2026
Dulu, rasanya hidup harus selalu punya target.
Harus ada yang dikejar. Harus ada yang dicapai. Harus ada sesuatu yang bisa dibanggakan.
Seporsi Adab yang Sering Terlupakan: Tentang Bertanggung Jawab atas Luka yang Kita Berikan
Jumat, 31 Juli 2026
Sering kali kita fokus pada niat baik, tetapi lupa bahwa orang lain merasakan dampak dari tindakan kita. Yuk belajar tentang adab, empati, dan kedewasaan dalam menyikapi konflik melalui refleksi sederhana yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Bukan Kata-Kara Kasar, Justru Pengabaian yang Paling Menyakitkan
Kamis, 30 Juli 2026
Aku pernah ada di fase ketika memilih diam, bukan karena nggak punya cerita. Justru karena terlalu sering merasa percuma bercerita. Setiap kali mencoba membuka hati, jawabannya hampir selalu sama. "Jangan lebay." "Udah, nanti juga lewat." Lama-lama aku berhenti berharap orang lain mengerti. Aku mulai meyakinkan diri kalau menyimpan semuanya sendiri mungkin memang lebih mudah. Padahal, yang sebenarnya terjadi bukan aku baik-baik saja. Aku hanya lelah merasa tidak dianggap.
Aku [PERNAH] Kehilangan Diriku Setelah Menjadi Ibu, dan Butuh Waktu untuk Menemukannya Kembali
Rabu, 29 Juli 2026
Dulu, kalau ada yang bertanya tentang diriku, aku bisa menjawab dengan mudah.
Aku suka menulis.
Aku suka menghabiskan waktu di kedai kopi sambil membawa laptop atau buku.
Aku suka berjalan tanpa tujuan, hanya untuk menikmati sore.
Aku juga suka bermimpi. Tentang banyak hal yang ingin kulakukan suatu hari nanti.
Kenapa Working Mom Selalu Merasa Bersalah Saat Istirahat?
Jumat, 24 Juli 2026
Hari itu akhirnya datang juga.
Sabtu.
Hari yang selama ini selalu kutunggu karena berpikir, "Akhirnya bisa istirahat."
Tapi lucunya, ketika hari itu benar-benar tiba, aku justru tidak benar-benar beristirahat.
Pagi dimulai dengan mencuci baju, menyiapkan sarapan, merapikan rumah, mengecek pekerjaan yang masih tertunda, membalas beberapa pesan WhatsApp, lalu memastikan semua kebutuhan keluarga sudah terpenuhi.
Burnout Itu Nyata. Aku Pernah Mengalaminya dan Mungkin Kamu Juga ...
Rabu, 22 Juli 2026
Burnout bukan sekadar rasa lelah biasa. Simak pengalaman aku sebagai working mom mengenali tanda-tanda burnout, penyebabnya, dan cara perlahan bangkit tanpa menyalahkan diri sendiri.





















![Aku [PERNAH] Kehilangan Diriku Setelah Menjadi Ibu, dan Butuh Waktu untuk Menemukannya Kembali Aku [PERNAH] Kehilangan Diriku Setelah Menjadi Ibu, dan Butuh Waktu untuk Menemukannya Kembali](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFZ0fhZbIJ2tyD5ISoADfAvQVpVIKUtzQj3Y0MqzvXaiE39fkhiG0KU_TFJDXpR3dqBC3Tz3o_kJwm9uTTa_pWLWCNhz8Y75F71qQlCYXyxn6jCiFsVxawfNfb0Kjd_6iV4imDd0W3LLKyv1zP3Wy85SM0pipz3kQj8V7A3-C77Qm9_QeUPNlJhqLSIeQ/w512-h640/Aku%20%5BPERNAH%5D%20Kehilangan%20Diriku%20Setelah%20Menjadi%20Ibu,%20dan%20Butuh%20Waktu%20untuk%20Menemukannya%20Kembali%201.png)

