Pernah nggak sih, ketika kita bilang, “Aku capek,” kita malah buru-buru merasa bersalah?
Seolah-olah setelah mengeluh tentang lelah, kita harus segera menambahkan kalimat pembelaan.
“Aku sebenarnya bersyukur kok.”
“Masih banyak orang yang hidupnya lebih susah.”
“Aku tahu ini rezeki.”
“Aku cuma lagi capek aja.”
Lucu ya.Seolah-olah rasa lelah harus meminta izin kepada rasa syukur untuk boleh ada.
Padahal bukankah kita bisa bersyukur dan lelah dalam waktu yang bersamaan?
Aku bisa bersyukur punya pekerjaan, tapi tetap merasa lelah setelah seharian bekerja.
Aku bisa bersyukur punya keluarga, tapi tetap membutuhkan waktu sendirian.
Aku bisa mencintai anakku sepenuh hati, tapi tetap merasa kewalahan menghadapi rutinitas sebagai ibu.
Dan aku bisa sangat menyayangi hidupku, tanpa harus selalu menyukai setiap bagian di dalamnya.
Mungkin ini yang baru aku pahami setelah semakin dewasa.
Rasa syukur tidak menghapus rasa lelah.
Keduanya bisa hidup berdampingan.
Working Mom Juga Manusia
Menjadi working mom sering kali membuat kita seperti mempunyai daftar tanggung jawab yang tidak pernah benar-benar selesai.
Pagi dimulai dengan menyiapkan segala sesuatu sebelum berangkat kerja.
Memastikan pekerjaan kantor berjalan.
Membalas pesan.
Meeting.
Deadline.
Pulang kantor.
Lalu kehidupan di rumah menunggu.
Makan malam.
Beres-beres.
Menanyakan kabar anak.
Mengecek kebutuhan rumah.
Memikirkan besok harus melakukan apa.
Dan entah kenapa, meskipun tubuh sudah sampai rumah, otak kita sering kali masih berada di kantor.
Besok harus presentasi.
Ada pekerjaan yang belum selesai.
Ada email yang belum dibalas.
Ada urusan rumah yang belum dibereskan.
Ada anak yang butuh perhatian.
Ada pasangan yang ingin diajak bicara.
Lalu malam datang.
Kita tidur.
Besok bangun lagi.
Begitu terus.
Sampai suatu hari kita sadar, ternyata yang paling sering kita tanyakan kepada semua orang adalah, “Kamu sudah makan?”
Tapi kita sendiri hampir lupa kapan terakhir kali bertanya kepada diri sendiri:
“Aku sebenarnya baik-baik saja nggak?”
Tidak Semua Lelah Berarti Tidak Bersyukur
Kadang kita memang hanya lelah.
Sesederhana itu.
Tidak sedang membenci pekerjaan.
Tidak sedang menyesali menjadi seorang ibu.
Tidak sedang tidak bersyukur dengan keluarga.
Tidak sedang ingin meninggalkan semuanya.
Kita cuma butuh berhenti sebentar.
Duduk.
Minum kopi tanpa tergesa-gesa.
Menonton sesuatu yang kita suka.
Tidur lebih awal.
Atau bahkan hanya diam selama beberapa menit tanpa ada yang memanggil nama kita.
Sayangnya, banyak perempuan tumbuh dengan keyakinan bahwa istirahat harus diperoleh setelah semua pekerjaan selesai.
Masalahnya?
Pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai.
Ada saja yang harus dilakukan.
Ada saja yang bisa diperbaiki.
Ada saja yang membutuhkan kita.
Kalau kita terus menunggu semuanya selesai untuk beristirahat, mungkin kita tidak akan pernah benar-benar beristirahat.
Aku Tidak Harus Selalu Kuat
Dulu aku mungkin berpikir bahwa menjadi perempuan kuat berarti bisa melakukan semuanya sendiri.
Sekarang aku justru merasa sebaliknya.
Perempuan kuat bukan perempuan yang tidak pernah lelah.
Perempuan kuat adalah perempuan yang berani mengakui bahwa dirinya lelah.
Berani meminta bantuan.
Berani mengatakan tidak.
Berani mengambil jeda.
Berani mengakui bahwa hari ini kapasitasnya sedang tidak sebanyak biasanya.
Karena kita manusia.
Bukan mesin.
Dan menjadi working mom bukan berarti kita harus menjadi superhero setiap hari.
Ada hari ketika kita produktif.
Ada hari ketika kita hanya berhasil menyelesaikan hal-hal paling penting.
Ada hari ketika pekerjaan berjalan lancar.
Ada hari ketika rasanya semua hal datang bersamaan.
Dan semuanya tetap valid.
Mungkin Kita Tidak Butuh Lebih Banyak Motivasi
Kadang-kadang yang kita butuhkan bukan kalimat:
“Semangat!”
“Pasti bisa!”
“Kamu kuat kok.”
Mungkin sesekali kita hanya butuh seseorang berkata:
“Kalau capek, istirahat dulu.”
Tidak ada target.
Tidak ada tuntutan.
Tidak ada rasa bersalah.
Hanya izin untuk menjadi manusia biasa.
Karena hidup bukan perlombaan tentang siapa yang paling kuat bertahan.
Dan motherhood bukan kompetisi siapa yang paling banyak berkorban.
Kita tidak perlu membuktikan cinta dengan menghabiskan diri sendiri.
Anak-anak kita tidak membutuhkan ibu yang selalu sempurna.
Keluarga kita juga tidak membutuhkan perempuan yang selalu tersedia 24 jam.
Mereka membutuhkan kita yang sehat, hadir, dan masih punya energi untuk menikmati hidup bersama mereka.
Jadi kalau hari ini kamu sedang lelah, tidak apa-apa.
Kamu tidak kurang bersyukur.
Kamu tidak gagal.
Kamu tidak lemah.
Kamu cuma sedang lelah.
Dan mungkin, untuk sekali ini, kamu tidak perlu menjelaskan rasa lelah itu kepada siapa-siapa.
Istirahatlah.
Besok kita lanjut lagi.
Toh hidup tidak akan selesai hanya karena hari ini kita memilih berhenti sebentar.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)