Andiyani Achmad

▼

Rabu, 07 Oktober 2026

Rabu Budaya: Kenapa Merapi, Keraton, dan Laut Selatan Seolah Berada dalam Satu Garis?

Kalau sedang berada di Yogyakarta, coba bayangkan satu garis panjang yang membentang dari utara ke selatan. Di satu ujung ada Gunung Merapi. Di tengahnya berdiri Keraton Yogyakarta. Lalu garis itu terus bergerak ke selatan hingga Laut Selatan.

Rabu Budaya Kenapa Merapi, Keraton, dan Laut Selatan Seolah Berada dalam Satu Garis

Sekilas mungkin terdengar seperti kebetulan geografis.

Tapi ternyata, bagi Yogyakarta, garis itu bukan sekadar urusan peta.

Di baliknya ada filosofi tentang kehidupan, hubungan manusia dengan alam, bahkan tentang dari mana manusia berasal dan ke mana akhirnya akan kembali.

Inilah yang dikenal sebagai Sumbu Filosofi atau Sumbu Kosmologis Yogyakarta.

Rabu Budaya Kenapa Merapi, Keraton, dan Laut Selatan Seolah Berada dalam Satu Garis

Bukan Sekadar Garis Lurus

Sumbu ini dirancang sejak pembangunan Yogyakarta pada masa Sultan Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengku Buwono I pada 1755. Keraton ditempatkan sebagai bagian penting dari tata ruang kota yang menghubungkan kawasan Gunung Merapi di utara dengan Laut Selatan di selatan.

Namun, ada sedikit hal yang perlu diluruskan.

Ketika kita mendengar “Merapi–Keraton–Laut Selatan berada dalam satu garis”, bukan berarti ketiganya harus dibayangkan sebagai tiga titik yang benar-benar tersambung seperti menggunakan penggaris di atas peta.

Yang dimaksud adalah sumbu imajiner atau sumbu kosmologis, sebuah konsep tata ruang yang membawa makna filosofis dan budaya.

Di dalam kawasan kota, sumbu ini juga ditandai oleh sejumlah bangunan dan ruang penting, mulai dari Panggung Krapyak di selatan, Keraton Yogyakarta di tengah, hingga Tugu Pal Putih di utara.

Jadi, kalau selama ini kita mengenal Malioboro sebagai tempat jalan-jalan, belanja, atau berburu kuliner, ternyata kawasan ini juga berada dalam bagian dari rangkaian tata ruang yang punya cerita jauh lebih dalam.

Rabu Budaya Kenapa Merapi, Keraton, dan Laut Selatan Seolah Berada dalam Satu Garis

Lalu, Apa Hubungannya dengan Merapi dan Laut Selatan?

Dalam kosmologi Jawa, alam bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Manusia dipandang sebagai bagian dari alam semesta yang lebih besar.

Gunung Merapi berada di sisi utara dan Laut Selatan di sisi selatan. Keduanya menjadi bagian penting dalam simbolisme sumbu kosmologis Yogyakarta.

UNESCO menjelaskan bahwa sumbu ini menghubungkan Gunung Merapi dan Samudra Hindia dengan Keraton sebagai pusatnya. Gunung Merapi dikaitkan dengan tempat para penjaga spiritual, sementara Laut Selatan memiliki keterkaitan dengan sosok Ratu Laut Selatan dalam kosmologi setempat.

Keraton kemudian berada di tengah-tengahnya.

Bukan cuma sebagai pusat pemerintahan kerajaan, tetapi juga sebagai ruang yang mempertemukan manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual.

Rabu Budaya Kenapa Merapi, Keraton, dan Laut Selatan Seolah Berada dalam Satu Garis

Dari Mana Manusia Berasal dan Ke Mana Akan Kembali?

Bagian ini menurutku justru yang paling menarik.

Dalam filosofi Jawa ada istilah sangkan paraning dumadi, yang kurang lebih berbicara tentang asal-usul manusia dan tujuan akhirnya.

Konsep ini tergambar dalam hubungan antara Panggung Krapyak, Keraton, dan Tugu.

Panggung Krapyak di selatan hingga Keraton menggambarkan proses asal dan perjalanan kehidupan manusia. Sementara arah Keraton menuju Tugu menggambarkan manusia yang menjalani kehidupannya, bergerak menuju tujuan dan kesempurnaan hidup.

Jadi, tata ruang kota yang kita lewati sehari-hari ternyata bisa dibaca seperti sebuah perjalanan hidup.

Ada awal.

Ada proses.

Ada tujuan.

Dan ada kesadaran bahwa manusia tidak hidup sendirian.

Rabu Budaya Kenapa Merapi, Keraton, dan Laut Selatan Seolah Berada dalam Satu Garis

Merapi, Keraton, Laut Selatan: Hubungan Manusia dan Alam

Filosofi sumbu ini juga berbicara tentang keseimbangan.

Manusia berada di tengah. Di sekelilingnya ada alam yang harus dihormati dan dijaga.

Konsep Hamemayu Hayuning Bawana menjadi salah satu nilai penting dalam filosofi Yogyakarta. Sederhananya, manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga kehidupan agar tetap harmonis dan baik.

Makanya, Merapi bukan cuma gunung yang indah untuk difoto.

Laut Selatan bukan cuma tempat menikmati sunset.

Dan Keraton bukan sekadar destinasi wisata untuk melihat bangunan bersejarah.

Ketiganya menjadi bagian dari sebuah cara pandang tentang bagaimana manusia menempatkan dirinya di tengah alam dan kehidupan.

Rabu Budaya Kenapa Merapi, Keraton, dan Laut Selatan Seolah Berada dalam Satu Garis

Dari Filosofi Menjadi Warisan Dunia

Menariknya, cerita tentang tata ruang Yogyakarta ini bukan hanya dianggap penting oleh masyarakat lokal.

Pada 18 September 2023, UNESCO menetapkan The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks sebagai Warisan Budaya Dunia. Kawasan yang diakui tersebut mencakup rangkaian ruang, bangunan, monumen, serta tradisi yang berada di sepanjang sumbu kosmologis Yogyakarta.

Artinya, jalan yang mungkin selama ini kita lewati untuk kulineran, belanja, atau sekadar menikmati suasana Jogja ternyata menyimpan lapisan cerita yang jauh lebih panjang.

Ada sejarah.

Ada arsitektur.

Ada tradisi.

Dan ada filosofi kehidupan.

Mungkin itu juga yang membuat Yogyakarta terasa berbeda.

Kita bisa datang sebagai wisatawan, memotret Tugu, berjalan di Malioboro, mampir ke Keraton, lalu pulang membawa oleh-oleh.

Tapi kalau sedikit melambat dan mau melihat lebih dalam, kita mungkin akan menemukan bahwa kota ini sejak awal memang dirancang untuk bercerita.

Tentang manusia.

Tentang alam.

Tentang kehidupan.

Dan tentang perjalanan kita dari sangkan menuju paran.

Rabu Budaya kali ini akhirnya membawa kita pada satu kesimpulan sederhana: di Yogyakarta, jalan bukan cuma tempat untuk berpindah. Kadang, jalan juga menyimpan filosofi tentang bagaimana manusia seharusnya menjalani hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)