Dulu, rasanya hidup harus selalu punya target.
Harus ada yang dikejar. Harus ada yang dicapai. Harus ada sesuatu yang bisa dibanggakan.
Punya target karier. Punya target finansial. Punya rumah. Punya tabungan. Punya pengalaman baru. Punya pencapaian yang kalau diceritakan kepada orang lain, kita bisa bilang, “Yes, akhirnya berhasil juga.”
Bahkan kadang kita sibuk sekali membandingkan hidup sendiri dengan hidup orang lain.
Melihat teman sudah punya ini, kita merasa tertinggal.
Melihat orang lain berhasil mencapai itu, kita merasa harus mengejar juga.
Sampai suatu hari, entah sejak kapan, definisi “hidup yang baik” itu berubah.
Aku mulai merasa...
Kayaknya aku cuma ingin hidup yang biasa-biasa saja.
Bukan karena sudah tidak punya mimpi.
Bukan juga karena menyerah.
Mungkin karena akhirnya kita mulai mengerti bahwa hidup bukan perlombaan yang harus selalu dimenangkan.
Ada fase ketika kita tidak lagi terlalu tertarik membuktikan sesuatu kepada siapa pun.
Tidak harus terlihat sukses.
Tidak harus selalu produktif.
Tidak harus selalu punya cerita menarik.
Kadang pulang kerja tepat waktu saja sudah cukup menyenangkan.
Bisa duduk sambil minum kopi tanpa memikirkan banyak hal sudah terasa seperti kemewahan.
Punya waktu ngobrol dengan keluarga.
Melihat anak tumbuh sehat.
Bangun pagi tanpa merasa sedang dikejar-kejar kehidupan.
Bisa tidur dengan tenang.
Sesederhana itu.
Dan lucunya, dulu mungkin kita menganggap semua itu terlalu biasa.
Kita sibuk mencari kebahagiaan yang besar sampai lupa bahwa ternyata sebagian besar kebahagiaan justru datang dari hal-hal kecil yang berulang setiap hari.
Mungkin karena semakin dewasa, kita semakin tahu bahwa hidup tidak selalu harus penuh dengan kejutan.
Ada masa ketika drama terasa melelahkan.
Konflik terasa tidak worth it.
Validasi orang lain terasa tidak penting.
Dan pertemanan yang ramai tidak selalu lebih menyenangkan dibandingkan beberapa orang yang benar-benar bisa membuat kita nyaman menjadi diri sendiri.
Kita mulai belajar memilih.
Mana yang perlu diperjuangkan.
Mana yang cukup dilepaskan.
Mana yang harus dijelaskan.
Dan mana yang ternyata tidak perlu dijelaskan sama sekali.
Bukan karena kita menjadi cuek.
Tapi karena energi kita mulai punya harga.
Kita sadar bahwa tidak semua hal pantas mendapatkan respons.
Tidak semua komentar harus dibalas.
Tidak semua salah paham harus diluruskan.
Dan tidak semua orang harus mengerti kita.
Ada ketenangan tertentu ketika kita berhenti memaksakan hidup agar terlihat baik-baik saja di mata orang lain.
Kita mulai menjalani hidup sesuai dengan apa yang benar-benar kita butuhkan.
Bukan apa yang menurut orang lain seharusnya kita punya.
Mungkin inilah salah satu bentuk kedewasaan yang jarang dibicarakan.
Bukan tentang semakin banyak pencapaian.
Tapi tentang semakin sedikit hal yang perlu kita buktikan.
Kita mulai memahami bahwa hidup yang tenang bukan berarti hidup yang gagal.
Rumah yang sederhana bukan berarti tidak berhasil.
Rutinitas yang itu-itu saja bukan berarti membosankan.
Dan memilih kehidupan yang lebih sederhana bukan berarti kehilangan ambisi.
Bisa jadi justru kita sudah menemukan apa yang sebenarnya kita cari selama ini.
Rasa cukup.
Karena pada akhirnya, setelah bertahun-tahun mengejar banyak hal, kita mungkin akan sampai pada satu titik ketika pertanyaannya bukan lagi:
“Apa lagi yang harus aku punya?”
Tapi berubah menjadi:
“Apa yang sebenarnya sudah cukup untuk membuatku bahagia?”
Dan kalau jawabannya ternyata sederhana...
Ya sudah.
Tidak apa-apa.
Mungkin memang ada fase dalam hidup ketika kita cuma ingin hidup yang biasa-biasa saja.
Bangun pagi, bekerja, pulang, makan bersama keluarga, ngobrol sebentar, minum kopi, tertawa karena hal receh, lalu tidur.
Besok mengulang lagi.
Tidak spektakuler.
Tidak selalu Instagramable.
Tapi tenang.
Dan ternyata, setelah melewati begitu banyak hal, tenang adalah salah satu bentuk bahagia yang paling mahal.





Terkadang hidup sederhana itu sangat menyenangkan. Boleh punya cita-cita tinggi tapi jangan menjadi sosok yang ambisius. Jalanin saja hidup ini dengan penuh rasa syukur dan semangat mencari rezeki.
BalasHapusKadang kepikiran kayak begini juga, apalagi setelah berkeluarga kan, karena memang ada beberapa hal yang perlu dikompromikan. Tapi di sisi lain kadang kalau baca soal "harusnya berkeluarga nggak menghalangi dalam menggapai mimpi-mimpi kita" itu tuh kayak merasa apakah aku jangan-jangan menghalangi potensi diri sendiri buat berkembang, ya? Padahal potensi itu sudah dikaruniakan pada kita. Yah kata kuncinya mungkin keseimbangan, ya. Kita yang lebih tahu bagaimana untuk mengenali tanda-tanda kapan perlu mengejar target, dan kapan harus merasa cukup.
BalasHapusMemang paling enak adalah hidup tenang. Terlalu mengejar mimpi juga jadinya cape sendiri kalau tidak diimbangi dengan rasa tenang. Mungkin itu juga ya untuk orang-orang di usia 40 tahun ke atas sudah mulai memilih less drama. Karena mulai menyadari hidup tenang itu nikmat.
BalasHapusKayaknya memang hidup itu selalu ada fasenya masing-masing yaa..
BalasHapusGak bisa langsung menuju "kedewasaan" tapi kudu melewati fase-fase seperti ini, baru Allah beri kemudahan untuk memahami hakikat hidup yang bikin hati tenang, bukanlah segala pencapaian itu, melainkan hal-hal sederhana yang kini bisa dirasakan... ketenangan.
Semoga sehat-sehat selalu, ka Aiee..
Suka banget sama tulisan refleksi ka Aie... Insightful.
Hidup itu amat dinamis yaaa. Setiap fase kita kayak punya pemikiran yang beda-beda. Aku masih di fase hidup pengen punya rumah, hidup pengen ada pencapaian, dan punya pekerjaan yang lebih jelas kedepannya.
BalasHapusMungkin, suatu hari nanti aku akan ada di fase yang mbak alami juga. Peluk virtual dan tetap semangat yaaa. Semoga hidup yang biasa-biasa aja pun bikin bahagia banget.
Baca tulisan Mba Aie rasanya nyessss banget mba.. Bener banget mba, makim berumur gini aku juga makin ngerasa ya udahlah.. Bukannya nyerah, bukannya nggak mau mencapai sesuatu lg bahkan masih banyak keinginan yg mau aku raih tapi ke sini-sini jadi nggak ngoyo dan lebih berserah aja.. :)
BalasHapusNgerasain di fase ini justru setelah usiaku mature, ekonomi gak seacak kadut masa-masa perjuangan, anak-anak sudah semakin besar, sehingga tujuan fokus pada keluarga dan kehidupan pribadi secara personal seperti kedekatan pada Allah SWT
BalasHapusCita-cita kalo nanti panjang umur dan udah tua, pengen nerapin konsep slow living. Diem di rumah yang jauh dari keramaian jalan, dengan keseharian ngasih makan ikan di kolam atau memanen sayuran di belakang rumah..
BalasHapusMakin bertambah umur (eh harusnya berkurang ya?) berasa banget gak lagi terlalu mengejar hal yang fantastis. Introspeksi lagi untuk belajar cukup, tapi selalu merasa kurang dan masih terus belajar untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Belajar lebih banyak bersyukur juga
BalasHapusMbak Aie... ini kegalauanku, katanya sih emang normal galau di usia 40-an (atau jelang 40). Mau jadi orang biasa aja trus hidup tenang. Eh diingetin sama konsep fitrah based life di mana rasul di usia 40 itu malah baru dapat wahyu, baru diangkat jadi nabi dan rasul untuk berdakwah. Jadi usia segini tuh lebih ke tahu mana yang prioritas untuk gas pol ibadah.
BalasHapus