Ada satu fase dalam hidup ketika kita mulai lelah berusaha membuat semua orang menyukai kita.
Dulu rasanya penting sekali.
Kalau ada yang tidak suka, kita kepikiran.
Kalau ada yang salah paham, kita ingin menjelaskan.
Kalau ada yang kecewa, kita merasa bersalah.
Kita berusaha menjadi orang yang menyenangkan.
Mengiyakan banyak hal.
Menjaga ucapan.
Menjaga sikap.
Bahkan kadang menahan diri supaya tidak dianggap menyebalkan.
Sampai akhirnya kita sadar:
seberapa baik pun kita, tetap akan ada orang yang tidak suka.
Tidak semua orang akan punya versi yang sama tentang kita
Ada orang yang menganggap kita terlalu pendiam.
Ada yang menganggap kita terlalu banyak bicara.
Ada yang bilang kita terlalu serius.
Ada yang bilang kita terlalu santai.
Kalau kita tegas, dibilang galak.
Kalau terlalu lembut, dibilang mudah dimanfaatkan.
Kalau kita diam, dibilang sombong.
Kalau kita banyak bicara, dibilang cari perhatian.
Lalu kita harus menjadi seperti apa?
Jawabannya:
menjadi diri sendiri dengan tetap punya adab.
Karena tugas kita bukan membuat semua orang nyaman dengan keberadaan kita.
Tugas kita adalah memastikan bahwa kita hidup dengan nilai yang kita percaya.
People pleasing itu melelahkan
Keinginan untuk disukai semua orang bisa membuat kita kehilangan batasan.
Kita mengatakan “iya” padahal ingin mengatakan “tidak”.
Membantu padahal sedang kelelahan.
Datang padahal sebenarnya tidak ingin.
Menahan pendapat karena takut membuat orang kecewa.
Lama-lama kita bukan lagi menjalani hidup.
Kita hanya sibuk mengelola persepsi orang lain tentang diri kita.
Dan itu melelahkan.
Sangat melelahkan.
Karena kita tidak mungkin mengontrol semua persepsi.
Hari ini seseorang suka dengan kita.
Besok dia bisa berubah pikiran.
Kita tidak bisa mengatur itu.
Tidak disukai bukan berarti kita orang jahat
Ini juga penting.
Kadang kita terlalu cepat menganggap bahwa kalau seseorang tidak suka kepada kita, berarti kita melakukan kesalahan.
Padahal tidak selalu begitu.
Bisa jadi kita memang tidak cocok.
Bisa jadi nilai kita berbeda.
Bisa jadi cara berpikir kita berbeda.
Bisa jadi mereka hanya melihat kita dari sudut tertentu.
Dan itu tidak otomatis menjadikan salah satu pihak jahat.
Kita boleh tetap menghormati seseorang meskipun tidak cocok dengannya.
Kita boleh menjaga jarak tanpa harus bermusuhan.
Kita boleh mengatakan tidak tanpa merasa bersalah.
Dan kita boleh memilih lingkungan yang membuat kita merasa aman menjadi diri sendiri.
Fokus pada orang yang memang penting
Daripada sibuk menghitung siapa yang tidak menyukai kita, mungkin lebih baik kita melihat siapa yang tetap ada.
Siapa yang mengenal kita bukan hanya dari satu kesalahan.
Siapa yang tidak buru-buru menghakimi.
Siapa yang tetap mengingat kita bahkan ketika kita tidak sedang memberikan sesuatu.
Siapa yang bisa menegur tanpa merendahkan.
Siapa yang membuat kita tidak perlu berpura-pura.
Orang-orang seperti itulah yang layak mendapatkan energi kita.
Karena hidup terlalu singkat untuk terus menerus mengejar penerimaan dari orang yang bahkan tidak benar-benar mengenal kita.
Dan semakin dewasa, kita mulai paham bahwa diterima semua orang bukan tujuan.
Merasa nyaman dengan diri sendiri jauh lebih penting.
Tentu bukan berarti kita bebas bersikap seenaknya.
Tidak.
Tetap jaga ucapan.
Tetap punya empati.
Tetap menghargai orang lain.
Tetap mau mengakui kesalahan ketika memang salah.
Tapi setelah semua itu kita lakukan...
kalau masih ada yang tidak suka?
Ya sudah.
Itu bagian dari hidup.
Kita tidak harus mengejar semua orang.
Tidak harus menjelaskan semuanya.
Tidak harus mengubah kepribadian hanya supaya diterima.
Karena pada akhirnya, menjadi diri sendiri memang tidak akan membuat kita disukai semua orang.
Tapi setidaknya...
kita tidak kehilangan diri sendiri hanya demi disukai mereka.
Dan menurutku, itu jauh lebih penting.






Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)