RABU | SATU KOTA, SATU CERITA #01: Banyuwangi: Ketika Gandrung Menari dan Sepiring Sego Tempong Bercerita tentang Budaya

Rabu, 02 September 2026

Kalau ada satu hal yang saya suka dari perjalanan ke berbagai kota di Indonesia, itu adalah menemukan bahwa setiap daerah punya “cara sendiri” untuk bercerita.

Ada daerah yang bercerita melalui bangunan tua.

Ada yang melalui kain tradisional.

Ada yang melalui makanan.

Dan Banyuwangi punya cara yang sangat cantik: melalui tari, musik, tradisi, dan makanan yang penuh karakter.

Banyuwangi berada di ujung timur Pulau Jawa dan dikenal sebagai salah satu daerah dengan kekayaan budaya yang sangat kuat.

Salah satu ikon budayanya adalah Tari Gandrung.

Dan dari sinilah cerita budaya Banyuwangi menjadi semakin menarik.

RABU  SATU KOTA, SATU CERITA Banyuwangi Ketika Gandrung Menari dan Sepiring Sego Tempong Bercerita tentang Budaya

Gandrung, Tarian yang Menjadi Identitas Banyuwangi

Tari Gandrung merupakan salah satu kesenian tradisional yang sangat identik dengan Banyuwangi.

Tarian ini pada perkembangannya menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat setempat.

Biasanya penampilan Gandrung tidak hanya menghadirkan penari, tetapi juga musik tradisional yang membuat suasananya terasa hidup.

Yang menarik, Gandrung bukan sekadar pertunjukan untuk wisatawan.

Ia memiliki sejarah dan perjalanan panjang dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi.

Karena itu, ketika melihat sebuah pertunjukan budaya, menurut saya kita tidak cukup hanya mengatakan, “Wah, bagus banget.”

Kita juga perlu bertanya:

Kenapa tarian ini lahir?

Apa maknanya bagi masyarakat?

Bagaimana kesenian ini bisa bertahan sampai sekarang?

Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti itu membuat perjalanan terasa lebih bermakna.

RABU  SATU KOTA, SATU CERITA Banyuwangi Ketika Gandrung Menari dan Sepiring Sego Tempong Bercerita tentang Budaya

Budaya Osing yang Membuat Banyuwangi Berbeda

Banyuwangi juga dikenal dengan keberadaan masyarakat Osing, salah satu kelompok masyarakat yang menjadi bagian penting dari identitas budaya Banyuwangi.

Budaya Osing bisa kita temukan dalam bahasa, tradisi, kesenian, hingga kehidupan masyarakat.

Ini yang membuat Banyuwangi menarik.

Karena saat kita datang ke sebuah daerah, sebenarnya kita tidak hanya sedang mengunjungi sebuah wilayah secara geografis.

Kita sedang masuk ke ruang hidup orang lain.

Dan di sana ada bahasa yang mungkin berbeda.

Ada kebiasaan yang mungkin belum pernah kita temui.

Ada tradisi yang mungkin terasa asing.

Tetapi justru di situlah menariknya Indonesia.

Kita tidak harus selalu sama untuk bisa menjadi satu.

RABU  SATU KOTA, SATU CERITA Banyuwangi Ketika Gandrung Menari dan Sepiring Sego Tempong Bercerita tentang Budaya

Lalu Ada Sego Tempong...

Kalau tadi kita bicara tentang budaya yang ditampilkan lewat tarian, sekarang kita masuk ke budaya yang bisa langsung dirasakan lewat lidah.

Namanya Sego Tempong.

Kuliner khas Banyuwangi ini terdiri dari nasi dan berbagai lauk yang biasanya disajikan bersama sambal yang terkenal pedas.

Nama “tempong” sendiri sering dikaitkan dengan sensasi sambalnya yang seolah-olah membuat wajah terasa “ditampar”.

Dan sebagai orang Indonesia yang hidup berdampingan dengan sambal, saya rasa penjelasan itu cukup masuk akal. 😂

Ada jenis makanan yang kita makan karena lapar.

Tapi ada juga makanan yang kita makan karena pengalaman.

Sego tempong menurut saya masuk kategori kedua.

Pedasnya bukan sekadar pedas.

Ada sensasi yang membuat kita mengingatnya.

RABU  SATU KOTA, SATU CERITA Banyuwangi Ketika Gandrung Menari dan Sepiring Sego Tempong Bercerita tentang Budaya

Banyuwangi dan Cara Menjaga Tradisi

Hal yang membuat saya selalu kagum pada budaya daerah adalah kemampuan mereka untuk beradaptasi tanpa kehilangan identitas.

Tradisi tidak selalu harus ditempatkan di masa lalu.

Tari Gandrung masih bisa dipentaskan.

Kuliner tradisional masih bisa dijual.

Kerajinan lokal masih bisa dikembangkan.

Festival budaya masih bisa digelar.

Dan generasi muda masih bisa dilibatkan.

Menurut saya, inilah tantangan terbesar pelestarian budaya.

Bukan sekadar menjaga agar sesuatu tidak hilang.

Tetapi membuatnya tetap relevan untuk generasi sekarang.

Karena kalau budaya hanya disimpan sebagai benda masa lalu, lama-lama orang akan berhenti mengenalnya.

Budaya harus tetap diberi ruang untuk hidup.

RABU  SATU KOTA, SATU CERITA Banyuwangi Ketika Gandrung Menari dan Sepiring Sego Tempong Bercerita tentang Budaya

Banyuwangi Mengajarkan Bahwa Budaya Itu Bergerak

Setelah pernah datang ke Banyuwangi, saya semakin percaya bahwa perjalanan tidak harus selalu tentang checklist tempat wisata.

Kadang kita justru pulang membawa sesuatu yang tidak terlihat.

Pemahaman baru.

Rasa penasaran.

Atau sekadar kesadaran bahwa Indonesia ternyata jauh lebih kaya daripada yang kita bayangkan.

Banyuwangi mengajarkan saya bahwa budaya itu bergerak.

Ia menari.

Ia bernyanyi.

Ia dimasak.

Ia diwariskan.

Ia berubah mengikuti zaman, tetapi tetap membawa jejak masa lalu.

Dan mungkin itu yang membuat budaya tetap menarik untuk diceritakan.

Karena selama masih ada orang yang mau menari, memasak, membuat kerajinan, memainkan musik, dan menceritakan kisahnya...

budaya itu belum mati.

Ia masih hidup.

Dan tugas kita mungkin sesederhana ikut mengenal, menghargai, dan menceritakannya kembali.

Sebab pada akhirnya, perjalanan bukan cuma soal pernah sampai di mana.

Tapi juga tentang cerita apa yang kita bawa pulang.

11 komentar

  1. salut sama Kabupaten Banyuwangi yang masyarakat dan pemerintahannya bener-bener menjaga terus tradisi atau budaya yang ada, bahkan sampe dibuat festival tahunan, dan menjadi agenda rutin pemerintahan setempat

    dulu waktu cobain nasi tempong pertama kali, astagahh bener-bener kayak ditampar, tapi lama-lama karena sering ke Banyuwangi dan beberapa kali makan sego tempong jadi terbiasa

    BalasHapus
  2. Poin tentang menjaga tradisi agar tetap relevan untuk generasi muda itu dapet banget. Banyuwangi emang salah satu contoh daerah yang sukses mengemas kekayaan budaya Osing dan Tari Gandrung jadi tetap hidup dan bisa dinikmati siapa saja tanpa kehilangan identitasnya.

    BalasHapus
  3. Oo, nasi tempong itu berarti khasnya dari sambalnya yang superpedas berarti, ya. Pernah makan (malah di Bali) tapi belum sempat cari asal-usulnya. Saking pedasnya, nggak berani makan banyak-banyak huhuhu, cuma colek dikit aja pakai lauknya. Andai makannya waktu itu tanpa sambalnya sama sekali, karena nggak kuat misalnya, apa masih sah dibilang "pernah makan nasi tempong" ya, hehehe.

    BalasHapus
  4. Waah pingin ke Banyuwangi lagi deh, dah luamaa banget terakhir ke sana dan ahamdulillah puas bisa ke Baluran, Ijen, dan Pantainya yg bersih itu apa aku lupa namanya..makanyanya juga enak hikss...pingin ngajak anak2 deh ke sana lagiii

    BalasHapus
  5. Jadi Sego tempong tuh asalnya dari banyuwangi ya, wah baru tahu. Btw aku tuh kalau denger kata Banyuwangi kenapa ya g terlintas langsung yang mistis-mistis. Padahal kalau baca tulisan ini kesannya seru banget.

    BalasHapus
  6. baca ini aku jadi penasaran sama banyuwangi nih. Dulu tahunya legenda nama Banyuwangi aja dan dari sini aku jadi tahu hal-hal yang unik dari kota Banyuwangi termasuk masakan khas dan tarian tradisionalnya.

    BalasHapus
  7. Pernah ke Banyuwangi tapi malah lupa lagi
    Terakhir acara yg agak lama diikuti malah di Jember kota kabupaten sebelahnya
    Banyuwangi memiliki tradisi dan budaya tidak sedikit
    Dan itu terkenal sekali
    Generasi muda wajib melestarikan nya nih

    BalasHapus
  8. Bener banget. Perjalanan bawa banyak hal yang bisa kita ingat dan tambah pengetahuan juga. Tari Gandrung, Banyuwangi sangat terkenal dan menjadi ciri khas. Semoga saja tarian ini tetap lestari dari waktu ke waktu dan makanannya pun sangat lezat dan berkarakter. Jadi pengen explore Banyuwangi jujur banget sih. Kangen suasana khas nya.

    BalasHapus
  9. Udah lama nggak mampir ke blog Kak Aie, gaya tulisannya agak beda yaa sekarang... Seru banget main ke Banyuwangi mau coba juga ke sana tahun 2027 kalau masih ada umur bismillah.

    BalasHapus
  10. menarik nih tarian gandrung ini yang jujur saya baru tahu, dan kulinernya mirip nasi sego gak sih? disini ada yang jual tapi saya belum pernah mampir, abis baca artikel ini auto pengen nyobain, hehe

    BalasHapus
  11. setiap daerah juga kota ternyata punya budaya khas nya yaaa, saya baru tahu tari gandrung ini looh, kalau lihat fotonya cantik yaa mirip tari merak kalau di sini

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)