Ada satu alasan kenapa aku selalu menunggu Java Jazz setiap tahun.
Bukan hanya karena lineup musisinya yang selalu menarik, tetapi juga karena Java Jazz selalu berhasil menghadirkan pengalaman yang berbeda. Rasanya seperti pulang ke rumah yang penuh dengan lagu-lagu favorit, kenangan masa remaja, dan momen-momen kecil yang membuat hati hangat.
Tahun ini, myBCA International Java Jazz Festival 2026 menjadi semakin spesial karena hadir di venue baru, NICE (Nusantara International Convention Exhibition) PIK 2. Jujur saja, sebelum datang aku sempat bertanya-tanya, apakah pengalaman menonton di venue baru ini akan senyaman venue sebelumnya?
Setelah menikmati festival selama tiga hari penuh, jawabannya adalah: bahkan lebih nyaman dari yang aku bayangkan.
Pengalaman Nonton Java Jazz 2026 dengan Lineup yang Bikin Susah Move On
Hari pertama langsung dibuka dengan berbagai penampilan yang sukses membuatku berpindah-pindah hall.
Salah satu penampilan yang paling berkesan tentu saja Trio Lestari. Rasanya sulit untuk tidak ikut bernyanyi ketika Tompi, dan Sandhy Sondoro menghadirkan suasana yang begitu hangat dan akrab. Penonton dari berbagai usia terlihat menikmati setiap lagu yang dibawakan. Bahkan ada lagu yang mengkritik program pemerintah dan dibawakan dengan merdu khas Trio Lestari (minus Glenn Fredly yang sudah berpulang di April 2020).
Sebagai generasi yang tumbuh dengan lagu-lagu karya Yovie Widianto, rasanya seperti diajak kembali ke masa SMP dan SMA. Hampir setiap lagu yang dimainkan membuat seluruh hall ikut bernyanyi bersama. Ada banyak senyum, tawa, bahkan beberapa mata yang terlihat berkaca-kaca saking excitednya karena lagu-lagu tersebut menyimpan begitu banyak kenangan terutama masa-masa PENSI di sekolah.
Di hari pertama ini, aku juga menikmati penampilan Timur bersama Teddy Adhitya, Farell Hilal, Audrey, dan Marcello Tahitoe. Perpaduan karakter vokal mereka menciptakan pengalaman musikal yang menarik dan membuatku betah berlama-lama di hall. Please trust me, meskipun aku generasi millenial pinggiran tapi playlist aku tuh kebanyakan lagu-lagu Gen Z dan masa-masa SMP, SMA, dan Kuliah.
Momen emosional lainnya adalah The Groove: Tribute untuk Yovi dan Rumah untuk Tiara.
Memasuki hari kedua, suasana berubah menjadi lebih manis dan nostalgik. Andien tampil memukau dengan energi yang selalu khas. Penampilannya terasa elegan, hangat, dan membuat penonton larut dalam setiap lagu. Setelah itu, Mocca sukses membawa suasana menjadi lebih ceria. Mendengar lagu-lagu Mocca secara langsung seperti membuka album kenangan lama yang selama ini tersimpan rapi di kepala.
Hari ketiga menjadi penutup yang sempurna.
Slank berhasil mengubah suasana menjadi sangat meriah. Penonton yang hadir bernyanyi bersama tanpa henti. Setelah itu, Yura Yunita kembali membuktikan mengapa dirinya menjadi salah satu penyanyi perempuan terbaik Indonesia saat ini. Vokal yang kuat, penampilan yang penuh energi, dan interaksi yang hangat dengan penonton membuat penampilannya menjadi salah satu highlight festival.
Tidak ketinggalan Yuni Shara yang tampil anggun dan memukau, serta Maliq & D'Essentials yang menjadi salah satu penampilan paling ditunggu. Saat lagu-lagu Maliq dimainkan, seluruh area konser berubah menjadi lautan sing along. Rasanya seperti reuni besar bersama ribuan orang yang memiliki soundtrack kehidupan yang sama.
Venue Baru yang Nyaman dan Fasilitas yang Lengkap
Salah satu hal yang paling membuatku terkesan dari Java Jazz 2026 adalah kenyamanan venue di NICE PIK 2.
Buat yang sempat khawatir soal akses menuju venue, menurutku penyelenggara sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat baik. Aku sendiri memilih menggunakan shuttle bus resmi Java Jazz yang bisa dipesan melalui website Java Jazz Festival.
Saat berangkat aku naik dari fX Sudirman, sedangkan ketika pulang memilih titik tujuan Sarinah. Shuttle yang bekerja sama dengan BigBird ini benar-benar nyaman. Bus bersih, AC dingin, kursi empuk, dan perjalanan terasa jauh lebih santai karena tidak perlu memikirkan parkir atau kemacetan.
Sesampainya di venue, kesan pertama yang langsung terasa adalah luas dan terorganisir.
Area hall dibuat nyaman dengan pendingin ruangan yang sangat baik. Bahkan setelah berpindah-pindah hall selama berjam-jam, aku tetap merasa nyaman. Toilet juga tersedia dalam jumlah banyak dan kondisinya bersih sepanjang festival berlangsung.
Yang menarik, myBCA International Java Jazz Festival 2026 menghadirkan kombinasi area indoor dan outdoor yang membuat pengalaman festival menjadi lebih dinamis. Ketika ingin beristirahat sejenak dari konser, aku bisa berjalan-jalan menikmati berbagai aktivitas menarik yang disediakan para sponsor.
Booth Mild Spot, Erafone, myBCA, Telkomsel, Blue Bird, Teh Botol Sosro, BYD, TUKU, hingga Garuda Lounge menjadi beberapa area yang ramai dikunjungi pengunjung. Selain aktivitas interaktif yang seru, banyak juga hadiah dan gimmick menarik yang bisa didapatkan.
Soal makanan, aku cukup sering mampir ke area Teh Botol Sosro yang menurutku menjadi salah satu spot favorit pengunjung. Pilihan makanannya lengkap, banyak promo menarik, dan pembayaran menggunakan myBCA membuat transaksi menjadi lebih praktis. Aku bahkan beberapa kali membeli Teh Botol dan senang mengetahui bahwa mereka menyediakan refill es batu gratis. Bagi pengunjung yang membawa tumbler, tersedia juga refill sesuai ukuran tumbler yang dibawa.
Sementara itu, di dalam Telkomsel Hall tersedia gerai Tuku yang menjadi penyelamat saat energi mulai menurun dan butuh tambahan kopi untuk melanjutkan petualangan musik.
Fasilitas lain yang patut diapresiasi adalah mushola yang ukurannya bahkan lebih mirip masjid mini. Area ibadah ini luas, bersih, full AC, dan nyaman digunakan untuk beristirahat sejenak sebelum kembali menikmati pertunjukan.
Sistem Keamanan yang Tertib dan Petugas yang Informatif
Hal lain yang menurutku patut diapresiasi adalah sistem keamanan dan pengelolaan pengunjung yang sangat baik.
Sebelum masuk area festival, pemeriksaan tiket dilakukan dengan cukup ketat. Pengunjung diwajibkan membawa identitas diri seperti KTP dan seluruh barang bawaan dalam tas juga diperiksa oleh petugas keamanan.
Bahkan ketika ingin keluar sementara dari area venue, tiket tetap harus diperlihatkan dan dipindai kembali. Hal yang sama juga berlaku saat masuk kembali maupun ketika meninggalkan area festival.
Meski prosesnya cukup detail, semuanya berjalan cepat dan tertib sehingga tidak mengganggu kenyamanan pengunjung.
Aku juga beberapa kali bertanya kepada petugas mengenai lokasi hall konser, toilet, mushola, hingga area shuttle. Menyenangkan sekali karena hampir semua petugas yang kutemui memberikan informasi dengan ramah dan jelas. Hal kecil seperti ini sering kali menentukan pengalaman pengunjung secara keseluruhan.
myBCA International Java Jazz Festival 2026 dan Obat Rindu yang Bernama Musik
Kalau ditanya apa yang paling berkesan dari myBCA International Java Jazz Festival 2026, jawabanku sederhana: nostalgia.
Selama tiga hari berada di sana, aku seperti diajak kembali ke masa-masa SMP dan SMA. Banyak lagu yang dibawakan para musisi mengingatkanku pada berbagai fase kehidupan. Lagu-lagu yang dulu sering diputar di radio, yang menemani belajar, perjalanan sekolah, sampai lagu-lagu yang masih rutin masuk playlist Spotify-ku sampai hari ini.
Yang paling menyenangkan adalah momen ketika ribuan orang menyanyikan lagu yang sama secara bersamaan. Tidak saling mengenal, tetapi memiliki kenangan yang serupa.
Dan mungkin itulah alasan kenapa aku selalu kembali ke Java Jazz.
Karena lebih dari sekadar festival musik, Java Jazz adalah tempat untuk merayakan kenangan, menemukan lagu-lagu baru, dan sesekali mengobati rindu pada versi diri kita di masa lalu.
Sampai bertemu lagi di Java Jazz berikutnya, dengan lagu-lagu baru dan kenangan baru yang siap diciptakan.







Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)