Ada satu hal yang kadang lebih sulit daripada pulang dari kantor: benar-benar meninggalkan pekerjaan di kantor. Secara fisik, kita sudah keluar dari gedung. Laptop sudah ditutup, ID card sudah dilepas, bahkan mungkin perjalanan pulang sudah dimulai. Tapi kepala? Masih di meja kerja. Masih memikirkan email yang belum dibalas, pekerjaan yang belum selesai, meeting besok, atau percakapan dengan rekan kerja yang entah kenapa masih terputar-putar di kepala.
Rabu Budaya: Kenapa Merapi, Keraton, dan Laut Selatan Seolah Berada dalam Satu Garis?
Rabu, 07 Oktober 2026
Kalau sedang berada di Yogyakarta, coba bayangkan satu garis panjang yang membentang dari utara ke selatan. Di satu ujung ada Gunung Merapi. Di tengahnya berdiri Keraton Yogyakarta. Lalu garis itu terus bergerak ke selatan hingga Laut Selatan.
Ada Hari-Hari Ketika Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri Terasa Terlalu Melelahkan
Senin, 05 Oktober 2026
Belakangan ini aku sering berpikir tentang satu kalimat yang terlalu sering kita dengar:
“Be the best version of yourself.”
Jadilah versi terbaik dirimu.
Kedengarannya bagus.
Inspiratif.
Positif.
Cocok dijadikan caption Instagram dengan foto matahari terbenam.
Kita Sering Sedih Bukan Karena Kehilangan, Tapi Karena Ekspektasi
Kamis, 01 Oktober 2026
Pernah nggak kamu merasa sangat kecewa terhadap seseorang, padahal sebenarnya orang itu tidak melakukan sesuatu yang benar-benar salah?
Dia hanya tidak melakukan apa yang kita harapkan.
Tidak menghubungi.
Tidak bertanya.
Tidak datang.
Tidak mengerti.
Tidak bereaksi seperti yang kita bayangkan.
Dan tiba-tiba kita sedih.
Bukan karena sesuatu benar-benar hilang.
Tapi karena sesuatu yang kita harapkan terjadi ternyata tidak terjadi.
Mengenal Batik Indonesia: Sejarah, Jenis, Filosofi dan Perkembangannya di Era Modern
Rabu, 30 September 2026
Kalau mendengar kata batik, apa yang langsung terlintas di pikiran?
Mungkin kain bermotif klasik berwarna cokelat, kemeja yang dipakai ke kantor setiap Jumat, atau pakaian yang biasanya kita keluarkan dari lemari ketika ada acara kondangan, wisuda, atau peringatan Hari Batik Nasional.
Suatu Hari Nanti, Anak Kita Tidak Lagi Membutuhkan Kita Sebanyak Sekarang
Senin, 28 September 2026
Ada satu fase dalam kehidupan seorang ibu yang mungkin paling sulit diterima:
anak kita akan tumbuh besar.
Shift Kedua Seorang Working Mom Dimulai Setelah Pulang Kantor
Jumat, 25 September 2026
Ada satu hal yang baru benar-benar aku pahami setelah menjadi working mom:
Pulang kantor ternyata bukan berarti selesai bekerja.
Kadang justru itu tanda bahwa shift kedua akan segera dimulai.
Jam kerja di kantor mungkin secara resmi selesai pukul lima sore.
Tapi setelah itu?
Masih ada kehidupan lain yang menunggu.
RABU | SATU KOTA, SATU CERITA #04: Pekanbaru dan Songket Riau: Ketika Budaya Melayu Ditenun Menjadi Sebuah Cerita
Rabu, 23 September 2026
Ada kota yang kita ingat karena tempat wisatanya.
Ada yang kita ingat karena makanannya.
Dan ada juga kota yang justru membuat kita ingat pada sebuah budaya.
Buat saya, Pekanbaru punya cerita yang sangat kuat tentang budaya Melayu.
Salah satu yang menarik perhatian saya adalah songket Riau.
Bukan Tidak Bersyukur, Aku Cuma Sedang Lelah
Senin, 21 September 2026
Pernah nggak sih, ketika kita bilang, “Aku capek,” kita malah buru-buru merasa bersalah?
Seolah-olah setelah mengeluh tentang lelah, kita harus segera menambahkan kalimat pembelaan.
“Aku sebenarnya bersyukur kok.”
“Masih banyak orang yang hidupnya lebih susah.”
“Aku tahu ini rezeki.”
“Aku cuma lagi capek aja.”
Kadang yang Kita Butuhkan Bukan Jawaban, Tapi Berdamai dengan Kenyataan
Jumat, 18 September 2026
Ada beberapa pertanyaan dalam hidup yang mungkin tidak pernah mendapatkan jawaban yang benar-benar memuaskan.
“Kenapa harus aku?”
“Kenapa dia pergi?”
“Kenapa sesuatu yang sudah aku perjuangkan tidak berhasil?”
“Kenapa orang yang kita percaya justru mengecewakan?”
“Kenapa hidup harus berjalan seperti ini?”
Belajar Tidak Merasa Menjadi Pusat dari Semua Cerita
Kamis, 17 September 2026
Pernah nggak sih kita melihat sebuah postingan, membaca sebuah quote, atau mendengar seseorang mengatakan sesuatu, lalu tiba-tiba merasa...
“Ini pasti tentang aku.”
Padahal belum tentu.
RABU | SATU KOTA, SATU CERITA: #03 Semarang: Dari Lumpia, Kota Lama, Sampai Cerita Budaya yang Lahir dari Pertemuan
Rabu, 16 September 2026
Kalau ada kota yang membuat saya berpikir bahwa Indonesia memang dibangun dari banyak pertemuan, salah satunya adalah Semarang.
Pertemuan manusia.
Pertemuan budaya.
Pertemuan sejarah.
Dan tentu saja... pertemuan rasa.
Karena kalau bicara Semarang, selain Lawang Sewu dan Kota Lama, rasanya kurang lengkap kalau tidak membicarakan lumpia Semarang.
Makanan yang satu ini justru menjadi contoh menarik bagaimana sebuah kuliner bisa lahir dari pertemuan budaya yang berbeda.
Kita Tidak Harus Disukai Semua Orang
Senin, 14 September 2026
Ada satu fase dalam hidup ketika kita mulai lelah berusaha membuat semua orang menyukai kita.
Dulu rasanya penting sekali.
Kalau ada yang tidak suka, kita kepikiran.
Kalau ada yang salah paham, kita ingin menjelaskan.
Kalau ada yang kecewa, kita merasa bersalah.
Ada Orang yang Memang Cukup Dikenal, Tidak Perlu Dipertahankan
Kamis, 10 September 2026
Ada orang yang datang ke hidup kita untuk tinggal.
Ada yang datang untuk mengajarkan sesuatu.
Ada yang datang untuk menemani satu fase.
Dan ada juga yang ternyata memang hanya cukup dikenal.
Tidak perlu dipertahankan.
RABU | SATU KOTA, SATU CERITA #02: Palembang, Pempek, Sungai Musi, dan Cerita Budaya yang Nggak Pernah Kehabisan Rasa
Rabu, 09 September 2026
Kalau bicara tentang Palembang, hal pertama yang biasanya muncul di kepala adalah satu kata: pempek.
Anak Tumbuh, Ibu Juga Harus Ikut Bertumbuh
Senin, 07 September 2026
Kadang kita tidak sadar bahwa anak tumbuh begitu cepat.
Tiba-tiba bajunya sudah kekecilan.
Sepatunya sudah tidak muat.
Suaranya berubah.
Cara bicaranya berubah.
Dan perlahan...
cara dia melihat dunia juga berubah.
Kenapa Working Mom Sering Merasa Harus Bisa Semuanya?
Jumat, 04 September 2026
Ada satu penyakit tidak tertulis yang sering dialami working mom.
Namanya:
“Aku harus bisa semuanya.”
Harus profesional di kantor.
Harus menjadi ibu yang perhatian.
Harus menjadi pasangan yang baik.
Harus punya rumah yang rapi.
Harus bisa mengurus anak.
Harus tetap punya waktu untuk keluarga.
Harus menjaga penampilan.
Harus sehat.
Harus produktif.
Dan kalau masih punya waktu...
mungkin harus punya waktu untuk diri sendiri juga.
Masalahnya, waktu dua puluh empat jam sehari tetap saja cuma dua puluh empat jam.
Kita bisa mengatur jadwal.
Bisa membuat to-do list.
Bisa menggunakan aplikasi.
Tapi kita tidak bisa menambahkan dua puluh empat jam lagi ke dalam sehari.
Lalu kenapa working mom sering merasa harus bisa semuanya?
Karena kita terbiasa menjadi “yang bisa diandalkan”
Sejak menjadi ibu, banyak perempuan otomatis mengambil peran sebagai pusat koordinasi keluarga.
Anak butuh apa?
Kita tahu.
Jadwal sekolah kapan?
Kita ingat.
Ada acara keluarga?
Kita pikirkan.
Stok kebutuhan rumah habis?
Kita yang sadar duluan.
Bahkan kadang suami bertanya,
“Besok anak ada kegiatan apa?”
Dan kita bisa menjawab lengkap dengan jam, lokasi, pakaian, sampai barang yang harus dibawa.
Padahal...
kok semua informasi keluarga kayaknya tersimpan di kepala ibu?
Belum selesai urusan rumah, pekerjaan kantor juga menunggu.
Ada email.
Ada meeting.
Ada deadline.
Ada target.
Ada masalah yang harus diselesaikan.
Dan somehow kita tetap merasa harus memberikan performa terbaik di semuanya.
Ketika istirahat justru membuat kita merasa bersalah
Yang menarik, working mom sering kali tidak kesulitan melakukan banyak hal.
Yang sulit justru berhenti.
Saat ada waktu kosong, kita merasa harus mengisinya.
Kalau anak tidur, kita membereskan rumah.
Kalau weekend, kita mencuci.
Kalau sedang tidak ada pekerjaan kantor, kita menyelesaikan pekerjaan domestik.
Kalau akhirnya duduk dan tidak melakukan apa-apa...
mulai merasa bersalah.
“Harusnya aku melakukan sesuatu.”
Padahal tubuh sedang bilang:
“Aku cuma ingin istirahat.”
Kita perlu memahami bahwa istirahat bukan kemalasan.
Istirahat adalah kebutuhan.
Karena seorang ibu yang terus dipaksa berfungsi tanpa jeda bukan menjadi lebih hebat.
Dia hanya semakin dekat dengan titik kelelahan.
Tidak harus semuanya dikerjakan sendiri
Mungkin sudah waktunya working mom berhenti menganggap meminta bantuan sebagai tanda ketidakmampuan.
Rumah bukan tanggung jawab satu orang.
Mengurus anak bukan tugas satu orang.
Dan menjaga keluarga bukan berarti seorang ibu harus kehilangan dirinya sendiri.
Kalau bisa dibagi, ya dibagi.
Kalau bisa didelegasikan, ya delegasikan.
Kalau ada sesuatu yang sebenarnya tidak harus dilakukan hari ini, mungkin memang bisa ditunda.
Karena tidak semua hal harus selesai sekarang juga.
Kadang rumah sedikit berantakan tidak akan menghancurkan dunia.
Makan malam sederhana juga tetap makan malam.
Laundry menumpuk sehari bukan kiamat.
Dan anak tidak membutuhkan ibu yang sempurna.
Anak membutuhkan ibu yang hadir.
Working mom juga berhak punya hidup sendiri
Ada satu hal yang sering terlupakan.
Sebelum menjadi ibu, kita adalah seorang perempuan.
Punya kesukaan.
Punya mimpi.
Punya teman.
Punya waktu sendiri.
Punya hal-hal yang membuat kita bahagia.
Menjadi ibu tidak berarti semua itu harus hilang.
Menjadi working mom juga bukan berarti hidup kita hanya terdiri dari pekerjaan dan keluarga.
Kita boleh punya waktu untuk minum kopi sendirian.
Boleh jalan dengan teman.
Boleh membaca buku.
Boleh menonton drama sampai malam.
Boleh punya hobi.
Boleh melakukan sesuatu hanya karena kita menyukainya.
Tanpa harus mencari alasan produktif di baliknya.
Karena tidak semua yang kita lakukan harus punya manfaat untuk orang lain.
Ada hal-hal yang boleh dilakukan hanya karena kita menikmatinya.
Kita tidak harus menjadi perempuan yang bisa semuanya
Mungkin sudah waktunya mengganti kalimat:
“Aku harus bisa semuanya.”
Menjadi:
“Aku akan melakukan yang memang penting, dan aku akan meminta bantuan untuk sisanya.”
Karena menjadi working mom bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling kuat.
Kita tidak mendapatkan medali karena paling banyak mengorbankan diri.
Dan anak-anak kita juga tidak membutuhkan ibu yang kehabisan tenaga demi memastikan semuanya sempurna.
Mereka hanya membutuhkan ibu yang masih punya energi untuk memeluk mereka.
Untuk mendengarkan cerita mereka.
Untuk tertawa bersama.
Untuk hadir.
Jadi kalau hari ini kamu merasa tidak sanggup mengurus semuanya...
mungkin masalahnya bukan kamu kurang hebat.
Mungkin memang terlalu banyak yang selama ini kamu pikul sendirian.
Dan kamu tidak harus terus begitu.
RABU | SATU KOTA, SATU CERITA #01: Banyuwangi: Ketika Gandrung Menari dan Sepiring Sego Tempong Bercerita tentang Budaya
Rabu, 02 September 2026
Kalau ada satu hal yang saya suka dari perjalanan ke berbagai kota di Indonesia, itu adalah menemukan bahwa setiap daerah punya “cara sendiri” untuk bercerita.
Ada daerah yang bercerita melalui bangunan tua.
Ada yang melalui kain tradisional.
Ada yang melalui makanan.
Dan Banyuwangi punya cara yang sangat cantik: melalui tari, musik, tradisi, dan makanan yang penuh karakter.
Banyuwangi berada di ujung timur Pulau Jawa dan dikenal sebagai salah satu daerah dengan kekayaan budaya yang sangat kuat.
Salah satu ikon budayanya adalah Tari Gandrung.
Dan dari sinilah cerita budaya Banyuwangi menjadi semakin menarik.
Tentang Hal-Hal yang Dulu Kita Kejar, Tapi Sekarang Sudah Tidak Penting
Selasa, 01 September 2026
Ada banyak hal yang dulu rasanya penting sekali.
Sampai-sampai kita rela capek, kehilangan waktu tidur, menahan kecewa, bahkan membandingkan hidup sendiri dengan hidup orang lain hanya untuk mendapatkannya.
Drama SPMB 2026: Perjuangan Panjang Mengantar Anak ke SMA Negeri Unggulan
Jumat, 28 Agustus 2026
Ada cerita yang ternyata butuh waktu untuk dituliskan.
Bukan karena aku lupa, justru karena masih terlalu banyak rasa yang tertinggal setelah semuanya selesai.
Kurang lebih sebulan setelah anakku akhirnya diterima di SMA Negeri Unggulan di Jakarta melalui Jalur Domisili SPMB 2026, barulah aku merasa cukup tenang untuk menuliskan perjalanan ini.
Ketika Vertigo Menyerangku, Oke, Saatnya Hidup Lebih Sehat Lagi Demi Diri Sendiri, Anak dan Suami
Senin, 24 Agustus 2026
Ada kalanya tubuh memberi kita peringatan dengan cara yang tidak bisa diabaikan.
Bukan lewat reminder.
Bukan lewat notifikasi.
Bukan lewat kalender yang penuh.
Tapi lewat satu kondisi yang membuat kita akhirnya berhenti sejenak dan berpikir,
“Oke... mungkin sudah waktunya aku lebih memperhatikan diri sendiri.”
Aku Sudah Tidak Ingin Menjelaskan Diriku kepada Semua Orang
Rabu, 19 Agustus 2026
Dulu aku pikir, kalau ada orang yang salah memahami kita, berarti kita harus menjelaskan.
Kalau ada yang salah menilai, kita harus meluruskan.
Kalau ada yang menganggap kita begini padahal kenyataannya begitu, kita merasa perlu memberikan penjelasan panjang lebar.
Karena rasanya tidak nyaman ketika orang lain punya cerita tentang kita yang tidak sesuai kenyataan.
Apalagi kalau kita tahu bahwa cerita itu tidak benar.
Working Mom Juga Punya Hak untuk Capek
Sabtu, 15 Agustus 2026
Ada satu kalimat yang menurutku sering banget dialami working mom:
“Aku capek.”
Tapi setelah mengucapkannya, entah kenapa kita langsung merasa bersalah.
Menjadi Ibu dari Anak Remaja: Antara Ingin Melindungi dan Harus Memberi Ruang
Selasa, 11 Agustus 2026
Ada satu fase dalam perjalanan menjadi ibu yang diam-diam cukup bikin hati campur aduk.
Ketika anak mulai besar.
Bukan lagi anak kecil yang setiap pergi harus digandeng tangannya.
Bukan lagi anak yang setiap beberapa menit bertanya, “Mama di mana?”
Sekarang dia mulai punya dunia sendiri.
Ada Fase dalam Hidup Ketika Kita Cuma Ingin Hidup yang Biasa-Biasa Saja
Jumat, 07 Agustus 2026
Dulu, rasanya hidup harus selalu punya target.
Harus ada yang dikejar. Harus ada yang dicapai. Harus ada sesuatu yang bisa dibanggakan.
Review Pengalaman Suntik Booster Vitamin C dan Vitamin B Kompleks di Primecare Clinic Panglima Polim, Jakarta Selatan
Senin, 03 Agustus 2026
Jujur ya...
Menjadi orang dewasa ternyata bukan soal kuat atau nggaknya kita menghadapi hidup.
Tapi soal... seberapa pintar kita merawat diri, supaya tetap bisa menjalankan semua peran yang kita punya.
Seporsi Adab yang Sering Terlupakan: Tentang Bertanggung Jawab atas Luka yang Kita Berikan
Jumat, 31 Juli 2026
Sering kali kita fokus pada niat baik, tetapi lupa bahwa orang lain merasakan dampak dari tindakan kita. Yuk belajar tentang adab, empati, dan kedewasaan dalam menyikapi konflik melalui refleksi sederhana yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Bukan Kata-Kara Kasar, Justru Pengabaian yang Paling Menyakitkan
Kamis, 30 Juli 2026
Aku pernah ada di fase ketika memilih diam, bukan karena nggak punya cerita. Justru karena terlalu sering merasa percuma bercerita. Setiap kali mencoba membuka hati, jawabannya hampir selalu sama. "Jangan lebay." "Udah, nanti juga lewat." Lama-lama aku berhenti berharap orang lain mengerti. Aku mulai meyakinkan diri kalau menyimpan semuanya sendiri mungkin memang lebih mudah. Padahal, yang sebenarnya terjadi bukan aku baik-baik saja. Aku hanya lelah merasa tidak dianggap.
Aku [PERNAH] Kehilangan Diriku Setelah Menjadi Ibu, dan Butuh Waktu untuk Menemukannya Kembali
Rabu, 29 Juli 2026
Dulu, kalau ada yang bertanya tentang diriku, aku bisa menjawab dengan mudah.
Aku suka menulis.
Aku suka menghabiskan waktu di kedai kopi sambil membawa laptop atau buku.
Aku suka berjalan tanpa tujuan, hanya untuk menikmati sore.
Aku juga suka bermimpi. Tentang banyak hal yang ingin kulakukan suatu hari nanti.
Kenapa Working Mom Selalu Merasa Bersalah Saat Istirahat?
Jumat, 24 Juli 2026
Hari itu akhirnya datang juga.
Sabtu.
Hari yang selama ini selalu kutunggu karena berpikir, "Akhirnya bisa istirahat."
Tapi lucunya, ketika hari itu benar-benar tiba, aku justru tidak benar-benar beristirahat.
Pagi dimulai dengan mencuci baju, menyiapkan sarapan, merapikan rumah, mengecek pekerjaan yang masih tertunda, membalas beberapa pesan WhatsApp, lalu memastikan semua kebutuhan keluarga sudah terpenuhi.
Burnout Itu Nyata. Aku Pernah Mengalaminya dan Mungkin Kamu Juga ...
Rabu, 22 Juli 2026
Burnout bukan sekadar rasa lelah biasa. Simak pengalaman aku sebagai working mom mengenali tanda-tanda burnout, penyebabnya, dan cara perlahan bangkit tanpa menyalahkan diri sendiri.
Mesin Cuci Boros Listrik atau Tidak? Ini Cara Memilih Mesin Cuci Hemat Listrik Sebelum Beli
Selasa, 14 Juli 2026
Jujur ya, dulu aku termasuk orang yang kalau beli mesin cuci cuma lihat dua hal: kapasitas dan harga. Pokoknya yang penting muat banyak dan sesuai budget. Sampai akhirnya tagihan listrik di rumah mulai terasa naik, baru deh kepikiran, jangan-jangan selama ini aku salah pilih mesin cuci. Dari situ aku baru sadar kalau teknologi yang digunakan ternyata jauh lebih berpengaruh dibanding sekadar besar kecilnya kapasitas.
"Jangan beli yang murah kalau ujung-ujungnya tagihan listrik malah bikin pusing."
Working Mom Bukan Superwoman, Cuma Perempuan yang Belajar Bertahan Setiap Hari
Rabu, 08 Juli 2026
Kalau ada yang bertanya, "Capek nggak jadi working mom?"
Jawabannya? Capek.
Bahkan capeknya sering kali nggak bisa dijelaskan pakai kata-kata.
Arti Nama Darell Adhibrata: Sebuah Doa yang Kami Sematkan untuk Anak Kami Semata Wayang
Rabu, 01 Juli 2026
Dulu, saat masih hamil, memilih nama ternyata jauh lebih sulit daripada memilih warna baju bayi atau motif stroller. Aku dan suami membuka entah berapa banyak daftar nama. Ada yang terdengar indah, tetapi maknanya biasa saja. Ada yang maknanya bagus, tetapi lidah kami terasa asing saat mengucapkannya. Sampai akhirnya kami menemukan dua kata yang rasanya pas. Bukan hanya enak didengar, tetapi juga menjadi doa yang ingin kami panjatkan setiap hari. Itulah awal mula nama Darell Adhibrata.
Plot Twist Dunia Kerja: 3 Kebiasaan Ini Bisa Jadi Senjata Makan Tuan
Senin, 29 Juni 2026
Pernah nggak sih ngerasa kantor itu bukan cuma tempat kerja, tapi juga “arena sosial” yang penuh plot twist? Kadang bukan kerjaannya yang bikin capek, tapi dinamika manusianya. Ada yang kelihatannya ramah, ternyata jadi “penyiar berita tak resmi”. Ada juga yang diem-diem, tapi tahu semua hal. Nah, tanpa sadar, ada beberapa hal yang kelihatannya sepele, tapi justru bisa membahayakan posisi kamu di kantor—baik sekarang maupun di masa depan.
Let Them Theory: Ternyata Melepaskan Bukan Berarti Kalah
Kamis, 25 Juni 2026
Familiar kan dengan Let Them Theory. Sederhana banget konsepnya: biarkan mereka. Biarkan orang lain jadi dirinya, biarkan mereka memilih, bereaksi, bahkan mengecewakan kalau itu memang jalannya.
Iya, sesederhana itu.
Pengalaman Nonton myBCA International Java Jazz Festival 2026 di NICE PIK 2: Tiga Hari Penuh Musik, Nostalgia, dan Kenyamanan
Jumat, 12 Juni 2026
Ada satu alasan kenapa aku selalu menunggu Java Jazz setiap tahun.
Bukan hanya karena lineup musisinya yang selalu menarik, tetapi juga karena Java Jazz selalu berhasil menghadirkan pengalaman yang berbeda. Rasanya seperti pulang ke rumah yang penuh dengan lagu-lagu favorit, kenangan masa remaja, dan momen-momen kecil yang membuat hati hangat.
Tahun ini, myBCA International Java Jazz Festival 2026 menjadi semakin spesial karena hadir di venue baru, NICE (Nusantara International Convention Exhibition) PIK 2. Jujur saja, sebelum datang aku sempat bertanya-tanya, apakah pengalaman menonton di venue baru ini akan senyaman venue sebelumnya?
Setelah menikmati festival selama tiga hari penuh, jawabannya adalah: bahkan lebih nyaman dari yang aku bayangkan.
Pengalaman Nonton Java Jazz 2026 dengan Lineup yang Bikin Susah Move On
Hari pertama langsung dibuka dengan berbagai penampilan yang sukses membuatku berpindah-pindah hall.
Salah satu penampilan yang paling berkesan tentu saja Trio Lestari. Rasanya sulit untuk tidak ikut bernyanyi ketika Tompi, dan Sandhy Sondoro menghadirkan suasana yang begitu hangat dan akrab. Penonton dari berbagai usia terlihat menikmati setiap lagu yang dibawakan. Bahkan ada lagu yang mengkritik program pemerintah dan dibawakan dengan merdu khas Trio Lestari (minus Glenn Fredly yang sudah berpulang di April 2020).
Sebagai generasi yang tumbuh dengan lagu-lagu karya Yovie Widianto, rasanya seperti diajak kembali ke masa SMP dan SMA. Hampir setiap lagu yang dimainkan membuat seluruh hall ikut bernyanyi bersama. Ada banyak senyum, tawa, bahkan beberapa mata yang terlihat berkaca-kaca saking excitednya karena lagu-lagu tersebut menyimpan begitu banyak kenangan terutama masa-masa PENSI di sekolah.
Di hari pertama ini, aku juga menikmati penampilan Timur bersama Teddy Adhitya, Farell Hilal, Audrey, dan Marcello Tahitoe. Perpaduan karakter vokal mereka menciptakan pengalaman musikal yang menarik dan membuatku betah berlama-lama di hall. Please trust me, meskipun aku generasi millenial pinggiran tapi playlist aku tuh kebanyakan lagu-lagu Gen Z dan masa-masa SMP, SMA, dan Kuliah.
Momen emosional lainnya adalah The Groove: Tribute untuk Yovi dan Rumah untuk Tiara.
Memasuki hari kedua, suasana berubah menjadi lebih manis dan nostalgik. Andien tampil memukau dengan energi yang selalu khas. Penampilannya terasa elegan, hangat, dan membuat penonton larut dalam setiap lagu. Setelah itu, Mocca sukses membawa suasana menjadi lebih ceria. Mendengar lagu-lagu Mocca secara langsung seperti membuka album kenangan lama yang selama ini tersimpan rapi di kepala.
Hari ketiga menjadi penutup yang sempurna.
Slank berhasil mengubah suasana menjadi sangat meriah. Penonton yang hadir bernyanyi bersama tanpa henti. Setelah itu, Yura Yunita kembali membuktikan mengapa dirinya menjadi salah satu penyanyi perempuan terbaik Indonesia saat ini. Vokal yang kuat, penampilan yang penuh energi, dan interaksi yang hangat dengan penonton membuat penampilannya menjadi salah satu highlight festival.
Tidak ketinggalan Yuni Shara yang tampil anggun dan memukau, serta Maliq & D'Essentials yang menjadi salah satu penampilan paling ditunggu. Saat lagu-lagu Maliq dimainkan, seluruh area konser berubah menjadi lautan sing along. Rasanya seperti reuni besar bersama ribuan orang yang memiliki soundtrack kehidupan yang sama.
Venue Baru yang Nyaman dan Fasilitas yang Lengkap
Salah satu hal yang paling membuatku terkesan dari Java Jazz 2026 adalah kenyamanan venue di NICE PIK 2.
Buat yang sempat khawatir soal akses menuju venue, menurutku penyelenggara sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat baik. Aku sendiri memilih menggunakan shuttle bus resmi Java Jazz yang bisa dipesan melalui website Java Jazz Festival.
Saat berangkat aku naik dari fX Sudirman, sedangkan ketika pulang memilih titik tujuan Sarinah. Shuttle yang bekerja sama dengan BigBird ini benar-benar nyaman. Bus bersih, AC dingin, kursi empuk, dan perjalanan terasa jauh lebih santai karena tidak perlu memikirkan parkir atau kemacetan.
Sesampainya di venue, kesan pertama yang langsung terasa adalah luas dan terorganisir.
Area hall dibuat nyaman dengan pendingin ruangan yang sangat baik. Bahkan setelah berpindah-pindah hall selama berjam-jam, aku tetap merasa nyaman. Toilet juga tersedia dalam jumlah banyak dan kondisinya bersih sepanjang festival berlangsung.
Yang menarik, myBCA International Java Jazz Festival 2026 menghadirkan kombinasi area indoor dan outdoor yang membuat pengalaman festival menjadi lebih dinamis. Ketika ingin beristirahat sejenak dari konser, aku bisa berjalan-jalan menikmati berbagai aktivitas menarik yang disediakan para sponsor.
Booth Mild Spot, Erafone, myBCA, Telkomsel, Blue Bird, Teh Botol Sosro, BYD, TUKU, hingga Garuda Lounge menjadi beberapa area yang ramai dikunjungi pengunjung. Selain aktivitas interaktif yang seru, banyak juga hadiah dan gimmick menarik yang bisa didapatkan.
Soal makanan, aku cukup sering mampir ke area Teh Botol Sosro yang menurutku menjadi salah satu spot favorit pengunjung. Pilihan makanannya lengkap, banyak promo menarik, dan pembayaran menggunakan myBCA membuat transaksi menjadi lebih praktis. Aku bahkan beberapa kali membeli Teh Botol dan senang mengetahui bahwa mereka menyediakan refill es batu gratis. Bagi pengunjung yang membawa tumbler, tersedia juga refill sesuai ukuran tumbler yang dibawa.
Sementara itu, di dalam Telkomsel Hall tersedia gerai Tuku yang menjadi penyelamat saat energi mulai menurun dan butuh tambahan kopi untuk melanjutkan petualangan musik.
Fasilitas lain yang patut diapresiasi adalah mushola yang ukurannya bahkan lebih mirip masjid mini. Area ibadah ini luas, bersih, full AC, dan nyaman digunakan untuk beristirahat sejenak sebelum kembali menikmati pertunjukan.
Sistem Keamanan yang Tertib dan Petugas yang Informatif
Hal lain yang menurutku patut diapresiasi adalah sistem keamanan dan pengelolaan pengunjung yang sangat baik.
Sebelum masuk area festival, pemeriksaan tiket dilakukan dengan cukup ketat. Pengunjung diwajibkan membawa identitas diri seperti KTP dan seluruh barang bawaan dalam tas juga diperiksa oleh petugas keamanan.
Bahkan ketika ingin keluar sementara dari area venue, tiket tetap harus diperlihatkan dan dipindai kembali. Hal yang sama juga berlaku saat masuk kembali maupun ketika meninggalkan area festival.
Meski prosesnya cukup detail, semuanya berjalan cepat dan tertib sehingga tidak mengganggu kenyamanan pengunjung.
Aku juga beberapa kali bertanya kepada petugas mengenai lokasi hall konser, toilet, mushola, hingga area shuttle. Menyenangkan sekali karena hampir semua petugas yang kutemui memberikan informasi dengan ramah dan jelas. Hal kecil seperti ini sering kali menentukan pengalaman pengunjung secara keseluruhan.
myBCA International Java Jazz Festival 2026 dan Obat Rindu yang Bernama Musik
Kalau ditanya apa yang paling berkesan dari myBCA International Java Jazz Festival 2026, jawabanku sederhana: nostalgia.
Selama tiga hari berada di sana, aku seperti diajak kembali ke masa-masa SMP dan SMA. Banyak lagu yang dibawakan para musisi mengingatkanku pada berbagai fase kehidupan. Lagu-lagu yang dulu sering diputar di radio, yang menemani belajar, perjalanan sekolah, sampai lagu-lagu yang masih rutin masuk playlist Spotify-ku sampai hari ini.
Yang paling menyenangkan adalah momen ketika ribuan orang menyanyikan lagu yang sama secara bersamaan. Tidak saling mengenal, tetapi memiliki kenangan yang serupa.
Dan mungkin itulah alasan kenapa aku selalu kembali ke Java Jazz.
Karena lebih dari sekadar festival musik, Java Jazz adalah tempat untuk merayakan kenangan, menemukan lagu-lagu baru, dan sesekali mengobati rindu pada versi diri kita di masa lalu.
Sampai bertemu lagi di Java Jazz berikutnya, dengan lagu-lagu baru dan kenangan baru yang siap diciptakan.
































![Aku [PERNAH] Kehilangan Diriku Setelah Menjadi Ibu, dan Butuh Waktu untuk Menemukannya Kembali Aku [PERNAH] Kehilangan Diriku Setelah Menjadi Ibu, dan Butuh Waktu untuk Menemukannya Kembali](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFZ0fhZbIJ2tyD5ISoADfAvQVpVIKUtzQj3Y0MqzvXaiE39fkhiG0KU_TFJDXpR3dqBC3Tz3o_kJwm9uTTa_pWLWCNhz8Y75F71qQlCYXyxn6jCiFsVxawfNfb0Kjd_6iV4imDd0W3LLKyv1zP3Wy85SM0pipz3kQj8V7A3-C77Qm9_QeUPNlJhqLSIeQ/w512-h640/Aku%20%5BPERNAH%5D%20Kehilangan%20Diriku%20Setelah%20Menjadi%20Ibu,%20dan%20Butuh%20Waktu%20untuk%20Menemukannya%20Kembali%201.png)













