Kalau ada yang bertanya, "Capek nggak jadi working mom?"
Jawabannya? Capek.
Bahkan capeknya sering kali nggak bisa dijelaskan pakai kata-kata.
Kalau ada yang bertanya, "Capek nggak jadi working mom?"
Jawabannya? Capek.
Bahkan capeknya sering kali nggak bisa dijelaskan pakai kata-kata.
Dulu, saat masih hamil, memilih nama ternyata jauh lebih sulit daripada memilih warna baju bayi atau motif stroller. Aku dan suami membuka entah berapa banyak daftar nama. Ada yang terdengar indah, tetapi maknanya biasa saja. Ada yang maknanya bagus, tetapi lidah kami terasa asing saat mengucapkannya. Sampai akhirnya kami menemukan dua kata yang rasanya pas. Bukan hanya enak didengar, tetapi juga menjadi doa yang ingin kami panjatkan setiap hari. Itulah awal mula nama Darell Adhibrata.
Pernah nggak sih ngerasa kantor itu bukan cuma tempat kerja, tapi juga “arena sosial” yang penuh plot twist? Kadang bukan kerjaannya yang bikin capek, tapi dinamika manusianya. Ada yang kelihatannya ramah, ternyata jadi “penyiar berita tak resmi”. Ada juga yang diem-diem, tapi tahu semua hal. Nah, tanpa sadar, ada beberapa hal yang kelihatannya sepele, tapi justru bisa membahayakan posisi kamu di kantor—baik sekarang maupun di masa depan.
Familiar kan dengan Let Them Theory. Sederhana banget konsepnya: biarkan mereka. Biarkan orang lain jadi dirinya, biarkan mereka memilih, bereaksi, bahkan mengecewakan kalau itu memang jalannya.
Iya, sesederhana itu.
Ada satu alasan kenapa aku selalu menunggu Java Jazz setiap tahun.
Bukan hanya karena lineup musisinya yang selalu menarik, tetapi juga karena Java Jazz selalu berhasil menghadirkan pengalaman yang berbeda. Rasanya seperti pulang ke rumah yang penuh dengan lagu-lagu favorit, kenangan masa remaja, dan momen-momen kecil yang membuat hati hangat.
Tahun ini, myBCA International Java Jazz Festival 2026 menjadi semakin spesial karena hadir di venue baru, NICE (Nusantara International Convention Exhibition) PIK 2. Jujur saja, sebelum datang aku sempat bertanya-tanya, apakah pengalaman menonton di venue baru ini akan senyaman venue sebelumnya?
Setelah menikmati festival selama tiga hari penuh, jawabannya adalah: bahkan lebih nyaman dari yang aku bayangkan.
Hari pertama langsung dibuka dengan berbagai penampilan yang sukses membuatku berpindah-pindah hall.
Salah satu penampilan yang paling berkesan tentu saja Trio Lestari. Rasanya sulit untuk tidak ikut bernyanyi ketika Tompi, dan Sandhy Sondoro menghadirkan suasana yang begitu hangat dan akrab. Penonton dari berbagai usia terlihat menikmati setiap lagu yang dibawakan. Bahkan ada lagu yang mengkritik program pemerintah dan dibawakan dengan merdu khas Trio Lestari (minus Glenn Fredly yang sudah berpulang di April 2020).
Sebagai generasi yang tumbuh dengan lagu-lagu karya Yovie Widianto, rasanya seperti diajak kembali ke masa SMP dan SMA. Hampir setiap lagu yang dimainkan membuat seluruh hall ikut bernyanyi bersama. Ada banyak senyum, tawa, bahkan beberapa mata yang terlihat berkaca-kaca saking excitednya karena lagu-lagu tersebut menyimpan begitu banyak kenangan terutama masa-masa PENSI di sekolah.
Di hari pertama ini, aku juga menikmati penampilan Timur bersama Teddy Adhitya, Farell Hilal, Audrey, dan Marcello Tahitoe. Perpaduan karakter vokal mereka menciptakan pengalaman musikal yang menarik dan membuatku betah berlama-lama di hall. Please trust me, meskipun aku generasi millenial pinggiran tapi playlist aku tuh kebanyakan lagu-lagu Gen Z dan masa-masa SMP, SMA, dan Kuliah.
Momen emosional lainnya adalah The Groove: Tribute untuk Yovi dan Rumah untuk Tiara.
Memasuki hari kedua, suasana berubah menjadi lebih manis dan nostalgik. Andien tampil memukau dengan energi yang selalu khas. Penampilannya terasa elegan, hangat, dan membuat penonton larut dalam setiap lagu. Setelah itu, Mocca sukses membawa suasana menjadi lebih ceria. Mendengar lagu-lagu Mocca secara langsung seperti membuka album kenangan lama yang selama ini tersimpan rapi di kepala.
Hari ketiga menjadi penutup yang sempurna.
Slank berhasil mengubah suasana menjadi sangat meriah. Penonton yang hadir bernyanyi bersama tanpa henti. Setelah itu, Yura Yunita kembali membuktikan mengapa dirinya menjadi salah satu penyanyi perempuan terbaik Indonesia saat ini. Vokal yang kuat, penampilan yang penuh energi, dan interaksi yang hangat dengan penonton membuat penampilannya menjadi salah satu highlight festival.
Tidak ketinggalan Yuni Shara yang tampil anggun dan memukau, serta Maliq & D'Essentials yang menjadi salah satu penampilan paling ditunggu. Saat lagu-lagu Maliq dimainkan, seluruh area konser berubah menjadi lautan sing along. Rasanya seperti reuni besar bersama ribuan orang yang memiliki soundtrack kehidupan yang sama.
Salah satu hal yang paling membuatku terkesan dari Java Jazz 2026 adalah kenyamanan venue di NICE PIK 2.
Buat yang sempat khawatir soal akses menuju venue, menurutku penyelenggara sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat baik. Aku sendiri memilih menggunakan shuttle bus resmi Java Jazz yang bisa dipesan melalui website Java Jazz Festival.
Saat berangkat aku naik dari fX Sudirman, sedangkan ketika pulang memilih titik tujuan Sarinah. Shuttle yang bekerja sama dengan BigBird ini benar-benar nyaman. Bus bersih, AC dingin, kursi empuk, dan perjalanan terasa jauh lebih santai karena tidak perlu memikirkan parkir atau kemacetan.
Sesampainya di venue, kesan pertama yang langsung terasa adalah luas dan terorganisir.
Area hall dibuat nyaman dengan pendingin ruangan yang sangat baik. Bahkan setelah berpindah-pindah hall selama berjam-jam, aku tetap merasa nyaman. Toilet juga tersedia dalam jumlah banyak dan kondisinya bersih sepanjang festival berlangsung.
Yang menarik, myBCA International Java Jazz Festival 2026 menghadirkan kombinasi area indoor dan outdoor yang membuat pengalaman festival menjadi lebih dinamis. Ketika ingin beristirahat sejenak dari konser, aku bisa berjalan-jalan menikmati berbagai aktivitas menarik yang disediakan para sponsor.
Booth Mild Spot, Erafone, myBCA, Telkomsel, Blue Bird, Teh Botol Sosro, BYD, TUKU, hingga Garuda Lounge menjadi beberapa area yang ramai dikunjungi pengunjung. Selain aktivitas interaktif yang seru, banyak juga hadiah dan gimmick menarik yang bisa didapatkan.
Soal makanan, aku cukup sering mampir ke area Teh Botol Sosro yang menurutku menjadi salah satu spot favorit pengunjung. Pilihan makanannya lengkap, banyak promo menarik, dan pembayaran menggunakan myBCA membuat transaksi menjadi lebih praktis. Aku bahkan beberapa kali membeli Teh Botol dan senang mengetahui bahwa mereka menyediakan refill es batu gratis. Bagi pengunjung yang membawa tumbler, tersedia juga refill sesuai ukuran tumbler yang dibawa.
Sementara itu, di dalam Telkomsel Hall tersedia gerai Tuku yang menjadi penyelamat saat energi mulai menurun dan butuh tambahan kopi untuk melanjutkan petualangan musik.
Fasilitas lain yang patut diapresiasi adalah mushola yang ukurannya bahkan lebih mirip masjid mini. Area ibadah ini luas, bersih, full AC, dan nyaman digunakan untuk beristirahat sejenak sebelum kembali menikmati pertunjukan.
Hal lain yang menurutku patut diapresiasi adalah sistem keamanan dan pengelolaan pengunjung yang sangat baik.
Sebelum masuk area festival, pemeriksaan tiket dilakukan dengan cukup ketat. Pengunjung diwajibkan membawa identitas diri seperti KTP dan seluruh barang bawaan dalam tas juga diperiksa oleh petugas keamanan.
Bahkan ketika ingin keluar sementara dari area venue, tiket tetap harus diperlihatkan dan dipindai kembali. Hal yang sama juga berlaku saat masuk kembali maupun ketika meninggalkan area festival.
Meski prosesnya cukup detail, semuanya berjalan cepat dan tertib sehingga tidak mengganggu kenyamanan pengunjung.
Kalau ditanya apa yang paling berkesan dari myBCA International Java Jazz Festival 2026, jawabanku sederhana: nostalgia.
Selama tiga hari berada di sana, aku seperti diajak kembali ke masa-masa SMP dan SMA. Banyak lagu yang dibawakan para musisi mengingatkanku pada berbagai fase kehidupan. Lagu-lagu yang dulu sering diputar di radio, yang menemani belajar, perjalanan sekolah, sampai lagu-lagu yang masih rutin masuk playlist Spotify-ku sampai hari ini.
Yang paling menyenangkan adalah momen ketika ribuan orang menyanyikan lagu yang sama secara bersamaan. Tidak saling mengenal, tetapi memiliki kenangan yang serupa.
Dan mungkin itulah alasan kenapa aku selalu kembali ke Java Jazz.
Karena lebih dari sekadar festival musik, Java Jazz adalah tempat untuk merayakan kenangan, menemukan lagu-lagu baru, dan sesekali mengobati rindu pada versi diri kita di masa lalu.
Sampai bertemu lagi di Java Jazz berikutnya, dengan lagu-lagu baru dan kenangan baru yang siap diciptakan.
Rayap sering dianggap hanya sebagai serangga kecil pemakan kayu. Padahal, di balik ukurannya yang kecil, rayap memiliki sistem komunikasi yang sangat teratur. Mereka tidak bergerak secara acak. Dalam satu koloni, rayap bisa saling memberi tanda, mengikuti jalur, mencari makanan, dan melindungi sarang dengan cara yang sangat terorganisir.
Inilah salah satu alasan kenapa serangan rayap bisa menyebar dari satu titik ke titik lain tanpa disadari. Saat rayap menemukan sumber makanan seperti kayu, kardus, kertas, atau furniture, mereka bisa memberi “sinyal” kepada koloni lainnya untuk mengikuti jalur tersebut.
Ada satu hal yang selalu bikin aku senang saat menemukan coffee shop baru di Jakarta: ketika tempatnya bukan cuma estetik untuk foto-foto, tapi juga nyaman untuk duduk berjam-jam. Entah untuk kerja, meeting santai, atau sekadar ngobrol panjang bersama teman dan keluarga.
Dan jujur saja, itulah kesan pertama yang aku rasakan saat berkunjung ke The Full Yolk – All Day Cafe yang berlokasi di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.
Kalau dipikir-pikir, semakin dewasa tuh standar “tempat makan favorit” jadi berubah ya.
Dulu mungkin yang dicari tempat hits, lampu estetik, atau makanan viral yang rame di TikTok. Tapi sekarang? Yang dicari justru tempat yang bikin semua orang nyaman. Dari anak kecil sampai orang tua bisa menikmati makan tanpa drama.
Dan jujur aja, itu yang aku rasain waktu makan di MAKAN BAWAH POHON.
Ada satu hal yang selalu bikin aku jatuh cinta sama festival musik: perasaan pulang.
Pulang ke lagu-lagu yang pernah nemenin perjalanan hidup. Pulang ke suara saxophone yang hangat, dentuman bass yang bikin hati tenang, sampai lirik-lirik soul dan R&B yang rasanya kayak ngobrol langsung sama perasaan sendiri.
Dan buat aku pribadi, Java Jazz selalu punya tempat spesial.
Pernah gak sih kalian merasa hidup tuh kayak… capek aja dari kecil?
Bukan karena hidup selalu buruk. Tapi rasanya dari dulu selalu ada aja yang dipikirin. Selalu ada tanggung jawab. Selalu ada hal yang bikin kita harus kuat, bahkan sebelum benar-benar siap jadi orang kuat.
Jakarta, 7 Mei, 2026 - Industri kerja profesional kini mengalami transformasi cepat dengan hadirnya teknologi kecerdasan buatan yang semakin canggih. Kebutuhan akan laptop bisnis yang mampu mengakomodasi produktivitas tinggi sekaligus menjaga keamanan data menjadi semakin penting.
Pernahkah kamu merasa seolah-olah sedang memikul ransel yang sangat berat, tapi anehnya, kamu tidak tahu apa isi di dalamnya? Ransel itu tidak pernah lepas, bahkan saat kamu mencoba tidur di malam hari. Rasanya sesak, melelahkan, dan perlahan-lahan mengikis energimu sampai habis. Di tengah pencarian jawaban atas beban itu, aku menemukan sebuah titik terang melalui Dandiah Care, sebuah pusat konseling dan edukasi keluarga yang diinisiasi oleh pasangan inspiratif Dandi Birdy, S.Psi. dan Diah Mahmudah, S.Psi., Psikolog. Melalui wadah hangat yang mereka bangun, aku merasa menemukan tempat untuk kembali "pulang" dan memproses luka-luka yang selama ini tersembunyi.
Sebab jujur saja, kondisiku memang sedang tidak baik-baik saja. Belum lama ini, setelah melalui rangkaian sesi yang panjang dan melelahkan, seorang psikolog menatapku dengan empati dan membacakan hasil diagnosanya: Functional Depressive Disorder, Panic Syndrome, Anxiety, dan PTSD.
Jujur ya, dulu aku termasuk yang mikir: “yang penting uang cukup sampai akhir bulan.” Udah. Nggak terlalu kepikiran soal strategi, apalagi literasi keuangan yang proper. Tapi semua berubah sejak aku resmi menyandang “double role”: working mom sekaligus “menteri keuangan” di rumah sendiri.
Pernah merasa website kamu makin lambat padahal kontennya sudah dioptimasi? Atau traffic naik tapi performa justru turun? Situasi seperti ini sebenarnya cukup umum, terutama bagi website owner yang masih bertahan di hosting dengan resource terbatas.
Kalau boleh jujur, performa website itu bukan cuma soal plugin cache atau optimasi gambar. Dari pengalaman saya lebih dari 5 tahun di bidang ini, faktor terbesar justru ada di fondasi server yang digunakan. Jadi, pertanyaannya sekarang: apakah server kamu sudah cukup kuat menopang kebutuhan website saat ini?
Jujur aja, ini salah satu liburan yang bikin jantungku kerja lembur. Bukan karena naik ELF dari Jakarta ke Yogyakarta bareng anak dan orangtua—itu sudah pasti capek—tapi karena aku sempat berpikir, “Kenapa tadi kita ke Goa Pindul tanpa tour guide, sih?” Di momen itu, aku berdiri sebagai ibu yang menggandeng anak SMP dan menemani orangtua, sambil berusaha tetap tenang di tengah rasa was-was. Untungnya, di perjalanan yang hampir apes itu, kami dipertemukan dengan orang baik—yang akhirnya mengubah liburan ini bukan jadi trauma, tapi justru jadi cerita petualangan keluarga yang akan selalu kami kenang.
Kalau kamu lagi baca ini sambil ngopi, kita satu frekuensi.
Aku tuh tipe orang yang tiap beberapa waktu sekali bilang ke diri sendiri: “Mulai besok harus hidup lebih sehat.” Minum air putih cukup, kurangin gula, tidur lebih teratur… ya walaupun realitanya gak selalu sesuai rencana 😄
Tes IELTS (International English Language Testing System) telah diambil lebih dari 30 juta kali sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 1980-an. Setiap minggunya, sekitar 60.000 orang memilih IELTS untuk membuktikan kemampuan bahasa Inggris sekaligus mencapai tujuan. Jika kamu ingin mendapatkan skor tinggi, luangkan waktu untuk mempelajari apa saja tips umum persiapan tes IELTS.
IELTS dirancang untuk membantu kamu mempersiapkan diri bekerja atau melanjutkan studi di negara baru dengan percaya diri. Lebih dari 12.500 institusi di seluruh dunia menerima hasil tes IELTS. Universitas ternama dunia seperti University of Cambridge, University of Oxford, Harvard, dan Princeton juga menerima IELTS.
Deploy aplikasi ke server production sering kali terasa menegangkan, bahkan bagi developer berpengalaman. Banyak developer maupun freelancer teknis yang awalnya terbiasa dengan shared hosting atau layanan managed hosting wordpress, lalu beralih ke VPS demi kontrol penuh dan fleksibilitas yang lebih luas.
Kalau ditanya, “lagi belajar apa sekarang?” jawabannya mungkin bukan satu hal yang spesifik. Lebih ke… perjalanan. Perjalanan belajar yang pelan-pelan membentuk cara pandang, cara kerja, dan bahkan arah yang ingin aku tuju ke depan.
Tahun 2026 ini, aku mulai melihat ke belakang—dan menyadari bahwa proses belajar yang aku jalani selama ini bukan sesuatu yang instan. Semua berawal dari rasa penasaran, lalu berkembang jadi pengalaman, dan akhirnya menjadi bekal yang lebih matang.
Kadang aku suka mikir, dunia tuh jalannya cepat banget ya. Rasanya baru kemarin kita adaptasi dengan dunia digital, eh sekarang sudah mulai ngomongin masa depan: pekerjaan apa yang masih relevan? skill apa yang masih “kepake”? dan kita harus ke arah mana?
Sebagai perempuan, ibu, sekaligus pekerja yang juga berkecimpung di dunia komunitas dan penulisan, pertanyaan itu bukan cuma lewat di kepala—tapi juga terasa cukup dekat.
Pelan-pelan aku mulai menemukan satu benang merah. Bahwa ke depan, ada tiga sektor yang akan terus tumbuh dan membuka banyak peluang. Bukan cuma untuk profesional di bidang tertentu, tapi juga untuk kita yang punya pengalaman hidup, empati, dan kemampuan bercerita.
Digital economy bukan hal baru. Tapi yang sering kita lupa, ini bukan cuma soal teknologi—tapi tentang bagaimana manusia tetap terhubung lewat teknologi.
Hari ini, hampir semua aktivitas berpindah ke digital. Mulai dari belanja, belajar, sampai membangun komunitas. Bahkan peran seperti Community Manager atau KOL Admin yang dulu mungkin belum terlalu dikenal, sekarang justru jadi salah satu kunci dalam strategi brand.
Aku sendiri ngerasa, pengalaman menulis blog, bikin caption, sampai mengelola komunikasi di komunitas ternyata punya tempat di sini. Karena di balik angka engagement dan algoritma, tetap ada satu hal yang nggak berubah: manusia butuh merasa dipahami.
Dan di situlah storytelling jadi penting.
Isu lingkungan sekarang bukan lagi sesuatu yang “jauh”. Kita lihat sendiri bagaimana perubahan kecil di sekitar kita bisa berdampak besar.
Green economy hadir sebagai jawaban—bagaimana kita tetap bertumbuh secara ekonomi tanpa mengorbankan lingkungan.
Dalam beberapa pengalaman yang aku jalani, terutama saat terlibat dalam kegiatan komunitas dan program sosial, aku mulai sadar bahwa peran komunikasi di sini juga penting. Bagaimana menyampaikan pesan lingkungan dengan cara yang lebih dekat, lebih membumi, dan lebih bisa diterima.
Karena perubahan besar sering dimulai dari cerita-cerita kecil yang konsisten disampaikan.
Kalau dulu sukses sering diukur dari seberapa sibuk kita, sekarang mulai bergeser. Banyak orang mulai sadar bahwa kesehatan mental, keseimbangan hidup, dan kebahagiaan juga sama pentingnya.
Inilah yang disebut wellness economy.
Buat aku pribadi, sebagai ibu yang menjalani banyak peran dalam satu waktu, topik ini terasa sangat dekat. Kadang bukan soal kita bisa atau tidak melakukan semuanya, tapi bagaimana kita tetap “waras” menjalaninya.
Menariknya, kebutuhan akan wellness ini juga membuka banyak peluang. Mulai dari konten tentang kehidupan sehari-hari, parenting, self-care, sampai komunitas yang saling menguatkan.
Dan lagi-lagi, aku melihat satu benang merah yang sama: cerita.
Cerita yang jujur, yang relate, yang mungkin sederhana—tapi bisa bikin orang lain merasa “aku nggak sendiri”.
Dari tiga sektor ini—digital, green, dan wellness—aku belajar satu hal penting.
Bahwa masa depan bukan cuma milik mereka yang punya skill teknis tinggi, tapi juga untuk mereka yang:
Sebagai ibu, pekerja, dan juga penulis, aku mungkin nggak selalu berada di garis depan teknologi. Tapi aku percaya, selalu ada ruang untuk berkontribusi.
Karena pada akhirnya, masa depan bukan cuma tentang perubahan besar. Tapi tentang bagaimana kita tetap relevan dengan cara kita sendiri.
Punya mini library di rumah itu, buatku, bukan soal estetik atau ikut-ikutan tren. Lebih dari itu, ini tentang menciptakan ruang pulang—tempat di mana kepala yang sering penuh ini bisa istirahat, dan hati yang kadang riuh bisa pelan-pelan ditenangkan.
Tapi ya… realitanya nggak sesederhana itu.
Dulu, rasanya hidup ramai sekali.
Kalender penuh. Chat grup aktif. Weekend selalu ada agenda—nongkrong, makan siang bareng, ngopi cantik, atau sekadar kumpul tanpa tujuan yang jelas. Rasanya menyenangkan punya banyak teman. Ada rasa “hidup banget” ketika notifikasi tak pernah sepi.
Tapi sekarang, di usia 40-an, aku mulai menyadari sesuatu.
Circle pertemanan itu bukan semakin luas. Justru semakin menyempit.
Dan anehnya… aku baik-baik saja.
Beberapa tahun terakhir, aku—seorang millennial yang tumbuh di era transisi analog ke digital—punya kesempatan bekerja sangat dekat dengan Gen Z. Mulai dari jadi Social Media Lead di digital agency dan startup kesehatan dengan tim mayoritas Gen Z, sampai pernah satu tim di Corporate Secretary yang isinya Gen Z semua.
Dan jujur, itu pengalaman yang membuka mata.
Refleksi personal tentang era blogging tahun 2016, ketika blog menjadi side hustle yang membuka peluang networking, monetisasi, dan perjalanan menjadi content creator profesional.
Ada satu masa yang selalu terasa hangat setiap kali diingat: tahun 2016. Tahun ketika blogging bukan sekadar hobi pengisi waktu luang, tapi mulai berubah menjadi sesuatu yang serius. Sesuatu yang pelan-pelan punya arah. Punya potensi. Bahkan, punya nilai.
Malam ini aku kepikiran satu hal: jadi perempuan di zaman sekarang itu rasanya seperti punya banyak “tab” yang selalu terbuka di kepala.
Ada masa dalam hidup ketika kita percaya bahwa menjadi orang baik saja sudah cukup.
Ada yang percaya nggak, kalau makanan itu bukan cuma soal rasa, tapi juga soal kenangan?
Aku termasuk yang gampang sekali “tersentak” cuma karena mencium aroma tertentu. Bau tumisan bawang putih di pagi hari saja sudah bisa langsung melemparkanku ke dapur kecil rumah masa kecil. Di sana ada Mamah, dengan daster andalannya, rambut dicepol seadanya, tapi tangannya ajaib. Dari dapur sederhana itu, lahir resep-resep yang sampai sekarang masih menempel kuat di ingatanku