Ada masa dalam hidup ketika kita percaya bahwa menjadi orang baik saja sudah cukup.
Aku tipe orang yang percaya kalau kita datang dengan niat baik, dunia akan menyambut dengan niat baik juga. Jadi aku terbiasa menyapa duluan, tersenyum duluan, dan percaya duluan. Rasanya hidup lebih ringan kalau kita tidak curiga pada siapa pun.
Dan jujur saja, prinsip itu sebenarnya indah. Berbaik sangka membuat hati kita tetap hangat. Kita tidak mudah dipenuhi rasa curiga, tidak cepat menilai orang dari sisi buruknya.
Tapi hidup, seperti langit, ternyata tidak selalu cerah.
Seiring waktu, aku mulai sadar bahwa tidak semua orang yang datang dalam hidup kita benar-benar ingin tinggal. Tidak semua yang mendekat punya niat untuk peduli. Ada yang hadir hanya saat suasana sedang terang. Saat kita terlihat kuat, menyenangkan, atau bisa menjadi tempat nyaman bagi mereka.
Mereka datang, bercengkrama, tertawa, dan seolah semuanya terasa baik-baik saja.
Namun ketika mendung mulai muncul—saat kita sedang lelah, rapuh, atau tidak lagi bisa menjadi tempat paling menyenangkan—perlahan mereka menjauh. Tanpa banyak kata, tanpa penjelasan.
Dan jujur saja, yang paling terasa bukanlah perginya mereka.
Rasanya seperti sedang berdiri di bawah hujan dengan payung yang dulu sempat kita pinjamkan pada orang lain.
Dari pengalaman-pengalaman kecil seperti itulah aku mulai belajar sesuatu yang mungkin tidak pernah diajarkan secara langsung.
Berprasangka baik tetap penting. Tapi berprasangka baik bukan berarti kita harus menyerahkan seluruh diri kita begitu saja.
Ada perbedaan besar antara tulus dan terlalu polos.
Dulu aku sering berpikir bahwa menjadi orang baik berarti harus selalu terbuka sepenuhnya. Harus selalu mengerti, selalu memaklumi, selalu memberi ruang seluas-luasnya untuk orang lain.
Sekarang aku mulai paham, ternyata menjaga diri juga bagian dari kebaikan itu sendiri.
Hati kita boleh terbuka, tetapi tidak semua orang harus memegang kuncinya.
Kita tetap bisa ramah tanpa harus terlalu dalam. Kita tetap bisa peduli tanpa harus selalu mengorbankan diri sendiri. Dan kita tetap bisa berbaik sangka tanpa harus menutup mata pada kenyataan.
Karena pada akhirnya, hidup memang seperti langit.
Kadang cerah, kadang mendung, kadang hujan datang tanpa peringatan. Kita tidak selalu bisa mengatur siapa yang datang dan pergi. Tidak semua orang yang singgah ditakdirkan untuk tinggal.
Dan itu tidak apa-apa.
Yang penting, kita tetap menjadi diri yang baik—tanpa harus kehilangan batas. Tetap menjadi langit yang luas—tanpa harus membiarkan semua orang bebas mengambil bagian dari diri kita.
Sekarang aku masih berusaha berprasangka baik pada orang lain. Tapi ada satu hal yang juga selalu kuingatkan pada diri sendiri:
Kalau suatu hari awan gelap datang, aku sudah belajar untuk membawa payungku sendiri.
Bukan karena aku tidak lagi percaya pada orang lain, tetapi karena aku akhirnya belajar untuk tetap menjaga diriku sendiri.









Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)