Jujur ya...
Menjadi orang dewasa ternyata bukan soal kuat atau nggaknya kita menghadapi hidup.
Tapi soal... seberapa pintar kita merawat diri, supaya tetap bisa menjalankan semua peran yang kita punya.
Jujur ya...
Menjadi orang dewasa ternyata bukan soal kuat atau nggaknya kita menghadapi hidup.
Tapi soal... seberapa pintar kita merawat diri, supaya tetap bisa menjalankan semua peran yang kita punya.
Jujur ya, dulu aku termasuk orang yang kalau beli mesin cuci cuma lihat dua hal: kapasitas dan harga. Pokoknya yang penting muat banyak dan sesuai budget. Sampai akhirnya tagihan listrik di rumah mulai terasa naik, baru deh kepikiran, jangan-jangan selama ini aku salah pilih mesin cuci. Dari situ aku baru sadar kalau teknologi yang digunakan ternyata jauh lebih berpengaruh dibanding sekadar besar kecilnya kapasitas.
"Jangan beli yang murah kalau ujung-ujungnya tagihan listrik malah bikin pusing."
Kalau dipikir-pikir, semakin dewasa tuh standar “tempat makan favorit” jadi berubah ya.
Dulu mungkin yang dicari tempat hits, lampu estetik, atau makanan viral yang rame di TikTok. Tapi sekarang? Yang dicari justru tempat yang bikin semua orang nyaman. Dari anak kecil sampai orang tua bisa menikmati makan tanpa drama.
Dan jujur aja, itu yang aku rasain waktu makan di MAKAN BAWAH POHON.
Ada satu hal yang selalu bikin aku jatuh cinta sama festival musik: perasaan pulang.
Pulang ke lagu-lagu yang pernah nemenin perjalanan hidup. Pulang ke suara saxophone yang hangat, dentuman bass yang bikin hati tenang, sampai lirik-lirik soul dan R&B yang rasanya kayak ngobrol langsung sama perasaan sendiri.
Dan buat aku pribadi, Java Jazz selalu punya tempat spesial.
Pernahkah kamu merasa seolah-olah sedang memikul ransel yang sangat berat, tapi anehnya, kamu tidak tahu apa isi di dalamnya? Ransel itu tidak pernah lepas, bahkan saat kamu mencoba tidur di malam hari. Rasanya sesak, melelahkan, dan perlahan-lahan mengikis energimu sampai habis. Di tengah pencarian jawaban atas beban itu, aku menemukan sebuah titik terang melalui Dandiah Care, sebuah pusat konseling dan edukasi keluarga yang diinisiasi oleh pasangan inspiratif Dandi Birdy, S.Psi. dan Diah Mahmudah, S.Psi., Psikolog. Melalui wadah hangat yang mereka bangun, aku merasa menemukan tempat untuk kembali "pulang" dan memproses luka-luka yang selama ini tersembunyi.
Sebab jujur saja, kondisiku memang sedang tidak baik-baik saja. Belum lama ini, setelah melalui rangkaian sesi yang panjang dan melelahkan, seorang psikolog menatapku dengan empati dan membacakan hasil diagnosanya: Functional Depressive Disorder, Panic Syndrome, Anxiety, dan PTSD.
Kalau kamu lagi baca ini sambil ngopi, kita satu frekuensi.
Aku tuh tipe orang yang tiap beberapa waktu sekali bilang ke diri sendiri: “Mulai besok harus hidup lebih sehat.” Minum air putih cukup, kurangin gula, tidur lebih teratur… ya walaupun realitanya gak selalu sesuai rencana 😄
Tes IELTS (International English Language Testing System) telah diambil lebih dari 30 juta kali sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 1980-an. Setiap minggunya, sekitar 60.000 orang memilih IELTS untuk membuktikan kemampuan bahasa Inggris sekaligus mencapai tujuan. Jika kamu ingin mendapatkan skor tinggi, luangkan waktu untuk mempelajari apa saja tips umum persiapan tes IELTS.
IELTS dirancang untuk membantu kamu mempersiapkan diri bekerja atau melanjutkan studi di negara baru dengan percaya diri. Lebih dari 12.500 institusi di seluruh dunia menerima hasil tes IELTS. Universitas ternama dunia seperti University of Cambridge, University of Oxford, Harvard, dan Princeton juga menerima IELTS.
Kalau ditanya, “lagi belajar apa sekarang?” jawabannya mungkin bukan satu hal yang spesifik. Lebih ke… perjalanan. Perjalanan belajar yang pelan-pelan membentuk cara pandang, cara kerja, dan bahkan arah yang ingin aku tuju ke depan.
Tahun 2026 ini, aku mulai melihat ke belakang—dan menyadari bahwa proses belajar yang aku jalani selama ini bukan sesuatu yang instan. Semua berawal dari rasa penasaran, lalu berkembang jadi pengalaman, dan akhirnya menjadi bekal yang lebih matang.
Punya mini library di rumah itu, buatku, bukan soal estetik atau ikut-ikutan tren. Lebih dari itu, ini tentang menciptakan ruang pulang—tempat di mana kepala yang sering penuh ini bisa istirahat, dan hati yang kadang riuh bisa pelan-pelan ditenangkan.
Tapi ya… realitanya nggak sesederhana itu.
Beberapa tahun terakhir, aku—seorang millennial yang tumbuh di era transisi analog ke digital—punya kesempatan bekerja sangat dekat dengan Gen Z. Mulai dari jadi Social Media Lead di digital agency dan startup kesehatan dengan tim mayoritas Gen Z, sampai pernah satu tim di Corporate Secretary yang isinya Gen Z semua.
Dan jujur, itu pengalaman yang membuka mata.
Refleksi personal tentang era blogging tahun 2016, ketika blog menjadi side hustle yang membuka peluang networking, monetisasi, dan perjalanan menjadi content creator profesional.
Ada satu masa yang selalu terasa hangat setiap kali diingat: tahun 2016. Tahun ketika blogging bukan sekadar hobi pengisi waktu luang, tapi mulai berubah menjadi sesuatu yang serius. Sesuatu yang pelan-pelan punya arah. Punya potensi. Bahkan, punya nilai.
Ada yang percaya nggak, kalau makanan itu bukan cuma soal rasa, tapi juga soal kenangan?
Aku termasuk yang gampang sekali “tersentak” cuma karena mencium aroma tertentu. Bau tumisan bawang putih di pagi hari saja sudah bisa langsung melemparkanku ke dapur kecil rumah masa kecil. Di sana ada Mamah, dengan daster andalannya, rambut dicepol seadanya, tapi tangannya ajaib. Dari dapur sederhana itu, lahir resep-resep yang sampai sekarang masih menempel kuat di ingatanku
Pernah nggak sih ngerasa sahur itu kayak lomba cepat-cepatan sama waktu? Bangun masih setengah sadar, dapur sepi, tapi badan tahu kalau harus makan yang cukup supaya kuat sampai sore. Nah, artikel ini cocok banget buat kamu yang pengen sahur tetap hangat, praktis, tapi nggak asal kenyang. Di sini aku mau share ide menu sahur yang realistik, gampang dipraktikkan, dan bisa langsung kamu coba tanpa drama di dapur. Jadi baca sampai habis ya, siapa tahu besok sahur kamu jadi jauh lebih santai. So, shall we start now?
Ada satu kebiasaan kecil yang tanpa sadar menjadi bagian dari rutinitasku beberapa tahun terakhir: membuka YouTube, lalu mencari sesuatu untuk ditonton—bukan sekadar hiburan, tapi sesuatu yang bisa membuatku berpikir, merasa tenang, atau bahkan melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda.
Pernah nggak sih merasa bisa berbaur di mana saja, ngobrol nyambung, tertawa bareng, tapi di dalam hati tetap ada jarak yang sulit dijelaskan? Secara luar terlihat baik-baik saja, bahkan sering dianggap ramah dan mudah bergaul. Tapi di dalam, rasanya seperti selalu memikirkan sesuatu lebih dalam dari kebanyakan orang. Lama-lama capek juga harus terus menyesuaikan diri, seolah dunia berjalan dengan ritme yang tidak selalu sama dengan kita. Sampai akhirnya sadar, mungkin tujuannya bukan untuk menjadi sama, tapi menemukan cara hidup yang lebih tenang tanpa kehilangan diri sendiri.
Tanggal 13 Februari tahun ini terasa berbeda. Bukan karena ada perayaan besar atau sesuatu yang luar biasa, tapi karena aku sadar satu hal: sepanjang 2025, aku tidak hanya menulis blog. Aku sedang belajar mengenali diri sendiri, pelan-pelan, lewat tulisan.
Dulu, haid sering dianggap sebagai sesuatu yang harus dilewati begitu saja. Tetap produktif, tetap aktif, tetap kuat seperti hari biasa. Padahal semakin ke sini aku sadar, tubuh perempuan sebenarnya sedang bekerja lebih keras setiap bulannya. Dan mungkin, yang kita butuhkan bukan memaksa diri tetap sama, tapi belajar menyesuaikan ritme.
Saat web agency atau software house dapat klien baru, ada satu fase krusial yang sering disepelekan: audit server awal.
Beberapa tahun terakhir, aku mulai menyadari kalau rasa puas itu ternyata bukan datang dari seringnya membeli barang baru, tapi dari kemampuan merawat dan memaksimalkan apa yang sudah kita punya. Pelan-pelan, tanpa sadar, gaya hidup ini membentuk kebiasaan baru dalam hidupku: lebih minimalis, lebih sadar kebutuhan, dan ternyata… jauh lebih menenangkan.