Dulu, haid sering dianggap sebagai sesuatu yang harus dilewati begitu saja. Tetap produktif, tetap aktif, tetap kuat seperti hari biasa. Padahal semakin ke sini aku sadar, tubuh perempuan sebenarnya sedang bekerja lebih keras setiap bulannya. Dan mungkin, yang kita butuhkan bukan memaksa diri tetap sama, tapi belajar menyesuaikan ritme.
Haid bukan hanya soal siklus bulanan. Ada perubahan hormon, energi yang naik turun, emosi yang lebih sensitif, sampai kondisi fisik yang kadang terasa lebih cepat lelah. Wajar kalau tubuh meminta jeda. Sayangnya, kita sering baru sadar setelah badan terasa benar-benar kehabisan tenaga.
Belajar mendengarkan tubuh sendiri akhirnya jadi salah satu bentuk self care paling sederhana, tapi sering terlupakan.
Mengatur Aktivitas Tanpa Rasa Bersalah
Dulu rasanya aneh kalau harus mengurangi aktivitas saat haid. Seolah-olah itu tanda lemah. Padahal sebenarnya tubuh hanya sedang mengalihkan energi untuk proses alami yang sedang terjadi.
Sekarang, aku lebih memilih aktivitas yang ringan di hari-hari awal. Jalan santai, pekerjaan yang tidak terlalu menuntut fisik, atau sekadar memberi waktu lebih untuk istirahat. Anehnya, justru setelah itu energi kembali lebih stabil.
Pelan-pelan aku belajar bahwa produktif tidak selalu berarti memaksakan diri setiap saat.
Memperhatikan Apa yang Dikonsumsi Saat Haid
Hal lain yang sering tidak disadari adalah apa yang kita konsumsi selama haid, termasuk minuman sehari-hari. Beberapa jenis minuman ternyata bisa membuat tubuh terasa lebih tidak nyaman, seperti perut kembung atau nyeri yang terasa lebih intens.
Hal kecil seperti pilihan minuman sering dianggap sepele, padahal efeknya bisa terasa sepanjang hari. Karena itu, penting untuk tahu jenis minuman yang perlu dihindari saat haid, supaya tubuh tetap terasa lebih ringan dan tidak mudah lelah selama menstruasi.
Sebaliknya, memperbanyak air putih atau minuman hangat sering membantu tubuh terasa lebih rileks.
Mengelola Emosi dengan Lebih Lembut
Perubahan suasana hati saat haid juga sering disalahpahami. Padahal perubahan hormon memang bisa memengaruhi emosi. Yang dulu sering aku lakukan adalah menyalahkan diri sendiri karena merasa lebih sensitif.
Sekarang, pendekatannya berbeda. Kalau sedang mudah lelah atau emosional, aku mencoba memberi jeda. Mengurangi hal-hal yang memicu stres, tidur lebih awal, atau sekadar memberi ruang untuk tidak selalu baik-baik saja.
Kadang yang dibutuhkan bukan solusi cepat, tapi penerimaan bahwa tubuh memang sedang butuh perhatian lebih.
Haid Sebagai Sinyal untuk Mengenal Tubuh Lebih Baik
Semakin bertambah usia, aku justru melihat siklus haid sebagai cara tubuh memberi sinyal. Ketika pola tidur berantakan, stres meningkat, atau pola makan tidak terjaga, biasanya siklus ikut berubah.
Dari situ aku belajar bahwa kesehatan wanita bukan hanya soal mengatasi rasa tidak nyaman saat haid, tapi bagaimana menjalani gaya hidup yang lebih ramah terhadap tubuh sendiri. Hal-hal kecil seperti istirahat cukup, memilih konsumsi yang tepat, dan mengatur aktivitas ternyata punya dampak besar dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, haid mengajarkan satu hal sederhana: tubuh punya ritmenya sendiri. Dan ketika kita mulai mendengarkan, semuanya terasa sedikit lebih ringan untuk dijalani.

.png)
.png)
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)