Ada fase dalam hidup ketika semuanya terasa berjalan cepat, tapi anehnya kita justru merasa kosong. Rutinitas tetap ada, pekerjaan selesai, tanggung jawab terpenuhi, tapi ada bagian kecil dalam diri yang seperti tertinggal. Dari situlah aku mulai sadar, mungkin yang aku butuhkan bukan liburan jauh atau perubahan besar, melainkan kembali terkoneksi dengan diri sendiri.
Buatku, merasa lebih hidup bukan soal melakukan hal-hal spektakuler. Justru sebaliknya — tentang memberi ruang untuk hal-hal sederhana yang sering kita anggap sepele.Salah satu cara paling ampuh yang selalu berhasil adalah mendengarkan musik sambil menulis artikel blog. Ada sesuatu yang magis ketika musik mengalun pelan di latar belakang, lalu kata-kata mengalir tanpa terasa. Musik seperti membuka pintu emosi yang kadang sulit dijelaskan. Menulis bukan lagi sekadar pekerjaan atau konten, tapi menjadi ruang refleksi. Di situ aku bisa jujur pada diri sendiri, menuangkan keresahan, atau sekadar merapikan isi kepala yang berisik.
Selain itu, menonton drama Korea juga jadi cara sederhana untuk reconnect. Bukan cuma karena ceritanya, tapi karena drama sering mengajak kita merasakan emosi yang mungkin lama kita pendam. Tertawa, kesal, atau bahkan menangis — semuanya terasa seperti pengingat bahwa kita masih bisa merasa. Kadang, melihat perjalanan karakter lain justru membuat kita lebih memahami perjalanan diri sendiri.
Ada juga momen favoritku: ngopi sendirian di cafe, bengong, lalu menulis. Kedengarannya sederhana, tapi justru di momen-momen tanpa distraksi itu pikiran jadi lebih jernih. Mengamati orang lalu lalang, mendengar suara mesin kopi, atau sekadar melihat cahaya sore masuk dari jendela — semua terasa grounding. Tidak harus selalu produktif. Kadang duduk diam tanpa tujuan pun sudah cukup untuk mengisi ulang energi.
Sebagai seseorang yang cenderung introvert — tipikal Aquarius dan INFJ — aku juga belajar bahwa menarik diri dari hiruk pikuk dunia bukan berarti lari, tapi bentuk perawatan diri. Ada masa ketika terlalu banyak suara dari luar membuat kita kehilangan suara sendiri. Dengan mengambil jarak, aku justru bisa kembali lebih utuh. Lebih tahu apa yang benar-benar aku mau, bukan sekadar mengikuti ekspektasi sekitar.
Hal lain yang membuatku merasa hidup adalah membuat desain untuk media blog. Proses memilih warna, font, dan visual ternyata bukan hanya soal estetika. Ada kepuasan tersendiri ketika ide di kepala berubah menjadi sesuatu yang bisa dilihat. Kreativitas memberi ruang bernapas, sekaligus mengingatkan bahwa kita masih punya kemampuan untuk menciptakan sesuatu dari nol.
Dari semua kebiasaan kecil ini, aku belajar satu hal penting: terkoneksi dengan diri sendiri tidak selalu membutuhkan waktu khusus atau ritual yang rumit. Kadang cukup dengan memberi izin pada diri untuk melambat. Tidak selalu harus sibuk. Tidak selalu harus terlihat produktif.
Justru ketika kita berhenti sejenak, kita bisa mendengar apa yang selama ini tenggelam oleh kebisingan.
Di tengah dunia yang terus mendorong kita untuk bergerak lebih cepat, memilih untuk berhenti sebentar adalah bentuk keberanian. Dan dari situlah, pelan-pelan, rasa hidup itu kembali datang — bukan karena hidup berubah drastis, tapi karena kita akhirnya hadir sepenuhnya di dalamnya.
Mungkin caranya berbeda untuk setiap orang. Tapi kalau akhir-akhir ini kamu merasa lelah tanpa alasan yang jelas, coba tanyakan ke diri sendiri: kapan terakhir kali benar-benar duduk diam dan mendengarkan isi kepala sendiri?
Siapa tahu, jawaban yang kamu cari sebenarnya sudah ada di sana sejak lama.




Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)