Tanggal 13 Februari tahun ini terasa berbeda. Bukan karena ada perayaan besar atau sesuatu yang luar biasa, tapi karena aku sadar satu hal: sepanjang 2025, aku tidak hanya menulis blog. Aku sedang belajar mengenali diri sendiri, pelan-pelan, lewat tulisan.
Kalau diingat lagi, awal 2025 aku menulis dengan tujuan yang cukup sederhana. Ingin konsisten. Ingin tetap produktif. Ingin punya ruang untuk menuangkan isi kepala yang sering terlalu ramai. Tapi ternyata, perjalanan menulis itu tidak pernah sesederhana duduk, mengetik, lalu selesai. Ada fase ragu, ada masa kosong ide, ada juga momen bertanya, “Tulisan ini ada yang membaca nggak ya?”
Dan ternyata, pertanyaan itu penting. Bukan karena butuh validasi, tapi karena di situlah aku belajar bahwa menulis blog bukan hanya soal dilihat orang lain. Kadang, tulisan itu justru jadi cara kita melihat diri sendiri dengan lebih jujur.
Sepanjang 2025, aku mulai menyadari perubahan kecil dalam cara menulis. Dulu, aku sering ingin tulisan terlihat rapi, sempurna, dan terasa “benar”. Tapi semakin sering menulis, aku justru merasa tulisan yang paling dekat dengan pembaca adalah tulisan yang tidak terlalu dibuat-buat. Tulisan yang lahir dari pengalaman sehari-hari. Dari hal sederhana. Dari cerita yang mungkin juga dialami banyak orang, tapi jarang diucapkan.
Ada hari di mana menulis terasa ringan. Kata-kata mengalir tanpa dipaksa. Tapi ada juga hari di mana membuka laptop saja rasanya berat. Dan di situlah aku belajar satu hal penting: konsisten bukan berarti selalu mudah. Konsisten berarti tetap datang, bahkan ketika tidak sedang ingin.
Menulis blog di tahun 2025 juga mengajarkanku untuk berdamai dengan proses. Tidak semua artikel langsung ramai. Tidak semua tulisan mendapat komentar. Tapi setiap tulisan selalu meninggalkan sesuatu — entah itu pelajaran, keberanian, atau sekadar rasa lega karena akhirnya berhasil menuangkan isi kepala.
Yang paling menarik, ternyata pembaca datang bukan karena tulisan yang sempurna, tapi karena tulisan yang terasa manusiawi. Ketika aku menulis tentang keresahan, tentang mencoba hidup lebih sederhana, tentang gagal lalu mencoba lagi, justru di situ banyak yang merasa relate. Dari situ aku sadar, mungkin fungsi tulisan bukan untuk terlihat hebat, tapi untuk membuat orang lain merasa tidak sendirian.
2025 juga jadi tahun di mana aku mulai memahami bahwa blog bukan sekadar platform. Blog adalah rumah. Tempat kembali ketika dunia terasa terlalu cepat. Tempat menyimpan versi diri yang mungkin suatu hari ingin aku baca lagi, untuk mengingat bahwa aku pernah melewati fase ini.
Dan kalau boleh jujur, ada satu alasan kenapa artikel ini akhirnya ditulis. Awalnya hanya dari obrolan sederhana — sebuah pertanyaan tentang perjalanan, tentang perasaan, tentang bagaimana kalau kesehatan mental digambarkan dalam sebuah karya. Dari situ aku sadar, ternyata banyak hal yang selama ini kupikir biasa saja, justru layak untuk diceritakan.
Karena setiap orang punya perjalanan. Dan setiap perjalanan selalu punya makna ketika berani dibagikan.
Di usia yang bertambah tahun ini, aku tidak punya resolusi yang muluk-muluk untuk blog. Aku hanya ingin tetap menulis dengan jujur. Menulis tanpa terlalu takut dinilai. Menulis hal-hal yang mungkin kecil, tapi nyata.
Kalau kamu sudah mengikuti tulisan-tulisanku sejak lama, terima kasih sudah tinggal. Kalau baru membaca sekarang, selamat datang. Semoga ada satu bagian dari tulisan ini yang terasa dekat dengan ceritamu juga.
Aku jadi penasaran, sepanjang 2025 kemarin, hal apa yang paling mengubah cara kamu melihat diri sendiri?
Ceritakan di kolom komentar ya. Siapa tahu, kita sedang belajar hal yang sama — hanya lewat cerita yang berbeda.





Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)