Beberapa tahun terakhir, aku mulai menyadari kalau rasa puas itu ternyata bukan datang dari seringnya membeli barang baru, tapi dari kemampuan merawat dan memaksimalkan apa yang sudah kita punya. Pelan-pelan, tanpa sadar, gaya hidup ini membentuk kebiasaan baru dalam hidupku: lebih minimalis, lebih sadar kebutuhan, dan ternyata… jauh lebih menenangkan.
Kalau dihitung, sudah hampir lima tahun terakhir aku tidak lagi terlalu konsumtif dalam membeli pakaian atau sepatu. Bukan karena menahan diri secara berlebihan, tapi karena mulai merasa banyak barang lama yang sebenarnya masih bisa dipakai, asal mau sedikit usaha untuk memperbaiki atau mengolahnya kembali. Dari situlah perjalanan mix and match barang lama ini dimulai.
Salah satu yang paling sering aku lakukan adalah memanfaatkan jasa tukang jahit keliling. Pakaian yang robek sedikit, kancing lepas, atau bagian jahitan yang terbuka, biasanya langsung diperbaiki. Ada kepuasan tersendiri saat pakaian lama kembali rapi dan nyaman dipakai. Bahkan beberapa baju yang dulu terasa biasa saja, setelah sedikit dipermak, justru terlihat lebih estetik dan terasa seperti punya “cerita baru”.
Hal yang sama juga berlaku untuk sepatu. Dulu mungkin langsung terpikir untuk beli baru saat sol mulai lepas atau bagian sampingnya terbuka. Sekarang, selama masih nyaman dan bagian utamanya masih bagus, aku lebih memilih menjahit ulang atau memperbaikinya di tukang sol sepatu. Selain lebih hemat, rasanya juga lebih bertanggung jawab terhadap barang yang sudah kita pilih untuk dimiliki.
Di rumah, kebiasaan memperbaiki barang ini juga jadi bagian dari keseharian. Untuk urusan dapur misalnya, panci yang mulai bocor atau pegangan yang longgar tidak langsung diganti. Selama masih bisa diperbaiki, ya diperbaiki dulu. Untungnya, suami termasuk tipe yang bisa membetulkan hampir apa saja di rumah. Dari memperbaiki peralatan dapur, sofa yang mulai kendor, sampai hal-hal kecil yang sering dianggap sepele. Kehadirannya benar-benar membantu menjaga barang-barang tetap fungsional lebih lama.
Kebiasaan ini juga berlaku untuk pakaian anakku, Darell. Anak-anak tumbuh cepat, tapi sering kali pakaiannya masih sangat layak dipakai. Kalau ada bagian yang sobek sedikit, biasanya dijahit ulang supaya bisa dipakai lagi. Selain lebih hemat, aku juga merasa ini jadi cara sederhana mengajarkan bahwa tidak semua hal harus diganti dengan yang baru.
Menariknya, hidup minimalis bukan berarti menumpuk barang lama tanpa arah. Justru sebaliknya, aku jadi lebih selektif. Barang-barang yang sudah tidak dipakai lagi biasanya aku sortir. Kalau masih bagus dan layak, aku lebih memilih menyumbangkannya ke keluarga atau orang-orang terdekat yang membutuhkan. Rasanya hangat melihat barang yang dulu kita pakai bisa kembali bermanfaat untuk orang lain.
Dari pengalaman ini, aku belajar bahwa estetika itu tidak selalu identik dengan barang baru. Estetika bisa hadir dari cara kita merawat, mengombinasikan, dan memberi fungsi baru pada sesuatu yang sudah ada. Mix and match pakaian lama, memperbaiki barang rumah tangga, atau sekadar memilih untuk tidak membeli sesuatu yang sebenarnya belum dibutuhkan, ternyata membuat hidup terasa lebih ringan.
Hidup minimalis buatku bukan tentang hidup serba kurang, tapi tentang hidup secukupnya. Tentang mengenal apa yang benar-benar dibutuhkan, dan menghargai apa yang sudah dimiliki. Ada rasa cukup yang tumbuh pelan-pelan, dan itu membuat keseharian terasa lebih tenang.
Mungkin tidak semua orang harus menjalani cara yang sama. Tapi kalau ditanya apa yang paling terasa dari kebiasaan ini, jawabannya sederhana: aku jadi lebih sadar, lebih hemat, dan lebih menghargai proses. Karena ternyata, barang lama pun bisa tetap punya nilai — selama kita mau memberi kesempatan kedua untuknya.





Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)