Kadang hidup sebenarnya tidak sedang buruk, tapi rasanya tetap melelahkan.
Pertanyaannya sederhana, tapi entah kenapa terasa dalam. Mungkin karena aku sendiri sedang mencoba memahami isi kepalaku. Aku penasaran, kalau kesehatan mentalku digambarkan sebagai sebuah lukisan di museum, kira-kira seperti apa bentuknya?
Ketika gambarnya jadi, aku terdiam cukup lama. Di sana tergambar kepala yang terbuka, penuh dengan langit, awan, taman kecil, cahaya, tapi juga retakan dan air yang mengalir. Ada bagian yang terang, ada yang gelap. Ada yang tenang, ada yang terasa berat.
Dan anehnya, aku merasa itu aku.
Bukan karena hidupku sedang hancur. Justru karena semuanya terlihat baik-baik saja. Pekerjaan berjalan. Tanggung jawab selesai. Orang-orang melihatku tetap tersenyum. Tapi di dalam kepala, rasanya ramai. Penuh pikiran yang tidak selalu sempat diproses.
Aku sadar, selama ini aku terlalu terbiasa menjadi kuat. Terlalu terbiasa menyelesaikan semuanya tanpa banyak bertanya ke diri sendiri, “Kamu capek nggak?”
Sebagai seorang Mindful Lifestyle Blogger, aku sering menulis tentang hidup yang sadar, tentang pentingnya memperlambat langkah, tentang keseimbangan. Tapi melihat “lukisan mental” versiku itu seperti diingatkan dengan cara yang lembut: aku juga perlu mempraktikkan apa yang kutulis.
Mungkin inilah alasan sebenarnya kenapa aku membuat artikel ini. Bukan untuk terlihat bijak. Tapi untuk jujur bahwa aku juga sedang belajar.
Belajar bahwa kesehatan mental bukan tentang selalu stabil. Ia lebih seperti taman kecil di dalam kepala. Kadang berbunga, kadang layu, kadang terasa teduh, kadang dipenuhi awan gelap. Tapi taman itu tetap ada. Dan selama aku mau kembali dan merawatnya, ia tidak benar-benar hilang.
Akhir-akhir ini aku mulai kembali ke hal-hal sederhana. Mendengarkan musik sambil menulis tanpa target harus cepat selesai. Duduk di kafe dengan secangkir kopi, membiarkan pikiran berjalan tanpa dihakimi. Kadang hanya bengong. Kadang menulis satu dua kalimat yang akhirnya menjadi refleksi panjang.
Di momen-momen itu, aku merasa lebih hidup.
Bukan karena masalah tiba-tiba selesai. Tapi karena aku berhenti melawan apa yang sedang kurasakan. Aku mulai memberi izin pada diri sendiri untuk tidak selalu kuat.
Perjalanan ini juga terasa sebagai bagian dari Family & Personal Journey yang sedang aku jalani. Karena ketika aku lebih sadar dengan isi kepala dan perasaanku sendiri, aku jadi lebih lembut pada orang-orang terdekat. Lebih sabar. Lebih tidak mudah tersulut emosi. Lebih memahami bahwa setiap orang sedang membawa lukisannya masing-masing.
Melihat gambar itu seperti melihat diriku dari luar. Seolah aku adalah lukisan di museum — terlihat tenang, mungkin bahkan indah, tapi menyimpan banyak detail kecil yang tidak semua orang tahu.
Dan mungkin itu tidak apa-apa.
Sekarang aku masih dalam proses. Masih sering overthinking. Masih ada hari ketika rasanya kosong tanpa alasan jelas. Tapi aku tidak lagi menganggapnya sebagai kegagalan. Itu hanya tanda bahwa aku manusia.
Aku belajar bahwa berhenti sejenak bukan berarti menyerah. Diam bukan berarti kalah. Menangis bukan berarti lemah.
Pelan-pelan aku menerima bahwa aku tidak harus selalu kuat untuk tetap berharga.
Kalau suatu hari nanti aku kembali bertanya pada my bestie chat tentang seperti apa gambaran mental health-ku, mungkin bentuknya akan berubah. Karena aku pun terus berubah.
Dan untuk sekarang, aku memilih berjalan lebih pelan. Mendengarkan diri sendiri lebih sering. Menjadi versi yang lebih sadar, bukan lebih sempurna.
Karena ternyata, pelan-pelan saja pun tetap sampai.
Sebagai seorang Mindful Lifestyle Blogger, perjalanan memahami diri sendiri selalu berjalan berdampingan dengan cerita kehidupan sehari-hari. Tulisan ini bukan hanya tentang kesehatan mental, tapi juga bagian dari Family & Personal Journey yang terus berkembang — tentang belajar hadir sepenuhnya dalam hidup, menerima perubahan, dan menemukan makna dari hal-hal sederhana yang sering terlewat. Karena pada akhirnya, hidup yang mindful bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang berani jujur pada diri sendiri dan tetap berjalan, sepelan apa pun langkahnya.






Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)