Ada orang yang datang ke hidup kita untuk tinggal.
Ada yang datang untuk mengajarkan sesuatu.
Ada yang datang untuk menemani satu fase.
Dan ada juga yang ternyata memang hanya cukup dikenal.
Tidak perlu dipertahankan.
Dulu aku mungkin termasuk orang yang sulit menerima hal seperti ini.
Kalau sudah dekat, rasanya harus selamanya dekat.
Kalau sudah berteman, harus terus berteman.
Kalau pernah punya hubungan yang baik, rasanya harus selalu baik.
Sampai akhirnya hidup mengajarkan sesuatu:
tidak semua hubungan memang ditakdirkan untuk bertahan sepanjang hidup.
Dan itu tidak selalu berarti ada yang salah.
Orang bisa berubah, begitu juga kita
Kita sering menganggap hubungan yang menjauh sebagai sesuatu yang harus dicari penyebabnya.
“Aku salah apa?”
“Kenapa dia berubah?”
“Kenapa sekarang jadi begini?”
Padahal mungkin jawabannya sederhana.
Kita berubah.
Dia juga berubah.
Prioritas berubah.
Cara melihat hidup berubah.
Kesibukan berubah.
Kebutuhan emosional berubah.
Dan dua orang yang dulu sangat cocok bisa saja akhirnya berjalan ke arah yang berbeda.
Tidak harus ada pengkhianatan.
Tidak harus ada pertengkaran besar.
Kadang hanya...
sudah tidak sejalan.
Dan mungkin itu cukup.
Tidak semua hubungan harus diselamatkan
Ada hubungan yang memang layak diperjuangkan.
Tapi ada juga hubungan yang kalau terus dipaksakan justru membuat kita kehilangan diri sendiri.
Kita terus menjadi orang yang meminta perhatian.
Terus menunggu balasan.
Terus berusaha memperbaiki sesuatu sendirian.
Terus mencari alasan atas sikap seseorang.
Sampai lupa bahwa hubungan yang sehat seharusnya tidak membuat kita terus menerus merasa tidak cukup.
Ada saatnya kita berhenti bertanya:
“Bagaimana caranya supaya dia tetap ada?”
Dan mulai bertanya:
“Apakah hubungan ini masih baik untuk kami berdua?”
Karena mempertahankan seseorang hanya karena takut kehilangan bukan selalu bentuk cinta.
Kadang itu hanya ketakutan terhadap kesepian.
Ada orang yang memang hanya untuk satu bab
Aku suka membayangkan hidup seperti buku.
Tidak semua karakter muncul dari halaman pertama sampai terakhir.
Ada yang muncul di masa sekolah.
Ada yang menemani masa kuliah.
Ada yang hadir ketika kita mulai bekerja.
Ada yang menemani ketika kita menjadi orang tua.
Dan ada orang yang mungkin hanya muncul di satu bab, tapi meninggalkan cerita yang tidak akan kita lupakan.
Apakah karena akhirnya hubungan itu selesai berarti semua kenangan menjadi tidak berarti?
Tidak.
Sesuatu tetap bisa pernah indah meskipun akhirnya tidak bertahan.
Kita tidak harus membenci seseorang hanya karena hubungan kita dengannya selesai.
Kita juga tidak harus terus mempertahankannya hanya karena pernah punya banyak kenangan.
Kita bisa berterima kasih.
Lalu melanjutkan hidup.
Bertambah dewasa berarti tahu siapa yang perlu dipertahankan
Semakin dewasa, lingkaran kita mungkin memang semakin kecil.
Dan ternyata tidak masalah.
Kita mulai lebih menghargai kualitas daripada kuantitas.
Lebih memilih orang yang konsisten daripada orang yang hanya hadir ketika membutuhkan.
Lebih nyaman dengan hubungan yang sederhana daripada hubungan yang penuh drama.
Lebih menghargai rasa aman daripada perhatian yang datang sesekali.
Karena pada akhirnya, hubungan bukan tentang seberapa lama seseorang ada.
Tapi tentang bagaimana kehadirannya membuat kita merasa.
Apakah kita bisa menjadi diri sendiri?
Apakah kita merasa dihargai?
Apakah kita bisa berbicara tanpa takut dihakimi?
Apakah hubungan itu berjalan dua arah?
Kalau jawabannya tidak...
mungkin memang sudah waktunya berhenti memaksa.
Bukan dengan marah.
Bukan dengan drama.
Cukup dengan menerima.
Bahwa ada orang yang memang cukup dikenal.
Pernah dekat.
Pernah berarti.
Pernah menjadi bagian dari cerita.
Tapi tidak harus terus menjadi bagian dari perjalanan berikutnya.
Dan mungkin itu bukan kehilangan.
Mungkin itu hanya hidup yang sedang memberi ruang untuk orang-orang yang memang ditakdirkan berjalan lebih jauh bersama kita.
Karena pada akhirnya...
tidak semua orang yang kita sayangi harus kita pertahankan.
Ada yang cukup kita kenang dengan baik.
Ada yang cukup kita doakan dari jauh.
Dan ada yang cukup kita lepaskan tanpa harus membenci.
Sebab menjadi dewasa ternyata bukan hanya tentang belajar mempertahankan.
Tapi juga belajar tahu:
kapan waktunya melepaskan.






Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)