RABU | SATU KOTA, SATU CERITA #02: Palembang, Pempek, Sungai Musi, dan Cerita Budaya yang Nggak Pernah Kehabisan Rasa

Rabu, 09 September 2026

Kalau bicara tentang Palembang, hal pertama yang biasanya muncul di kepala adalah satu kata: pempek.

RABU | SATU KOTA, SATU CERITA #02: Palembang, Pempek, Sungai Musi, dan Cerita Budaya yang Nggak Pernah Kehabisan Rasa

Dan saya rasa, hampir mustahil datang ke Palembang tanpa mencicipi makanan yang satu ini. Bahkan sebelum benar-benar menginjakkan kaki di kotanya, nama pempek sudah lebih dulu terkenal ke mana-mana.

Tapi setelah pernah datang langsung ke Palembang, saya jadi merasa bahwa pempek sebenarnya cuma salah satu pintu masuk untuk mengenal kota ini.

Karena Palembang bukan sekadar tentang pempek.

Palembang adalah tentang Sungai Musi, rumah-rumah tua, budaya Melayu, jejak Kesultanan Palembang Darussalam, sampai cerita bagaimana masyarakatnya tumbuh berdampingan dengan sungai.

Dan mungkin itu yang membuat kota ini terasa punya karakter sendiri.

RABU | SATU KOTA, SATU CERITA #02: Palembang, Pempek, Sungai Musi, dan Cerita Budaya yang Nggak Pernah Kehabisan Rasa

Sungai Musi dan Kota yang Tumbuh dari Sungai

Salah satu ikon paling kuat dari Palembang tentu saja Sungai Musi.

Sungai yang membelah Palembang ini bukan sekadar pemandangan untuk wisatawan. Sejak dulu, Sungai Musi punya peran penting dalam kehidupan masyarakat Palembang, termasuk perdagangan dan aktivitas sehari-hari.

Makanya ketika melihat Palembang dari sisi sungainya, kita seperti sedang melihat bagian penting dari sejarah kota ini.

Ada Jembatan Ampera yang menjadi ikon Palembang. Berdiri melintasi Sungai Musi, jembatan ini bukan hanya menjadi penghubung wilayah Seberang Ulu dan Seberang Ilir, tetapi juga sudah menjadi simbol kota.

Saya selalu suka tempat yang punya cerita seperti ini.

Karena sebuah kota terasa berbeda ketika kita tidak hanya melihat bangunannya, tetapi juga memahami kenapa bangunan dan tempat tersebut begitu penting bagi masyarakatnya.

RABU | SATU KOTA, SATU CERITA #02: Palembang, Pempek, Sungai Musi, dan Cerita Budaya yang Nggak Pernah Kehabisan Rasa

Pempek, Kuliner yang Jadi Identitas

Nah, sekarang kita bicara soal pempek.

Pempek dibuat dari campuran ikan dan tepung sagu, kemudian biasanya disajikan bersama kuah cuko yang punya rasa khas: perpaduan manis, asam, pedas, dan gurih.

Ada banyak jenis pempek yang bisa ditemukan, mulai dari pempek kapal selam, lenjer, keriting, kulit, hingga berbagai variasi lainnya.

Pempek kapal selam tentu menjadi salah satu yang paling populer karena memiliki telur di bagian tengahnya.

Tapi yang menarik bagi saya bukan cuma rasanya.

Kuliner tradisional seperti pempek menunjukkan bagaimana masyarakat memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan mereka dan kemudian mengolahnya menjadi sesuatu yang punya nilai ekonomi sekaligus budaya.

Jadi, ketika kita membeli sekotak pempek untuk dibawa pulang, sebenarnya kita sedang membawa pulang sedikit cerita dari Palembang.

RABU | SATU KOTA, SATU CERITA #02: Palembang, Pempek, Sungai Musi, dan Cerita Budaya yang Nggak Pernah Kehabisan Rasa

Rumah Limas dan Filosofi di Balik Rumah Tradisional

Palembang juga memiliki Rumah Limas, rumah tradisional yang bentuknya bertingkat dan memiliki karakter arsitektur yang khas.

Rumah Limas bukan hanya tempat tinggal. Di dalamnya terdapat pembagian ruang dan tata kehidupan yang mencerminkan nilai sosial masyarakat Palembang.

Ada konsep ruang yang berkaitan dengan kedudukan, penghormatan kepada tamu, hingga kehidupan keluarga.

Saya selalu merasa menarik ketika melihat rumah tradisional Indonesia.

Sebab di zaman sekarang, rumah sering kali hanya kita lihat sebagai bangunan. Padahal bagi masyarakat masa lalu, rumah juga merupakan cara untuk menunjukkan bagaimana mereka memandang keluarga, hubungan sosial, dan kehidupan.

RABU | SATU KOTA, SATU CERITA #02: Palembang, Pempek, Sungai Musi, dan Cerita Budaya yang Nggak Pernah Kehabisan Rasa

Palembang Bukan Cuma Tempat untuk Makan Pempek

Kalau suatu hari ada kesempatan kembali ke Palembang, saya ingin melihat kota ini dengan cara yang sedikit berbeda.

Bukan cuma mencari makanan enak, tetapi juga menyusuri cerita di baliknya.

Melihat Sungai Musi.

Menikmati suasana sekitar Jembatan Ampera.

Mengenal Rumah Limas.

Mencicipi pempek.

Dan mungkin duduk sebentar sambil bertanya kepada diri sendiri:

“Berapa banyak cerita budaya Indonesia yang selama ini cuma kita kenal dari namanya?”

Karena menurut saya, perjalanan paling menarik bukan selalu tentang seberapa jauh kita pergi.

Kadang, perjalanan justru menjadi lebih bermakna ketika kita mau berhenti sebentar dan mengenal budaya yang hidup di tempat yang kita datangi.

Palembang mengajarkan saya satu hal sederhana.

Bahwa budaya bisa hadir dalam banyak bentuk.

Bisa dalam bentuk sungai yang menghidupi kota.

Bisa dalam bentuk rumah tradisional.

Bisa dalam bentuk jembatan yang menjadi ikon.

Dan tentu saja...

Bisa juga dalam sepiring pempek dengan cuko yang pedasnya bikin kita bilang, “Ini kok enak banget, ya?”

Karena pada akhirnya, budaya bukan sesuatu yang hanya disimpan di museum.

Budaya adalah sesuatu yang masih kita makan, kita lihat, kita gunakan, kita ceritakan, dan kita wariskan sampai hari ini.

Dan mungkin itulah alasan mengapa Palembang selalu punya tempat tersendiri dalam cerita perjalanan saya.

Bukan hanya karena pempeknya.

Tapi karena di balik satu kota, ternyata ada begitu banyak cerita Indonesia yang layak untuk dikenang.

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)