Kalau bicara tentang Palembang, hal pertama yang biasanya muncul di kepala adalah satu kata: pempek.
Dan saya rasa, hampir mustahil datang ke Palembang tanpa mencicipi makanan yang satu ini. Bahkan sebelum benar-benar menginjakkan kaki di kotanya, nama pempek sudah lebih dulu terkenal ke mana-mana.
Tapi setelah pernah datang langsung ke Palembang, saya jadi merasa bahwa pempek sebenarnya cuma salah satu pintu masuk untuk mengenal kota ini.
Karena Palembang bukan sekadar tentang pempek.
Palembang adalah tentang Sungai Musi, rumah-rumah tua, budaya Melayu, jejak Kesultanan Palembang Darussalam, sampai cerita bagaimana masyarakatnya tumbuh berdampingan dengan sungai.
Dan mungkin itu yang membuat kota ini terasa punya karakter sendiri.
Sungai Musi dan Kota yang Tumbuh dari Sungai
Salah satu ikon paling kuat dari Palembang tentu saja Sungai Musi.
Sungai yang membelah Palembang ini bukan sekadar pemandangan untuk wisatawan. Sejak dulu, Sungai Musi punya peran penting dalam kehidupan masyarakat Palembang, termasuk perdagangan dan aktivitas sehari-hari.
Makanya ketika melihat Palembang dari sisi sungainya, kita seperti sedang melihat bagian penting dari sejarah kota ini.
Ada Jembatan Ampera yang menjadi ikon Palembang. Berdiri melintasi Sungai Musi, jembatan ini bukan hanya menjadi penghubung wilayah Seberang Ulu dan Seberang Ilir, tetapi juga sudah menjadi simbol kota.
Saya selalu suka tempat yang punya cerita seperti ini.
Karena sebuah kota terasa berbeda ketika kita tidak hanya melihat bangunannya, tetapi juga memahami kenapa bangunan dan tempat tersebut begitu penting bagi masyarakatnya.
Pempek, Kuliner yang Jadi Identitas
Nah, sekarang kita bicara soal pempek.
Pempek dibuat dari campuran ikan dan tepung sagu, kemudian biasanya disajikan bersama kuah cuko yang punya rasa khas: perpaduan manis, asam, pedas, dan gurih.
Ada banyak jenis pempek yang bisa ditemukan, mulai dari pempek kapal selam, lenjer, keriting, kulit, hingga berbagai variasi lainnya.
Pempek kapal selam tentu menjadi salah satu yang paling populer karena memiliki telur di bagian tengahnya.
Tapi yang menarik bagi saya bukan cuma rasanya.
Kuliner tradisional seperti pempek menunjukkan bagaimana masyarakat memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan mereka dan kemudian mengolahnya menjadi sesuatu yang punya nilai ekonomi sekaligus budaya.
Jadi, ketika kita membeli sekotak pempek untuk dibawa pulang, sebenarnya kita sedang membawa pulang sedikit cerita dari Palembang.
Rumah Limas dan Filosofi di Balik Rumah Tradisional
Palembang juga memiliki Rumah Limas, rumah tradisional yang bentuknya bertingkat dan memiliki karakter arsitektur yang khas.
Rumah Limas bukan hanya tempat tinggal. Di dalamnya terdapat pembagian ruang dan tata kehidupan yang mencerminkan nilai sosial masyarakat Palembang.
Ada konsep ruang yang berkaitan dengan kedudukan, penghormatan kepada tamu, hingga kehidupan keluarga.
Saya selalu merasa menarik ketika melihat rumah tradisional Indonesia.
Sebab di zaman sekarang, rumah sering kali hanya kita lihat sebagai bangunan. Padahal bagi masyarakat masa lalu, rumah juga merupakan cara untuk menunjukkan bagaimana mereka memandang keluarga, hubungan sosial, dan kehidupan.
Palembang Bukan Cuma Tempat untuk Makan Pempek
Kalau suatu hari ada kesempatan kembali ke Palembang, saya ingin melihat kota ini dengan cara yang sedikit berbeda.
Bukan cuma mencari makanan enak, tetapi juga menyusuri cerita di baliknya.
Melihat Sungai Musi.
Menikmati suasana sekitar Jembatan Ampera.
Mengenal Rumah Limas.
Mencicipi pempek.
Dan mungkin duduk sebentar sambil bertanya kepada diri sendiri:
“Berapa banyak cerita budaya Indonesia yang selama ini cuma kita kenal dari namanya?”
Karena menurut saya, perjalanan paling menarik bukan selalu tentang seberapa jauh kita pergi.
Kadang, perjalanan justru menjadi lebih bermakna ketika kita mau berhenti sebentar dan mengenal budaya yang hidup di tempat yang kita datangi.
Palembang mengajarkan saya satu hal sederhana.
Bahwa budaya bisa hadir dalam banyak bentuk.
Bisa dalam bentuk sungai yang menghidupi kota.
Bisa dalam bentuk rumah tradisional.
Bisa dalam bentuk jembatan yang menjadi ikon.
Dan tentu saja...
Bisa juga dalam sepiring pempek dengan cuko yang pedasnya bikin kita bilang, “Ini kok enak banget, ya?”
Karena pada akhirnya, budaya bukan sesuatu yang hanya disimpan di museum.
Budaya adalah sesuatu yang masih kita makan, kita lihat, kita gunakan, kita ceritakan, dan kita wariskan sampai hari ini.
Dan mungkin itulah alasan mengapa Palembang selalu punya tempat tersendiri dalam cerita perjalanan saya.
Bukan hanya karena pempeknya.
Tapi karena di balik satu kota, ternyata ada begitu banyak cerita Indonesia yang layak untuk dikenang.





Jadi ingat pelajaran sekolah ,kalauditanya Palembang terkenal dengan apanya...yang ada sungai musi & jembatan Ampera. Selanjutnya pempek. Itu dulu ya. Wah sekarang mah nonton kulineran Palembang dapat semua ya sejarah Palembang all out. Btw..benar enakan yang nggak dogoreng ya kak, makan pempek?
BalasHapusAku tuh masih penasaran kenapa kok jembatan Ampera dibangun. Kenapa Presiden Soekarno bela2in bangun jembatan di Palembang? Pasti ada ceritanya
BalasHapusMemang menarik kalau udah menceritakan Palembang, budayanya, rumahnya, dialegnya, apalagi urusan kulinernya yang khas.
BalasHapusPalembang sepertinya selalu sukses bikin kangen, terutama kulinernya. Pembahasan soal pempek dan suasana Sungai Musi-nya bikin membayangkan langsung kehangatan kotanya.
BalasHapusWaktu tugas ke Palembang itu malah sekalian mengunjungi museum-museum di sana, yang di pusat kota pun sudah cukup luas buat dijelajahi. Tapi makin ke sini wakut buat menjelajah memang makin terbatas, apalagi museum cuma buka jam kerja biasanya. Kalau sudah begini memang tersadarkan bahwa belajar soa sejarah dan budaya setempat bisa dilakukan lewat mengamati sekitar, termasuk aktivitas sehari-hari masyarakat.
BalasHapusIya sepakat, pas kita berkunjung ke kotanya, ternyata ada banyak yang dieksplorasi selain hal-hal yang sudah populer sebelumnya. Termasuk budaya masyarakatnya. Pas berkunjung ke Palembang (tujuannya sih ke Muara Enim), istirahat di sekitar Sungai Musi, kaget karena pempek jadi menu sarapan pagi, yang mana saya tidak terbiasa.
BalasHapusMasih kangen suasana Palembang, jalan-jalan kulineran di Pasar 16 ilir, nyobain pempek bakar mesjid sama explore kampung Arab Al-Munawar
BalasHapusPalembang tuh ternyata bukan cuma soal pempek ya kak. 😄 Aku suka konsep “satu kota satu cerita” seperti ini, karena rasanya jadi ikut diajak keliling kota tanpa harus buru-buru mengejar semua tempat wisata.
BalasHapusApalagi kalau sudah ketemu makanan khas, suasana jalan, dan cerita kecil selama perjalanan, kota jadi terasa lebih hidup.
Yang menarik, dari tulisan seperti ini kadang malah muncul daftar baru: “kalau ke Palembang nanti harus coba ini, lihat itu, terus jangan lupa pempek.” 😂
Ujung-ujungnya bukan cuma dapat cerita tentang kota, tapi dapat alasan baru buat pengin datang sendiri ya.
Seru banget mengikuti seri 'Satu Kota, Satu Cerita' ini mbak.
BalasHapusSetiap kota selalu punya cara uniknya sendiri untuk meninggalkan kesan, dan Palembang punya daya tarik budaya serta sejarah yang kuat banget.
Nulis tentang Palembang pas jam jam lapar begini sukses bikin ngiler pengen cari pempek pake cuko Palembang asli.
Seru banget mengikuti seri 'Satu Kota, Satu Cerita' ini mbak.
BalasHapusSetiap kota selalu punya cara uniknya sendiri untuk meninggalkan kesan, dan Palembang punya daya tarik budaya serta sejarah yang kuat banget.
Nulis tentang Palembang pas jam jam lapar begini sukses bikin ngiler pengen cari pempek pake cuko Palembang asli.
Baca tulisan ini pas jam-jam rawan lapar sukses bikin ngiler pengen cari pempek asli!
BalasHapusSuka banget sama konsep 'Satu Kota, Satu Cerita' ini, jadi tahu sisi lain Palembang yang kaya akan cerita budaya.
Penasaran sama Palembang karena pempek dan Sungai Musi. Makan pempek di Lombok sini, tentu berbeda sama di pusatnya langsung. Kebayang bisa pilih sajian pempek terbaik di sana. Pengen coba melintasi jembatan yang dibangun di atas Sungai Musi, entahlah, sebagai yang tinggal di daerah yang banyak pantainya, suka aja gitu lihat sungai-sungai besar gini, sebelumnya pernah lihat Sungai Mahakam di Samarinda.
BalasHapusMenyenangkan yaa..
BalasHapusJelajah tiap kota di INdonesia, kita selalu dipertemukan dengan berbagai hal baru yang patut kita syukuri. Salah satunya adalah kekayaan budaya serta bahasa, adat istiadat hingga kulinerannya yang beneran memanjakan lidah perasa bangeett~
Pingin banget ke Palembang.
Membayangkan berbagai hal istimewa di sana..
menarik, banyak insight yang diperoleh hanya dengan mengenal satu kota, itulah salah satu alasan bangga dengan Indonesia, banyak ragam budaya dan banyak filosofi yang terkandung entah itu dari arsitek bangunannya atau pun dari masakannya
BalasHapusdengan budaya yang ada tumbuh menjadi sebuah peradaban
Aku pengen banget ke Palembang karena membaca buku yang bercerita tentang sungai dan masyarakatnya. Apalagi salah satu makanan favoritku pempek asli sana, yang katanya ikannya beda, jadi enak banget. Aku pernah dikirimin langsung sama teman dan family, endul banget
BalasHapusPalembang itu memang punya banyak sudut yang bisa diceritakan, mulai dari budaya, penduduknya, hingga kuliner dan sejarahnya. Makanya meski saya sudah pernah ke Palembang, namun belum bisa bercerita juga lewat tulisan karena waktu yang terlalu singkat.
BalasHapusHal yang paling berkesan buatku adalah kuliner dan sungai Musinya sih, karena sempat duduk di pinggir sungai sambil menikmati sarapan dan hilir mudik kehidupan di sungai Musi.