Tampilkan postingan dengan label working moms. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label working moms. Tampilkan semua postingan

Proses Belajar yang Aku Jalani untuk Memperkuat Bekal di 2026

Senin, 06 April 2026

Kalau ditanya, “lagi belajar apa sekarang?” jawabannya mungkin bukan satu hal yang spesifik. Lebih ke… perjalanan. Perjalanan belajar yang pelan-pelan membentuk cara pandang, cara kerja, dan bahkan arah yang ingin aku tuju ke depan.

Tahun 2026 ini, aku mulai melihat ke belakang—dan menyadari bahwa proses belajar yang aku jalani selama ini bukan sesuatu yang instan. Semua berawal dari rasa penasaran, lalu berkembang jadi pengalaman, dan akhirnya menjadi bekal yang lebih matang.

Proses Belajar yang Aku Jalani untuk Memperkuat Bekal di 2026
Read More

Menyambut Masa Depan: 3 Future Sector yang Relevan untuk Perempuan, Ibu, dan Dunia Kerja yang Terus Bergerak

Rabu, 01 April 2026

Kadang aku suka mikir, dunia tuh jalannya cepat banget ya. Rasanya baru kemarin kita adaptasi dengan dunia digital, eh sekarang sudah mulai ngomongin masa depan: pekerjaan apa yang masih relevan? skill apa yang masih “kepake”? dan kita harus ke arah mana?

Sebagai perempuan, ibu, sekaligus pekerja yang juga berkecimpung di dunia komunitas dan penulisan, pertanyaan itu bukan cuma lewat di kepala—tapi juga terasa cukup dekat.

Menyambut Masa Depan 3 Future Sector yang Relevan untuk Perempuan, Ibu, dan Dunia Kerja yang Terus Bergerak

Pelan-pelan aku mulai menemukan satu benang merah. Bahwa ke depan, ada tiga sektor yang akan terus tumbuh dan membuka banyak peluang. Bukan cuma untuk profesional di bidang tertentu, tapi juga untuk kita yang punya pengalaman hidup, empati, dan kemampuan bercerita.

1. Digital Economy: Ketika Dunia Berpindah ke Layar, Tapi Tetap Butuh Cerita

Digital economy bukan hal baru. Tapi yang sering kita lupa, ini bukan cuma soal teknologi—tapi tentang bagaimana manusia tetap terhubung lewat teknologi.

Hari ini, hampir semua aktivitas berpindah ke digital. Mulai dari belanja, belajar, sampai membangun komunitas. Bahkan peran seperti Community Manager atau KOL Admin yang dulu mungkin belum terlalu dikenal, sekarang justru jadi salah satu kunci dalam strategi brand.

Aku sendiri ngerasa, pengalaman menulis blog, bikin caption, sampai mengelola komunikasi di komunitas ternyata punya tempat di sini. Karena di balik angka engagement dan algoritma, tetap ada satu hal yang nggak berubah: manusia butuh merasa dipahami.

Dan di situlah storytelling jadi penting.

Menyambut Masa Depan 3 Future Sector yang Relevan untuk Perempuan, Ibu, dan Dunia Kerja yang Terus Bergerak

2. Green Economy: Bukan Sekadar Tren, Tapi Tanggung Jawab Bersama

Isu lingkungan sekarang bukan lagi sesuatu yang “jauh”. Kita lihat sendiri bagaimana perubahan kecil di sekitar kita bisa berdampak besar.

Green economy hadir sebagai jawaban—bagaimana kita tetap bertumbuh secara ekonomi tanpa mengorbankan lingkungan.

Menariknya, sektor ini nggak selalu soal hal besar seperti energi terbarukan. Tapi juga tentang hal-hal sederhana:

mengurangi sampah, memilih produk yang lebih ramah lingkungan, atau bahkan ikut terlibat dalam kegiatan sosial dan program berbasis keberlanjutan.

Dalam beberapa pengalaman yang aku jalani, terutama saat terlibat dalam kegiatan komunitas dan program sosial, aku mulai sadar bahwa peran komunikasi di sini juga penting. Bagaimana menyampaikan pesan lingkungan dengan cara yang lebih dekat, lebih membumi, dan lebih bisa diterima.

Karena perubahan besar sering dimulai dari cerita-cerita kecil yang konsisten disampaikan.

Menyambut Masa Depan 3 Future Sector yang Relevan untuk Perempuan, Ibu, dan Dunia Kerja yang Terus Bergerak

3. Wellness Economy: Ketika Sehat Itu Bukan Sekadar Fisik

Kalau dulu sukses sering diukur dari seberapa sibuk kita, sekarang mulai bergeser. Banyak orang mulai sadar bahwa kesehatan mental, keseimbangan hidup, dan kebahagiaan juga sama pentingnya.

Inilah yang disebut wellness economy.

Buat aku pribadi, sebagai ibu yang menjalani banyak peran dalam satu waktu, topik ini terasa sangat dekat. Kadang bukan soal kita bisa atau tidak melakukan semuanya, tapi bagaimana kita tetap “waras” menjalaninya.

Menariknya, kebutuhan akan wellness ini juga membuka banyak peluang. Mulai dari konten tentang kehidupan sehari-hari, parenting, self-care, sampai komunitas yang saling menguatkan.

Dan lagi-lagi, aku melihat satu benang merah yang sama: cerita.

Cerita yang jujur, yang relate, yang mungkin sederhana—tapi bisa bikin orang lain merasa “aku nggak sendiri”.

Menyambut Masa Depan 3 Future Sector yang Relevan untuk Perempuan, Ibu, dan Dunia Kerja yang Terus Bergerak

Menemukan Peran Kita di Tengah Perubahan

Dari tiga sektor ini—digital, green, dan wellness—aku belajar satu hal penting.

Bahwa masa depan bukan cuma milik mereka yang punya skill teknis tinggi, tapi juga untuk mereka yang:

  • bisa beradaptasi
  • punya empati
  • dan mampu menyampaikan pesan dengan cara yang bermakna
Dalam melihat perkembangan berbagai future sector ini, aku juga sering menemukan banyak insight dari para blogger baik blogger Jakarta, blogger Surabaya, blogger Bandung dan blogger di kota lainnya di Indonesia yang membagikan perspektif dan pengalaman mereka, terutama yang juga menjalani peran sebagai working mom. Dari sana aku belajar bahwa masa depan bukan sekadar tren yang lewat begitu saja, tapi peluang nyata yang bisa mulai kita siapkan dari sekarang. Di tengah kesibukan kerja, mengurus keluarga, dan tetap mencoba berkembang, aku percaya bahwa masa depan bukan sesuatu yang harus ditunggu—melainkan dipersiapkan. Entah itu lewat literasi digital, mulai investasi kecil-kecilan, atau membangun personal branding lewat blog yang aku jalani hari ini.

Menyambut Masa Depan 3 Future Sector yang Relevan untuk Perempuan, Ibu, dan Dunia Kerja yang Terus Bergerak

Sebagai ibu, pekerja, dan juga penulis, aku mungkin nggak selalu berada di garis depan teknologi. Tapi aku percaya, selalu ada ruang untuk berkontribusi.

Lewat tulisan.
Lewat komunitas.
Lewat hal-hal kecil yang kita lakukan dengan konsisten.

Karena pada akhirnya, masa depan bukan cuma tentang perubahan besar. Tapi tentang bagaimana kita tetap relevan dengan cara kita sendiri.


Read More

Stop Stres Soal Hal yang Nggak Bisa Lo Kontrol, Fokus ke yang Ada di Tangan Lo

Jumat, 09 Januari 2026

Ada satu pola yang sering banget muncul belakangan ini.

Orang-orang datang ke sesi coaching dengan kondisi yang sama: capek.
Capek fisik, capek mental, capek hati.
Tapi kariernya? Masih di situ-situ aja.

Stop  Stres Soal Hal yang Nggak Bisa Lo Kontrol, Fokus ke yang Ada di Tangan Lo
Read More

4 Tipe Leader Idaman Karyawan: Bukan Sekadar Jabatan, Tapi Dampak Nyata

Sabtu, 27 Desember 2025

Di dunia kerja hari ini, karyawan nggak lagi sekadar butuh atasan. Mereka butuh leader. Sosok yang bukan cuma duduk di posisi struktural, tapi benar-benar hadir, memberi arah, dan menciptakan rasa aman. Karena faktanya, gaji bisa bikin orang datang ke kantor, tapi kepemimpinan yang sehat bikin orang betah dan berkembang.

4 Tipe Leader Idaman Karyawan: Bukan Sekadar Jabatan, Tapi Dampak Nyata
Read More

Semangat Nggak Selalu Teriak, Kadang Cuma Bertahan

Sabtu, 20 Desember 2025

Kita sering diajarin kalau semangat itu harus kelihatan.

Harus lantang.
Harus penuh sorak: “Ayo bisa!”, “Jangan nyerah!”, “Gas terus!”

Semangat Nggak Selalu Teriak, Kadang Cuma Bertahan
Read More

STOP KORBAN MENTAL HEALTH DEMI GAJI: Kenapa 'Kerja Keras' Saja Nggak Cukup!

Kamis, 04 Desember 2025

Hei, kita semua pernah di sana. Di hari Minggu malam yang mencekam, saat alarm belum bunyi tapi perut sudah mules, dan kepala dipenuhi to-do list yang nggak ada habisnya. Bukan mules karena lapar, tapi mules karena cemas fisik. Mules karena kamu tahu, besok, kamu harus kembali ke tempat yang perlahan menguras jiwa kamu.

STOP KORBAN MENTAL HEALTH DEMI GAJI!
Read More

Ketika Hasil Tes Psikolog Mengatakan Aku Punya Functional Depressive Disorder, Panic Syndrome, Anxiety, dan PTSD

Minggu, 02 November 2025

Ada masa di mana aku merasa “aneh”. Bangun pagi dengan tubuh lengkap, tapi jiwa terasa kosong. Bisa ketawa, tapi rasanya hampa. Bisa produktif, tapi setiap malam menangis tanpa tahu sebabnya. Aku pikir aku cuma lelah. Tapi rasa lelah itu nggak pernah pergi, bahkan setelah tidur panjang atau liburan singkat.

Sampai akhirnya aku memutuskan untuk menemui psikolog—bukan karena aku lemah, tapi karena aku ingin mengerti apa yang sebenarnya terjadi dalam diriku. Dan dari situlah semua ini dimulai.

Ketika Hasil Tes Psikolog Mengatakan Aku Punya Functional Depressive Disorder, Panic Syndrome, Anxiety, dan PTSD
Read More

Cowok Juga Boleh Nangis: Pelajaran Emosi Buat Darell (dan Bunda Juga)

Senin, 16 Juni 2025

“Laki-laki jangan cengeng!”

“Udah, nggak usah baper.”

Kalimat-kalimat itu mungkin terdengar sepele. Tapi ternyata bisa jadi luka yang nggak kelihatan. Dan sebagai ibu dari anak laki-laki, aku belajar untuk nggak ikut mengulangnya. Well moms, di artikel kali ini aku akan bahas tentang, 'Cowok Juga Boleh Nangis: Pelajaran Emosi Buat Darell (dan Bunda Juga)'. Shall we start now ...

Cowok Juga Boleh Nangis Pelajaran Emosi Buat Darell (dan Bunda Juga)
Read More

Masih Terpukul dengan Meninggalnya Marissa Haque? Ini Cara Aku Menyiapkan Bekal untuk Keluarga dan Akhirat

Jumat, 22 November 2024

Kabar meninggalnya Marissa Haque yang mendadak benar-benar bikin aku tercenung. Kehilangan seseorang yang begitu dikenal bikin aku bertanya-tanya, sudah cukup siapkah aku untuk menghadapi hal serupa? Apa yang akan terjadi jika suatu hari nanti aku harus meninggalkan dunia ini lebih dulu? Sebagai seorang ibu, kekhawatiran terbesar dalam hidupku bukan hanya tentang memastikan anakku siap menghadapi dunia, tapi juga soal warisan apa yang bisa aku tinggalkan—baik untuk bekal dunianya maupun amal yang akan terus mengalir setelah aku tiada. Di artikel ini, aku ingin berbagi tentang persiapan yang sedang aku lakukan, dan semoga bisa jadi inspirasi buat kamu yang juga ingin mempersiapkan bekal untuk keluarga dan akhirat. Yuk, baca sampai habis!

Masih Terpukul dengan Meninggalnya Marissa Haque Ini Cara Aku Menyiapkan Bekal untuk Keluarga dan Akhirat
Read More

Embracing Self-Discovery and Growth in the Digital Age: A Guide for Working Moms

Kamis, 04 Juli 2024

In today's fast-paced digital world, recognizing and developing one's abilities is more crucial than ever. For a 40-year-old working mother with one child, the balance between career, personal growth, and family can seem overwhelming. However, with the right approach, technology can become an invaluable ally in this journey of self-discovery and enhancement. So, shall we start now ...

Embracing Self-Discovery and Growth in the Digital Age: A Guide for Working Moms
Read More

[Parenting] My 1st Video Campaign for Parenting Club

Kamis, 06 Oktober 2016


Assalammualaikum,

Memasuki bulan Oktober tahun 2016, aku semangat banget nih, apalagi siang tadi dapat kabar dari teman-teman komunitas kalau video campaign Parenting Club ID sudah tayang. Deg-degan rasanya kakaa... udah mikir macem-macem aja. Jangan-jangan terlihat lebih gemuk atau gimana gituh. Harap maklum ya, baru sekali ini syuting beginian dan ditayangin pulak di Youtube Channel Parenting Club ID. :) :)
Read More

[PARENTING INFO] What Is Wrong Being A Working Moms?

Senin, 19 September 2016


Tulisan ini diambil dari Notes FB aku yang ditulis pada tanggal 7 Agustus 2011, disaat lagi memanasnya opini tentang Full Time Moms vs Working Moms saat itu.


“Sengaja minggu ini aku ambil cuti 2 hari sebelum wiken, disamping papih-nya Darell lagi tugas luar kota, aku juga mau ngabisin waktu sama Darell dan istirahat. 


Aku emang bukan stay at home moms, aku kerja Senin-Jumat dengan jam kerja yang minimal pulang sampe rumah jam 7an malam. Jadi pas week day itu, waktu aku dengan Darell cuma sedikit di pagi hari sisanya di malam hari. Terus begitu, entah sampai kapan. 
Read More