Kita sering diajarin kalau semangat itu harus kelihatan.
Harus lantang.
Harus penuh sorak: “Ayo bisa!”, “Jangan nyerah!”, “Gas terus!”
Padahal kenyataannya, tidak semua hari punya energi untuk teriak-teriak.
Ada hari di mana semangat itu bentuknya sederhana. Sangat sederhana.
Bangun dari kasur.
Mandi meski kepala masih berat.
Berangkat kerja meski hati belum sepenuhnya siap.
Dan yang paling penting: tidak kabur ke mana-mana.
Itu pun sudah luar biasa.
Semangat tidak selalu tampil rapi. Tidak selalu datang dalam versi paling ideal.
Kadang ia hadir dalam keadaan rambut belum disisir, kopi sudah dingin, dan pikiran ke mana-mana. Tapi kamu tetap duduk. Tetap membuka laptop. Tetap mencoba menyelesaikan hari.
Dan itu valid.
Banyak orang berpikir semangat harus identik dengan produktif maksimal, senyum lebar, dan target tercapai. Padahal, dalam hidup yang nyata, semangat sering kali justru muncul saat semuanya terasa tidak beres.
Saat rencana berantakan.
Saat ekspektasi tidak sesuai kenyataan.
Saat kamu harus tetap hadir meski isi kepala penuh.
Di titik itu, memilih untuk tetap jalan adalah bentuk keberanian yang jarang dirayakan.
Kalau hari ini terasa berat, besar kemungkinan kamu sedang bergerak.
Bukan diam.
Bukan menyerah.
Karena diam biasanya terasa hampa. Tapi berat? Itu tanda ada beban yang sedang kamu pikul sambil melangkah. Ada proses yang sedang kamu jalani, meski pelan.
Dan tidak apa-apa kalau pelan.
Kita hidup di dunia yang sering terburu-buru. Semua ingin cepat: cepat sukses, cepat bahagia, cepat sembuh, cepat sampai. Sampai lupa kalau manusia memang tidak diciptakan untuk selalu ngebut.
Ada fase-fase di mana hidup memang meminta kita berjalan perlahan.
Bukan karena kita lemah, tapi karena kita sedang belajar menyeimbangkan diri.
Pelan itu bukan kegagalan.
Pelan itu strategi bertahan.
Yang penting, kamu tidak berhenti.
Tidak berhenti percaya bahwa hidup ini masih bisa diupayakan.
Tidak berhenti merawat diri, meski cuma dengan hal kecil.
Tidak berhenti hadir, meski rasanya setengah-setengah.
Dan kalau hari ini yang bisa kamu lakukan hanya satu hal kecil—itu sudah cukup.
Satu email terkirim.
Satu tugas selesai.
Satu napas yang kamu tarik lebih panjang dari biasanya.
Itu semua bagian dari perjalanan.
Kamu tidak perlu selalu kuat dengan versi yang keras.
Kamu boleh kuat dengan cara yang sunyi.
Dengan cara yang tidak banyak disorot, tapi konsisten.
Semangat itu kadang tidak bersuara.
Ia cuma duduk di sampingmu dan bilang, “Kita jalan pelan-pelan aja, ya. Asal jangan berhenti.”
Dan kalau tidak ada yang bilang kamu hebat hari ini, izinkan tulisan ini yang mengatakannya:
Kamu sudah melakukan yang terbaik dengan kondisi yang kamu punya.
Sehat selalu.
Bukan cuma badannya, tapi juga hatinya.
Karena bertahan pun butuh tenaga.
Dan kamu masih di sini. Itu artinya, kamu masih berjuang.
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)