Ada yang percaya nggak, kalau makanan itu bukan cuma soal rasa, tapi juga soal kenangan?
Aku termasuk yang gampang sekali “tersentak” cuma karena mencium aroma tertentu. Bau tumisan bawang putih di pagi hari saja sudah bisa langsung melemparkanku ke dapur kecil rumah masa kecil. Di sana ada Mamah, dengan daster andalannya, rambut dicepol seadanya, tapi tangannya ajaib. Dari dapur sederhana itu, lahir resep-resep yang sampai sekarang masih menempel kuat di ingatanku
Ketika Nastar Keju Bukan Sekadar Kue Lebaran
Setiap menjelang Lebaran, rumah selalu berubah jadi “pabrik kue dadakan”. Toples-toples kosong berjejer, loyang keluar semua, dan aku kebagian tugas oles kuning telur untuk nastar. Resep kue nastar keju Mamah itu klasik: lembut, lumer, dengan isian selai nanas yang legitnya pas. Di atasnya, parutan keju yang sedikit gosong di ujung—justru itu yang paling aku suka.
Dulu aku cuma tahu makan. Sekarang, tiap melihat nastar di toko, aku hampir selalu berhenti. Kadang langsung beli, tapi lebih sering malah pulang dengan niat, “Kayaknya bisa bikin sendiri deh.” Dan benar saja, setelah berkali-kali adonan terlalu lembek, selai bocor, atau kue melebar nggak karuan… akhirnya aku bisa bikin nastar yang lumayan mirip rasa rumah.
Putri Salju dan Momen Sunyi yang Manis
Kalau resep kue putri salju itu selalu identik dengan sore yang tenang. Setelah matang, kue-kue itu digulingkan ke gula halus, dan aku suka iseng meniupnya pelan sampai gula beterbangan. Manisnya lembut, teksturnya rapuh, dan selalu bikin pengen nambah.
Sekarang, tiap bikin putri salju, aku sadar satu hal: sabar itu kunci. Dulu nggak pernah kepikiran soal takaran, suhu oven, atau konsistensi adonan. Sekarang? Aku belajar pelan-pelan. Trial and error. Kadang gagal, kadang berhasil. Tapi setiap kali berhasil, rasanya seperti memeluk versi kecil diriku sendiri.
Pudding Topping Buah dan Ulang Tahun Sederhana
Resep pudding topping buah selalu muncul saat ada yang ulang tahun. Pudding cokelat atau vanilla, di atasnya irisan kiwi, stroberi, anggur, lalu disiram glaze bening yang mengilap. Sederhana, tapi terasa mewah di zamannya.
Sekarang kalau lihat pudding cantik di etalase bakery, aku tersenyum sendiri. Kadang beli, iya. Tapi lebih sering malah terinspirasi bikin versi rumahan untuk anak-anak. Nggak harus sempurna. Yang penting ada momen duduk bareng, potong pudding, dan cerita ngalir begitu saja.
Kue Bugis dan Aroma Daun Pisang
Resep kue bugis itu punya tempat khusus. Aroma daun pisang yang dikukus, isi kelapa manis di dalamnya, tekstur ketan yang lembut dan kenyal. Itu kue pasar favorit Mamah.
Dulu aku pikir bikin kue bugis itu ribet. Sekarang setelah mencoba sendiri, ternyata memang butuh ketelatenan. Tapi ada rasa bangga yang nggak bisa dijelaskan saat berhasil membungkusnya rapi dan nggak bocor.
Masakan Rumah yang Selalu Dirindukan
Kalau soal masakan, jujur saja, semua masakan Mamah itu comfort food versi paling otentik. Soto ayam hangat dengan kuah bening yang gurih. Perkedel kentang yang bagian luarnya renyah tapi dalamnya lembut. Sayur lodeh santan yang bikin nambah tanpa sadar.
Belum lagi coto Makassar yang kaya rempah, roti canai dengan kuah kari daging pedas yang bikin keringat bercucuran, es pisang ijo dan es pala butung yang selalu jadi penutup manis, sampai sambal kentang daging yang jadi rebutan.
Sekarang, kalau ketemu makanan-makanan itu di luar, aku sering beli—sekadar mengobati rindu. Tapi anehnya, rasanya tetap beda. Bukan soal enak atau tidak. Hanya saja, nggak ada rasa “rumah” di dalamnya.
Dan di situlah aku tersadar: mungkin yang aku rindukan bukan cuma resepnya, tapi momen di baliknya.
Dari Nggak Bisa Masak Jadi Berani Mencoba
Lucunya, dulu aku sama sekali nggak bisa masak. Bahkan menggoreng telur saja pernah gagal. Tapi setelah jadi ibu, ada dorongan aneh untuk mencoba. Mungkin karena ingin anakku juga punya memori yang sama: tentang dapur, tentang aroma masakan, tentang rasa yang kelak akan mereka rindukan.
Awalnya banyak gagal. Soto terlalu asin, perkedel hancur, lodeh pecah santannya. Tapi aku nggak menyerah. Aku ulang, perbaiki, coba lagi. Sedikit demi sedikit, resep-resep itu mulai terasa familiar di tanganku.
Di balik setiap resep yang kuulang-ulang itu, sebenarnya ada cerita hidup yang diam-diam sedang kupelajari ulang. Tentang kesabaran Mamah yang dulu tak banyak bicara tapi selalu hadir lewat masakan hangat di meja makan. Tentang bagaimana dapur sederhana bisa melahirkan begitu banyak kenangan yang membentuk siapa diriku hari ini. Mungkin ini bukan kisah inspiratif yang megah atau penuh sorotan, tapi bagiku, keberanian mencoba lagi setelah gagal di dapur, demi menghadirkan rasa yang sama untuk anak, adalah bentuk kecil dari perjuangan yang nyata.
Sekarang, setiap kali berhasil menyajikan soto ayam atau nastar keju buatan sendiri, ada rasa haru yang nggak bisa dijelaskan. Seolah aku sedang meneruskan sesuatu yang dulu ditanamkan Mamah dengan sederhana: cinta lewat masakan.
Jadi, kalau sekarang aku menemukan makanan jadul itu? Kadang aku beli, iya. Tapi lebih sering, aku pulang dengan rindu yang berubah jadi semangat. Buka resep, siapkan bahan, dan mulai lagi dari awal.
Karena ternyata, memasak bukan cuma soal bisa atau tidak. Tapi soal berani mencoba, jatuh bangun, dan percaya bahwa suatu hari, anak-anak kita mungkin akan tersentak oleh aroma dapur kita… seperti kita dulu tersentak oleh dapur Mamah.







Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)