Pernahkah kamu merasa seolah-olah sedang memikul ransel yang sangat berat, tapi anehnya, kamu tidak tahu apa isi di dalamnya? Ransel itu tidak pernah lepas, bahkan saat kamu mencoba tidur di malam hari. Rasanya sesak, melelahkan, dan perlahan-lahan mengikis energimu sampai habis. Di tengah pencarian jawaban atas beban itu, aku menemukan sebuah titik terang melalui Dandiah Care, sebuah pusat konseling dan edukasi keluarga yang diinisiasi oleh pasangan inspiratif Dandi Birdy, S.Psi. dan Diah Mahmudah, S.Psi., Psikolog. Melalui wadah hangat yang mereka bangun, aku merasa menemukan tempat untuk kembali "pulang" dan memproses luka-luka yang selama ini tersembunyi.
Sebab jujur saja, kondisiku memang sedang tidak baik-baik saja. Belum lama ini, setelah melalui rangkaian sesi yang panjang dan melelahkan, seorang psikolog menatapku dengan empati dan membacakan hasil diagnosanya: Functional Depressive Disorder, Panic Syndrome, Anxiety, dan PTSD.
Mendengarnya membuat duniaku sempat berhenti berputar. Semua tumpukan rasa sakit, trauma masa lalu yang belum selesai, dan kecemasan yang terus-menerus mengejar akhirnya memiliki "nama". Aku sadar, tubuh dan jiwaku sudah terlalu lama berteriak minta tolong. Aku terjebak di masa lalu yang penuh luka, dan luka itu terus-menerus menyakiti diriku di masa kini.
Di tengah perjuangan untuk memulihkan diri, aku mengikuti sebuah workshop dari Dandiah Care yang sangat menyentuh hati: Forgiveness Therapy (Terapi Pemaafan) yang dibawakan oleh Drs. Asep Haerul Gani, M.Ag., seorang psikolog senior yang luar biasa hangat. Webinar ini bukan sekadar seminar teori psikologi biasa, melainkan sebuah oase yang membantuku melihat kembali "isi ransel berat" yang selama ini aku bawa.
Ketika "Memaafkan" Bukan Berarti Melupakan
Sebagai seseorang yang hidup dengan PTSD dan kecemasan tinggi, kata "memaafkan" awalnya terdengar seperti tuntutan yang tidak adil. “Kenapa aku harus memaafkan orang yang sudah membuat hidupku seharian dipenuhi kepanikan?” pikirku.
Namun, di workshop Pak Asep, sudut pandangku benar-benar dibongkar. Beliau menjelaskan bahwa memaafkan (forgiveness) bukanlah tentang membenarkan tindakan orang yang menyakiti kita. Memaafkan juga bukan berarti kita harus langsung melupakan atau kembali berteman baik dengan mereka.
Memaafkan adalah sebuah keputusan sadar untuk melepaskan dendam, kebencian, dan keinginan untuk membalas dendam demi kedamaian diri kita sendiri. Seperti kutipan indah dari Mahatma Gandhi yang ditampilkan dalam webinar:
“The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong.” (Yang lemah tidak akan pernah bisa memaafkan. Memaafkan adalah atribut dari mereka yang kuat).
Melalui Forgiveness Therapy, aku belajar bahwa memaafkan adalah cara kita membebaskan diri agar tidak lagi "tersandera" oleh masa lalu. Saat kita membenci, kita sebenarnya sedang memberikan kendali atas kebahagiaan kita kepada orang yang menyakiti kita.
Menelusuri Luka Melalui Metode Mizan dan Garis Hidup
Dalam workbook terapi yang kami pelajari, ada banyak latihan praktis yang sangat dalam. Dua di antaranya sangat membekas di hatiku: Life Line Peristiwa Terzalimi dan Metode Mizan.
Melalui latihan Life Line, aku diajak untuk menarik garis waktu hidupku, dari masa kecil hingga sekarang, dan memetakan kapan saja peristiwa traumatis atau perlakuan tidak adil itu terjadi. Bagi penderita Adversity Childhood Experiences (ACEs) seperti aku, melihat kembali masa lalu memang tidak mudah. Jantungku sempat berdegup kencang, memicu anxiety yang biasa datang. Namun, proses ini penting untuk mengakui bahwa luka itu nyata, bukan untuk dipendam terus-menerus.
Kemudian, ada Metode Mizan (Asumsi Keseimbangan). Pak Asep mengajak kita untuk mengambil selembar kertas dan membaginya menjadi dua kolom:
Di kolom kiri, tuliskan semua efek buruk atau kerugian yang kita alami akibat peristiwa traumatis tersebut.
Di kolom kanan, tuliskan pembelajaran tidak langsung (pengetahuan, keterampilan, atau perubahan sikap hidup) yang tanpa disadari kita dapatkan dari pengalaman pahit itu.
Ketika aku membandingkan catatan kiri dan kanan, air mataku menetes. Di balik diagnosis Functional Depressive Disorder dan trauma yang kurasakan, ternyata pengalaman pahit itu juga membentuk diriku menjadi pribadi yang jauh lebih berempati pada kesehatan mental, lebih peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki resiliensi yang tinggi.
Memulihkan Diri, Pelan Selangkah demi Selangkah
Menyembuhkan trauma dan berdamai dengan masa lalu adalah sebuah perjalanan panjang, bukan proses semalam jadi. Bagiku yang didiagnosa dengan berbagai gangguan kecemasan dan PTSD, mengikuti webinar Forgiveness Therapy ini adalah salah satu langkah terbaik untuk mulai "membongkar isi ransel berat" itu.
Aku belajar mempraktikkan Narrative Exposure Therapy secara perlahan, berdialog dengan diri masa kecilku yang terluka, dan mencoba menuangkan semua emosi melalui teknik journaling.
Jika saat ini kamu juga sedang merasa lelah, cemas, atau bahkan merasa terjebak dalam rasa sakit masa lalu yang tak kunjung sembuh, ketahuilah bahwa kamu tidak sendirian. Kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi di masa lalu. Namun, kita selalu punya pilihan untuk menyembuhkan diri kita di masa kini.
Di tengah proses belajar memaafkan dan menyembuhkan diri, aku jadi teringat beberapa tulisan reflektif seperti yang sering dibahas di Catatan Harian Rani R Tyas. Ada sudut pandang hangat tentang luka, keluarga, dan proses bertumbuh yang terasa dekat dengan realita Parenting Modern hari ini—bahwa orang tua juga manusia yang kadang sedang berjuang menyembuhkan dirinya sendiri sambil tetap belajar menjadi tempat pulang untuk anak-anaknya.
Melepaskan pengampunan memang tidak mudah, tetapi itu adalah hadiah terbaik yang bisa kita berikan untuk ketenangan jiwa kita sendiri. Mari kita mulai belajar memaafkan—bukan untuk mereka, tapi untuk diri kita yang berhak hidup bahagia.
Mari Berproses Bersama: Yuk, Ikuti Sesi Terapi Ini!
Kamu tidak harus terus-menerus memikul beratnya luka sendirian. Jika kamu merasa sudah saatnya untuk melepaskan beban masa lalu dan menyembuhkan diri, aku sangat menyarankanmu untuk ikut serta dalam sesi Forgiveness Therapy ini. Mari kita bersama-sama belajar, berproses, dan saling menguatkan dalam ruang yang aman dan penuh empati. Jangan tunda lagi langkah awal menuju kedamaian jiwamu—daftarkan dirimu di sesi terapi berikutnya sekarang juga, dan mari kita melangkah bersama menuju versi diri yang lebih lega dan bahagia!
%201.png)
%202.png)
%203.png)
%204.png)
%205.png)
Kak, kalau ga tau apa yang membuat trauma, apa bisa ikut terapi ini? Kadang kan cuma tau ada masalah tapi ga tau apa sumber masalah itu
BalasHapusPernah pada posisi, punya ambisi, tapi sadar jika memang tak mampu. Akhirnya tertekan selama berminggu-minggu, walaupun gak sampai sebulan. Tapi ada saat ketika pada akhirnya, harus menerima. Walaupun belum masuk ke kategori ikhlas. Tapi pada akhirnya dipaksa menerima. Hingga akhirnya benar-benar menerima. Saat menerima takdir itu kok serasa lebih enteng hidup. Walaupun gak berkurang masalahnya.
BalasHapusApalagi kalo dipandu seperti workshop therapy ini mungkin tidak hanya menerima, tapi juga akan sampai pada memaafkan. Karena menerima belim tentu memaafkan.
Aku salah satu orang yang pernah mengikuti sesi forgiveness therapy, impact nya luar biasa. Seni memaafkan memang butuh disadarkan dari alam bawah sadar. Kesadaran untuk memaafkan bukan berarti melupakan, membuat kita melangkah lebih ringan kedepannya.
BalasHapusMeski, awalnya berat banget. Karena pengennya orang yang melakukan kesalahanlah yang meminta maaf langsung kepada diri ini, tetapi, mustahil banget. Jadi, aku memilih mengikuti arahan saat proses terapi dan metode Mizan ini sangat oke sekali.
Analogi tentang memikul ransel berat tanpa tahu isinya di awal tulisan itu bener-bener relatable banget, Mbak. Saya pernah merasakan sesak dan cemas yang sama tanpa tahu apa sumber akarnya. Membaca tulisan ini tentang Forgiveness Therapy dari Pak Asep membuka sudut pandang baru bahwa melepaskan emosi itu emang butuh keputusan sadar. Tapi, kalau ikut terapi ini cukup sekali atau sebaiknya rutin, Mbak?
BalasHapusTerkadang lebih mudah memaafkan ketimbang melupakan, tapi untuk memaafkan juga butuh keluasan hati.
BalasHapusSaya apresiasi sekali tulisan dan kejujuran karena awal yang paling baik adalah menyadari dan mencari bantuan. Banyak yang tidak sampai ke tahap ini karena denial dan mengingkari keadaan sehingga tidak terobati. Semoga banyak yang sedang sakit bisa terobati lukanya dengan terapi ini
BalasHapusYa Allah senang sekali bisa ikut sesi bersama Pak Asep Haerul Gani, M.Ag. saya pernah mengikuti sesi workshop jugaa bersama beliau, sungguh sangat bermanfaat ilmunya.
BalasHapusIyaa memang betul, luka batin itu atau sampailh emosi jika tidak dibersihkan akan sangat memberatkan jiwa. Sama halnya seperti kita memanggul beban berat atau membawa bawa sampah di dalm diri kita, sunghuh sangat membebani jika tak segera dibuang.
Terapi yang sangat komprehensif, saya pernah mengikuti program ini dan sangat bermanfaat dalam jangka panjang. Bahkan bisa hidup berdampingan dengan kesulitan tanpa diri merasa susah, bisa begitu ya efek penyembuhannya impactful.
BalasHapusKarena soal penyembuhan bukan berarti masalah atau sumber luka itu otomatis pergi. Tapi menuntun bagaimana kita bijak dalam menyikapi luka dan masalah2 itu. Mba Aie beruntung bisa ikut sesi ini.
Kadang tanpa sadar kita itu memiliki trauma masa kecil gitu ya yang akhirnya menjadi beban di saat dewasa. Untuk bisa mengetahui hal ini juga biasanya perlu proses yang panjang adanya terapi seperti ini pastinya sngta membantu dalam mengatasi trauma masa kecil tersebut
BalasHapusMembayangkan bawa ransel isi batu tapi batunya tidak kelihatan. Aduuh Mbak.. capek banget pasti ya. Memang ya, melepaskan itu bukan berarti kalah, tapi justru ngasih ruang buat hal-hal baru yang lebih baik. Makasih ya sudah diingatkan lewat tulisan yang indah ini. Semangat terus nulisnya, Mbak Aie!
BalasHapusAku pernah juga ikut workshop dengan tema yang sama. Dan dampaknya dari memaafkan adalah rezeki lancar jaya. :)
BalasHapusTulisannya menyentuh banget, Kak. Cara penyampaiannya hangat dan penuh makna, bikin saya ikut merenung tentang arti memaafkan dan melepaskan. Terima kasih sudah berbagi pengalaman serta pelajaran hidup yang begitu berharga.
BalasHapusEverybody hurt ternyata ya mba, dan ketika struggle sendirian beratnya minta ampun, mengira aku gini aku gitu, dan setelah di periksa oleh ahlinya, anxiety itu punya nama. makin terasa berat atau relief mba? aku sih relief tapi jadi beban, hehehe.
BalasHapusTau kalau aku OCPD tuh kek yang, ooh jadi ini namanya selama ini, pantesan.
Soal regulasi dan rekonsiliasi, itu beda lagi. itulah butuh konsultan profesional seperti Dandiah care ini. Kalau gak prosesnya bakalan lebih lama lagi. dan aku setuju, ikutan session Dadiah care tuh pintu masuk, tapi itu privillage mba, gak semua bisa dapet, jadi......itu bagian dari rezeki dan udah jalannya harus begitu, udah pertolongan Tuhan juga.
Sehat-sehat semua ya, semoga bisa kembali menemukan diri meski gak mudah, tapi pasti bisa.
Everybody hurt ternyata ya mba, dan ketika struggle sendirian beratnya minta ampun, mengira aku gini aku gitu, dan setelah di periksa oleh ahlinya, anxiety itu punya nama. makin terasa berat atau relief mba? aku sih relief tapi jadi beban, hehehe.
BalasHapusTau kalau aku OCPD tuh kek yang, ooh jadi ini namanya selama ini, pantesan.
Soal regulasi dan rekonsiliasi, itu beda lagi. itulah butuh konsultan profesional seperti Dandiah care ini. Kalau gak prosesnya bakalan lebih lama lagi. dan aku setuju, ikutan session Dandiah care tuh pintu masuk, tapi itu privillage mba, gak semua bisa dapet, jadi......itu bagian dari rezeki dan udah jalannya harus begitu, udah pertolongan Tuhan juga.
Sehat-sehat semua ya, semoga bisa kembali menemukan diri meski gak mudah, tapi pasti bisa.