Literasi Tinggi, Risiko Rendah: Working Mom Wajib Melek Finansial di Era Digital

Rabu, 22 April 2026

Jujur ya, dulu aku termasuk yang mikir: “yang penting uang cukup sampai akhir bulan.” Udah. Nggak terlalu kepikiran soal strategi, apalagi literasi keuangan yang proper. Tapi semua berubah sejak aku resmi menyandang “double role”: working mom sekaligus “menteri keuangan” di rumah sendiri.

Literasi Tinggi, Risiko Rendah Cerita Aie, Working Mom yang Belajar Melek Finansial di Era Digital

Sebagai working mom dan pengatur operasional keluarga—aku makin sadar satu hal penting: di era digital yang serba cepat ini, literasi keuangan itu bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan.

Tema “Literasi Tinggi, Risiko Rendah: Kartini Modern, Melek Finansial” yang diangkat dalam acara yang diselenggarakan oleh Female Digest ini rasanya relate banget sama fase hidupku sekarang. Karena realitanya, perempuan masa kini bukan cuma dituntut bisa multitasking, tapi juga harus cerdas dalam mengelola finansial.

Literasi Tinggi, Risiko Rendah Cerita Aie, Working Mom yang Belajar Melek Finansial di Era Digital

Dari “Sekadar Cukup” ke “Punya Kendali”

Dulu, aku ngerasa selama gaji masuk dan kebutuhan terpenuhi, ya itu udah cukup. Tapi ternyata, mindset itu agak “berisiko”. Karena tanpa literasi keuangan yang baik, kita jadi lebih gampang:

  • impulsif belanja,
  • nggak punya dana darurat,
  • dan yang paling bahaya: nggak punya rencana keuangan jangka panjang.

Sebagai working mom, aku mulai belajar mengatur keuangan operasional keluarga. Mulai dari hal simpel kayak bikin budgeting bulanan, memisahkan kebutuhan dan keinginan, sampai akhirnya kenal yang namanya investasi dan proteksi.

Dan di situ aku baru ngeh: ternyata literasi keuangan itu bukan soal “punya banyak uang”, tapi soal “punya kendali atas uang kita”.

Literasi Tinggi, Risiko Rendah Cerita Aie, Working Mom yang Belajar Melek Finansial di Era Digital


Insight dari Para Ahli: Bukan Cuma Teori

Dalam acara ini, ada dua narasumber yang bikin aku makin “kebuka matanya”.

Yang pertama, Dedek Gunawan, seorang Financial Planner & Founder PBP. Beliau menekankan bahwa perencanaan keuangan itu harus dimulai dari hal paling basic: mengenali arus kas kita sendiri. Karena sering kali masalah keuangan bukan karena kurangnya penghasilan, tapi karena kita nggak benar-benar tahu ke mana uang kita pergi.

Yang kedua, Diana Anggraini, Dosen LSPR Institute of Communication & Business, juga meng-highlight pentingnya mindset perempuan terhadap uang. Bahwa perempuan perlu merasa “berhak” untuk paham finansial, bukan hanya sekadar menjalankan peran sebagai pengelola uang tanpa strategi.

Dari dua perspektif ini, aku makin yakin: literasi keuangan itu bukan sesuatu yang eksklusif, tapi sesuatu yang harus dimiliki semua perempuan.


Literasi Tinggi, Risiko Rendah Cerita Aie, Working Mom yang Belajar Melek Finansial di Era Digital

Kartini Modern = Melek Finansial

Kalau dulu Kartini berjuang untuk pendidikan perempuan, sekarang versi modernnya adalah perempuan yang punya awareness terhadap finansialnya sendiri.

Karena faktanya:
Perempuan sering jadi “financial manager” dalam rumah tangga—entah sebagai ibu, istri, atau bahkan single parent. Tapi ironisnya, masih banyak yang belum benar-benar paham cara mengelola uang dengan bijak.

Padahal, ketika perempuan punya literasi keuangan yang baik:

  • keputusan finansial jadi lebih rasional,
  • keluarga jadi lebih stabil secara ekonomi,
  • dan masa depan anak bisa lebih terencana.

Ini bukan soal gaya hidup fancy, tapi soal sustainability hidup.

Literasi Tinggi, Risiko Rendah Cerita Aie, Working Mom yang Belajar Melek Finansial di Era Digital

Tantangan di Era Digital

Di era sekarang, godaannya tuh nggak main-main.

Flash sale tiap tanggal kembar.
Checkout tinggal satu klik.
Paylater bikin semuanya terasa “ringan”… padahal belum tentu.

Aku sendiri pernah ada di fase “terjebak kemudahan”. Ngerasa aman karena semua serba digital, tapi lupa kalau pengeluaran juga jadi makin nggak kerasa.

Makanya, literasi keuangan itu penting banget sebagai “rem”. Biar kita tetap sadar, tetap punya kontrol, dan nggak kebawa arus konsumtif.

Literasi Tinggi, Risiko Rendah Cerita Aie, Working Mom yang Belajar Melek Finansial di Era Digital

Belajar Sedikit Demi Sedikit

Perjalananku belajar finansial nggak instan. Aku mulai dari:

  • baca artikel ringan,
  • ikut webinar,
  • diskusi sama teman,
  • sampai akhirnya mulai praktik langsung.

Dan percaya deh, semakin kita paham, semakin kita tenang.

Karena ada rasa “aman” yang nggak bisa dibeli—yaitu tahu bahwa kita siap menghadapi kemungkinan risiko ke depan.

Literasi Tinggi, Risiko Rendah: Cerita Aie, Working Mom yang Belajar Melek Finansial di Era Digital

Kolaborasi yang Mendukung Perempuan Lebih Melek Finansial

Acara dengan tema ini jadi makin meaningful karena didukung oleh berbagai pihak yang concern terhadap kualitas hidup perempuan, seperti Tropicana Slim, Nutrifood, Wardah Beauty, dan Paragon Corp.

Nggak cuma fokus ke gaya hidup sehat secara fisik, tapi juga mendorong perempuan untuk lebih sehat secara finansial.

Dan tentunya, peran Female Digest sebagai penyelenggara juga keren banget karena consistently menghadirkan ruang belajar yang relevan untuk perempuan modern.

Literasi Tinggi, Risiko Rendah: Cerita Aie, Working Mom yang Belajar Melek Finansial di Era Digital

Penutup: Kita Berhak Punya Kendali

Menjadi perempuan di era sekarang itu kompleks. Tapi justru di situlah kekuatan kita.

Kita bisa bekerja, mengurus keluarga, mengejar mimpi, sekaligus tetap punya kendali atas keuangan kita sendiri.

Buat aku pribadi, belajar literasi keuangan adalah salah satu bentuk self-love. Karena aku nggak cuma mikirin hari ini, tapi juga masa depan—untuk diri sendiri dan keluarga.

Jadi kalau kamu lagi ada di fase “baru mulai sadar”, trust me, itu langkah yang tepat.

Karena Kartini modern bukan cuma yang cerdas secara akademik, tapi juga yang bijak secara finansial.

Dan perjalanan itu… bisa dimulai dari sekarang.

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)