Working Mom Bukan Superwoman, Cuma Perempuan yang Belajar Bertahan Setiap Hari

Rabu, 08 Juli 2026

Kalau ada yang bertanya, "Capek nggak jadi working mom?"

Jawabannya? Capek.

Bahkan capeknya sering kali nggak bisa dijelaskan pakai kata-kata.

Working Mom Bukan Superwoman, Cuma Perempuan yang Belajar Bertahan Setiap Hari

Setiap pagi, rutinitasku mungkin berbeda dengan banyak ibu lainnya.

Aku bukan tipe yang bangun subuh untuk memasak (meski tetap bangun jam 4 pagi yak, maklum rumah beda galaxy sama Jakarta wkwkw). Justru itu salah satu keputusan yang sengaja kami ambil sebagai keluarga. Hari kerja sudah cukup melelahkan dengan ritme kantor yang padat, jadi aku memilih menghemat tenaga untuk hal-hal yang menurutku lebih penting.

Sarapan dan makan siang suami biasanya beli di luar. Darell juga sudah kubekali uang jajan untuk makan di sekolah. Sementara aku berangkat kerja dengan segelas kopi dan harapan semoga hari itu tidak penuh drama.

Buat sebagian orang, mungkin itu terdengar kurang "ibu banget". Tapi buatku, menjadi ibu bukan diukur dari seberapa sering kita memasak setiap hari.

Aku lebih memilih menggunakan energi yang kumiliki untuk benar-benar hadir saat kami punya waktu bersama.

Makanya aku selalu menantikan malam.

Working Mom Bukan Superwoman, Cuma Perempuan yang Belajar Bertahan Setiap Hari

Sesederhana makan bertiga di pecel ayam favorit, saling bercerita tentang hari yang kami jalani, atau sesekali memesan makanan favorit lewat aplikasi karena sama-sama sudah kehabisan tenaga. Buatku, kebersamaan itu jauh lebih berharga daripada memaksakan diri memasak hanya demi memenuhi ekspektasi orang lain.

Weekend baru jadi waktuku masuk dapur.

Bukan karena wajib, tapi karena memang sedang ingin. Ada rasa puas saat melihat suami dan anak menikmati masakan rumah, walaupun mungkin hanya dua hari dalam seminggu. Dan ternyata, itu sudah cukup membuat rumah terasa hangat.

Seiring waktu aku belajar bahwa menjadi working mom bukan tentang melakukan semuanya sendiri. Justru tentang berani menentukan prioritas, menerima bahwa bantuan itu bukan tanda kelemahan, dan menciptakan ritme hidup yang paling cocok untuk keluarga sendiri.

Ya pagiku memang dimulai dengan alarm yang rasanya baru berbunyi lima menit. Belum benar-benar melek, kepala sudah penuh sama daftar pekerjaan. Hari ini ada meeting jam berapa, laporan apa yang harus selesai, bekal anak sudah siap belum, seragam sekolah masih bersih atau harus disetrika dulu, sampai pertanyaan klasik, "Beliin sarapan dan makan siang apa ya buat suamik atau nanti malam makan dimana?"

Begitulah hidup seorang working mom. Selalu ada yang dipikirkan, bahkan sebelum kaki benar-benar turun dari tempat tidur.

Working Mom Bukan Superwoman, Cuma Perempuan yang Belajar Bertahan Setiap Hari

Lucunya, banyak orang mengira perempuan yang bekerja itu hanya sibuk di kantor. Padahal setelah jam kerja selesai, masih ada "shift kedua" yang menunggu di rumah. Menjadi ibu, menjadi istri, menjadi pendengar cerita anak, menjadi teman ngobrol suami, sekaligus menjadi orang yang memastikan rumah tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Disclaimer, di rumahku tidak ada asisten rumah tangga, dari awal menikah ini memang menjadi pilihanku dan suami untuk mengerjakan urusan domestik rumah bersama-sama dan bagianku adalah mencuci dan menyetrika pakaian, dan memasak. Urusan bebenah rumah kuserahkan ke suamiku yang jauh lebih rapi dan detail. 

Lalu gimana bagi waktu untuk mencuci dan menyetrika? Well, aku akan mencuci pakaian seminggu 2-3 kali dan dilakukan saat malam hari ketika sudah sampai rumah. 

Kadang aku juga bertanya pada diri sendiri, "Kok bisa ya semuanya jalan?"

Jawabannya ternyata sederhana.

Bukan karena aku hebat.

Tapi karena aku terus belajar.

Working Mom Bukan Superwoman, Cuma Perempuan yang Belajar Bertahan Setiap Hari

Sebagai working mom, aku sadar tidak mungkin semua hal berjalan sempurna setiap hari. Ada hari ketika pekerjaan di kantor terasa begitu padat sampai lupa membuka WhatsApp keluarga. Ada hari ketika pulang kerja rasanya ingin langsung rebahan, tetapi anak sudah menunggu untuk bercerita tentang sekolahnya. Ada juga malam ketika tubuh benar-benar lelah, tetapi dapur tetap harus dirapikan sebelum tidur.

Dulu aku sering merasa bersalah.

Kalau lembur, merasa bersalah sama anak.

Kalau terlalu fokus di rumah, merasa bersalah sama pekerjaan.

Kalau memilih istirahat, merasa bersalah karena pekerjaan rumah belum selesai.

Rasanya seperti apa pun yang dipilih, selalu ada rasa kurang.

Sampai akhirnya aku sadar bahwa rasa bersalah itu tidak akan pernah benar-benar hilang kalau aku terus memaksakan diri menjadi perempuan yang sempurna.

Padahal, anakku tidak membutuhkan ibu yang sempurna.

Suamiku juga tidak menuntut rumah yang selalu rapi setiap saat.

Yang mereka butuhkan hanyalah aku yang hadir. Benar-benar hadir.

Working Mom Bukan Superwoman, Cuma Perempuan yang Belajar Bertahan Setiap Hari

Mungkin hanya lima belas menit mendengarkan cerita anak tanpa sambil membuka laptop. Mungkin hanya ngemil sore bersama suami sambil membahas hal-hal sederhana. Atau sekadar makan malam bersama tanpa sibuk menggenggam ponsel.

Ternyata momen-momen kecil itu jauh lebih berarti daripada terus mengejar kesempurnaan.

Di tengah kesibukan bekerja, aku juga belajar bahwa self healing bukan selalu tentang staycation, spa, atau liburan ke tempat yang jauh. Kadang self healing justru sesederhana memberi izin pada diri sendiri untuk beristirahat tanpa merasa bersalah.

Menikmati secangkir kopi sebelum semua anggota rumah bangun.

Menulis beberapa paragraf di blog setelah anak tidur.

Berjalan kaki sebentar sambil menghirup udara sore.

Menonton satu episode drama favorit.

Atau sekadar duduk diam beberapa menit tanpa harus menyenangkan siapa pun.

Bahkan ya, aku pernah sengaja cuti hanya untuk mencuci/setrika pakaian atau buat istirahat aja di rumah.

Working Mom Bukan Superwoman, Cuma Perempuan yang Belajar Bertahan Setiap Hari

Sebagai perempuan, kita sering lupa bahwa diri kita sendiri juga perlu dirawat.

Kita begitu sibuk memastikan semua orang baik-baik saja, sampai lupa bertanya pada diri sendiri, "Aku sendiri bagaimana?"

Aku percaya, seorang ibu yang bahagia tidak lahir karena hidupnya tanpa masalah. Ia bahagia karena belajar menerima bahwa tidak semua hal harus selesai hari ini.

Rumah yang sedikit berantakan bukan berarti gagal menjadi istri.

Membiarkan anak untuk beli jajanan di kantin bukan berarti gagal menjadi ibu.

Pekerjaan yang selesai besok pagi bukan berarti kita tidak profesional.

Semua itu hanyalah bagian dari kehidupan yang sedang berjalan.

Menjadi working mom mengajarkanku satu hal penting. Bahwa keseimbangan bukan berarti semua porsi selalu sama besar. Ada hari ketika pekerjaan membutuhkan perhatian lebih banyak. Ada hari ketika keluarga menjadi prioritas utama. Dan ada hari ketika diri sendiri harus didahulukan agar tidak kehabisan tenaga.

Tidak apa-apa.

Karena hidup memang tidak selalu berjalan lurus.

Hari ini aku mungkin masih belajar membagi waktu. Besok mungkin masih belajar mengatur emosi. Lusa mungkin belajar menerima bahwa tidak semua ekspektasi harus dipenuhi.

Dan itu tidak membuatku gagal.

Itu hanya berarti aku sedang bertumbuh.

Working Mom Bukan Superwoman, Cuma Perempuan yang Belajar Bertahan Setiap Hari

Kalau kamu juga seorang working mom yang sedang membaca tulisan ini, izinkan aku mengatakan satu hal.

Kamu tidak harus menjadi superwoman setiap hari.

Tidak harus selalu kuat.

Tidak harus selalu tersenyum.

Tidak harus selalu mampu mengerjakan semuanya sendirian.

Sesekali beristirahat juga tidak apa-apa.

Karena ibu yang merawat dirinya sendiri, akan memiliki hati yang lebih lapang untuk merawat orang-orang yang ia cintai.

Dan mungkin, itulah bentuk self healing yang paling sederhana sekaligus paling bermakna.

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)