Pernah gak sih kalian merasa hidup tuh kayak… capek aja dari kecil?
Bukan karena hidup selalu buruk. Tapi rasanya dari dulu selalu ada aja yang dipikirin. Selalu ada tanggung jawab. Selalu ada hal yang bikin kita harus kuat, bahkan sebelum benar-benar siap jadi orang kuat.
Aku termasuk orang yang percaya kalau manusia memang punya jalan hidup masing-masing. Tapi jujur aja, aku gak terlalu mendalami soal astrologi atau pembacaan takdir sampai akhirnya aku kenal sama Four Pillars of Destiny atau yang sering disebut SaJu.
Karena hampir semua hal yang selama ini aku rasain ternyata kebaca jelas di sana.
Buat yang belum familiar, SaJu adalah sistem pembacaan energi kehidupan dari Korea dan Cina yang menggunakan tanggal lahir, jam lahir, dan elemen kehidupan berdasarkan kalender matahari (solar calendar). Dari situ bisa dibaca karakter, pola hidup, karier, hubungan, kesehatan, bahkan alur keberuntungan seseorang.
Awalnya aku pikir ini cuma hiburan biasa. Tapi ternyata… lumayan nusuk juga yaa.
Ternyata Aku Memang “Dibentuk” Jadi Orang Kuat
Salah satu hal yang paling relate dari pembacaan SaJu-ku adalah soal energi “survivor”.
Katanya, aku termasuk tipe orang yang dari luar terlihat tenang, biasa aja, bisa diandalkan, tapi sebenarnya di dalam kepala dan hati tuh penuh pikiran.
Dan aku langsung ketawa kecil.
Karena memang iya.
Aku tipe orang yang kalau lagi capek ya tetap jalan. Lagi sedih ya tetap kerja. Lagi banyak masalah ya tetap mikirin orang lain dulu.
Bahkan kadang kita sendiri lupa kapan terakhir kali benar-benar istirahat secara batin.
Di pembacaan SaJu-ku juga disebut kalau aku punya kecenderungan memendam semuanya sendiri. Susah minta tolong. Lebih nyaman jadi tempat cerita dibanding jadi orang yang bercerita.
Dan mungkin banyak perempuan di luar sana juga ngerasain hal yang sama.
Kadang bukan karena gak mau cerita. Tapi kita terlalu terbiasa jadi “kuat”.
Kenapa Aku Selalu Overthinking?
Nah ini juga lucu sih.
Di hasil pembacaan, aku disebut punya energi air dan kayu yang cukup dominan. Katanya orang dengan elemen seperti ini biasanya:
- intuitif
- sensitif
- gampang membaca suasana
- pikirannya aktif terus
- overthinking
- susah benar-benar tenang
Karena jujur, kepalaku tuh jarang benar-benar diam.
Dan ternyata menurut SaJu, orang dengan energi seperti ini memang cenderung hidup dengan “kepala yang ramai”.
Tapi sisi positifnya, orang seperti ini biasanya lebih peka terhadap orang lain. Lebih ngerti perasaan orang. Lebih gampang bikin tulisan atau komunikasi yang relate dan menyentuh hati.
Makanya aku jadi paham kenapa selama ini aku nyaman banget menulis, bikin konten, atau membahas hal-hal emosional tentang kehidupan perempuan, ibu bekerja, perjuangan hidup, dan rasa lelah yang sering dipendam sendiri.
Karena ternyata memang energiku ada di sana.
Karierku Sekarang Ternyata Sesuai Banget Sama Energi SaJu-ku
Aku kerja di bidang administrasi dan pengawasan internal. Tapi di luar itu aku juga aktif menulis blog, membuat konten, dan cukup lama berkecimpung di dunia media sosial.
Dan menariknya, di pembacaan SaJu disebut kalau aku memang cocok di bidang:
- komunikasi
- media
- administrasi
- koordinasi
- content creation
- public relation
- pengawasan
- pekerjaan yang berhubungan dengan manusia
Katanya aku juga bukan tipe orang yang cocok kerja monoton tanpa makna emosional.
Dan itu bener banget.
Aku bisa capek bukan karena kerjaannya banyak. Tapi kalau kerjaannya terasa “kosong”, gak ada emosinya, gak ada koneksi manusianya, aku justru lebih gampang burnout.
Aku juga baru sadar kalau ternyata aku memang tipe yang lebih cocok punya beberapa sumber penghasilan atau side hustle dibanding bergantung ke satu hal saja.
Mungkin itu juga alasan kenapa aku selalu tertarik membangun sesuatu di luar pekerjaan utama.
Tentang Cinta dan Menjadi Perempuan yang “Terlalu Kuat”
Bagian yang paling bikin aku diem cukup lama adalah saat membaca soal hubungan.
Di situ tertulis kalau aku punya kecenderungan:
- terlalu memberi
- terlalu memahami pasangan
- terlalu kuat
- terlalu banyak memendam kebutuhan sendiri
Dan aku rasa… banyak perempuan mengalami ini.
Kita sering jadi tempat bersandar semua orang, tapi lupa kalau sebenarnya kita juga pengen disandari.
SaJu-ku juga bilang kalau aku bukan tipe yang mudah membuka hati. Tapi sekali sayang, aku serius dan loyal.
Makanya kalau sudah kecewa berat, biasanya aku gak marah besar. Aku cuma perlahan menjauh. Cut off, bye! and never look back.
Dan anehnya, itu akurat banget.
Semakin Dewasa, Hidupku Katanya Justru Semakin Baik
Salah satu bagian yang bikin aku agak lega adalah ketika membaca kalau usia 40-an justru menjadi salah satu fase terbaik dalam hidupku.
Katanya:
- finansial lebih stabil
- hidup lebih matang
- lebih tenang
- lebih tahu apa yang penting
- mulai berhenti people pleasing
- lebih menghargai diri sendiri
Dan jujur, aku memang mulai merasakan itu.
Bukan berarti hidup tiba-tiba gampang. Tetap ada capeknya. Tetap ada masalahnya. Tetap ada hari-hari pengen nyerah aja rasanya.
Tapi sekarang rasanya aku lebih ngerti diri sendiri.
Jadi… Apakah Takdir Bisa Berubah?
Menurutku, SaJu bukan alat untuk meramal hidup secara mutlak.
Tapi lebih seperti cermin.
Karena semakin dewasa aku sadar, hidup bukan soal menjadi paling kuat.
Tapi soal belajar tetap hidup, tetap waras, tetap lembut… setelah melewati banyak hal yang diam-diam melelahkan hati.







Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)