Ada satu fase dalam perjalanan menjadi ibu yang diam-diam cukup bikin hati campur aduk.
Ketika anak mulai besar.
Bukan lagi anak kecil yang setiap pergi harus digandeng tangannya.
Bukan lagi anak yang setiap beberapa menit bertanya, “Mama di mana?”
Sekarang dia mulai punya dunia sendiri.
Punya teman sendiri.
Punya kesukaan sendiri.
Punya pendapat sendiri.
Dan yang paling bikin seorang ibu kadang harus menarik napas panjang:
dia mulai merasa bisa menentukan semuanya sendiri.
Sebagai ibu, tentu saja refleks pertama kita adalah melindungi.
Kalau anak pergi, ingin tahu dengan siapa.
Kalau pulang terlambat, mulai bertanya.
Kalau memilih sesuatu yang menurut kita kurang tepat, rasanya ingin langsung mengoreksi.
Karena kita merasa sudah lebih dulu melewati fase itu.
Kita tahu bagaimana dunia bekerja.
Kita tahu bahwa tidak semua orang baik.
Kita tahu bahwa keputusan kecil kadang bisa membawa konsekuensi besar.
Masalahnya...
Anak tidak akan selamanya menjadi anak kecil yang bisa kita jaga dari jarak satu meter.
Dia akan tumbuh.
Dan semakin besar anak, semakin besar pula tantangan seorang ibu untuk membedakan:
kapan harus melindungi dan kapan harus memberi ruang.
Aku rasa ini salah satu bagian tersulit menjadi ibu dari anak remaja.
Karena memberi ruang bukan berarti berhenti peduli.
Memberi kepercayaan bukan berarti membiarkan anak melakukan apa saja.
Dan membiarkan anak mencoba bukan berarti kita tidak khawatir.
Justru sering kali kita khawatir setengah mati.
Hanya saja, kita mulai sadar bahwa anak juga membutuhkan kesempatan untuk belajar dari pilihannya sendiri.
Kalau setiap kesalahan selalu kita cegah, bagaimana dia akan belajar mengambil keputusan?
Kalau setiap masalah selalu kita selesaikan, bagaimana dia akan belajar bertanggung jawab?
Dan kalau setiap langkah selalu kita awasi, bagaimana dia akan belajar berjalan sendiri?
Ini bukan berarti menjadi ibu kemudian berhenti memberikan batasan.
Justru menurutku, batasan tetap penting.
Hanya saja bentuknya berubah.
Dulu mungkin kita mengatakan, “Jangan!”
Sekarang mungkin lebih banyak berdiskusi.
Dulu kita memilihkan.
Sekarang kita memberi beberapa pilihan dan membiarkan dia menentukan.
Dulu kita langsung memberi solusi.
Sekarang mungkin kita bertanya,
“Menurut kamu, sebaiknya bagaimana?”
Dan ternyata pertanyaan sederhana itu bisa menjadi bentuk kepercayaan yang besar.
Menjadi ibu dari anak remaja juga mengajarkan bahwa tidak semua percakapan harus berakhir dengan anak mengikuti apa yang kita katakan.
Kadang tugas kita bukan membuat anak selalu setuju dengan kita.
Tugas kita adalah memastikan dia tahu bahwa ketika dunia terasa terlalu besar, dia masih punya rumah untuk pulang.
Bahwa ketika dia salah, dia tidak perlu takut untuk bercerita.
Bahwa ketika dia gagal, dia tidak langsung merasa dirinya gagal sebagai manusia.
Dan bahwa cinta seorang ibu tidak berubah hanya karena anak mulai punya kehidupan sendiri.
Mungkin sekarang anak tidak lagi selalu mencari kita untuk hal-hal kecil.
Tapi justru di fase inilah kita harus memastikan hubungan tetap terbuka.
Bukan dengan terus mengontrol.
Melainkan dengan tetap hadir.
Karena pada akhirnya, tujuan parenting bukan membuat anak selalu membutuhkan kita.
Tujuannya adalah membantu mereka menjadi manusia yang mampu berdiri dengan kaki sendiri.
Dan sebagai ibu, mungkin bagian tersulitnya adalah menerima bahwa suatu hari nanti anak yang selama ini kita lindungi akan benar-benar berjalan tanpa perlu terus kita genggam tangannya.
Kita boleh takut.
Kita boleh khawatir.
Kita boleh sesekali diam-diam menangis karena merasa anak tumbuh terlalu cepat.
Tapi kita juga harus belajar percaya.
Percaya pada nilai-nilai yang sudah kita tanamkan.
Percaya pada proses yang sudah kita jalani.
Dan percaya bahwa meskipun langkahnya nanti semakin jauh, rumah tetap akan menjadi tempat dia tahu bahwa dirinya dicintai.
Karena ternyata menjadi ibu dari anak remaja bukan hanya tentang mengajarkan anak bagaimana menjalani hidup.
Tapi juga tentang mengajarkan diri sendiri bagaimana caranya melepaskan sedikit demi sedikit tanpa benar-benar pergi.
Dan mungkin...
itulah bentuk cinta seorang ibu yang paling dewasa.




Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)