Ada satu hal yang kadang lebih sulit daripada pulang dari kantor: benar-benar meninggalkan pekerjaan di kantor. Secara fisik, kita sudah keluar dari gedung. Laptop sudah ditutup, ID card sudah dilepas, bahkan mungkin perjalanan pulang sudah dimulai. Tapi kepala? Masih di meja kerja. Masih memikirkan email yang belum dibalas, pekerjaan yang belum selesai, meeting besok, atau percakapan dengan rekan kerja yang entah kenapa masih terputar-putar di kepala.
Aku rasa banyak working mom mengalami hal yang sama. Badan memang sudah meninggalkan kantor, tetapi pikiran belum benar-benar pulang. Di perjalanan menuju rumah, bukannya menikmati perjalanan, kita malah sibuk membuat daftar pekerjaan di kepala. Besok harus mengerjakan apa? Ada yang belum selesai? Ada yang harus diingat? Tadi jawabanku sudah benar belum, ya? Dan tanpa sadar, ketika sampai rumah, kita membawa semua itu masuk ke dalam kehidupan yang seharusnya menjadi tempat kita beristirahat.Kadang aku pernah sampai di rumah, sudah duduk, sudah ganti baju, bahkan sudah minum, tapi rasanya otak masih bekerja. Ketika anak atau suami mengajak ngobrol, kita memang mendengar, tetapi tidak benar-benar hadir. Bukan karena tidak peduli. Bukan karena tidak sayang. Kita hanya sedang terlalu penuh. Ada terlalu banyak hal yang masih berputar di kepala.
Mungkin inilah salah satu bagian dari mental load working mom yang sering tidak terlihat. Kita tidak sedang melakukan pekerjaan fisik yang berat. Tidak sedang mengangkat barang atau berlari ke sana kemari. Tapi otak seperti tidak pernah benar-benar berhenti. Ada begitu banyak hal yang harus diingat, dipikirkan, direncanakan, dan diselesaikan. Bahkan ketika tubuh sudah berada di tempat tidur, kepala kadang masih sibuk bekerja.
Dan bagi seorang ibu bekerja, pulang kantor juga bukan berarti aktivitas selesai. Ada kehidupan lain yang menunggu. Ada urusan rumah, keluarga, anak, kebutuhan sehari-hari, dan berbagai hal kecil yang mungkin tidak pernah masuk dalam daftar “pekerjaan”, tetapi tetap membutuhkan energi. Besok anak sekolah jam berapa? Ada sesuatu yang harus dibeli? Makan malam apa? Ada urusan rumah yang belum selesai? Besok pagi harus bangun jam berapa? Dan di tengah semua itu, kita juga tetap ingin menjadi pasangan yang baik, ibu yang hadir, sekaligus manusia yang masih punya kehidupan sendiri.
Kadang aku bertanya-tanya, kapan sebenarnya seorang working mom boleh benar-benar logout?
Kantor punya jam pulang. Ada waktu masuk dan ada waktu keluar. Tapi rumah tidak punya jam kerja. Ketika kita sudah sampai rumah, tanggung jawab tetap berjalan. Bahkan sering kali, justru setelah pulang kantor kita masuk ke “shift” berikutnya. Bedanya, shift ini tidak punya absensi, tidak ada jam istirahat, dan tentu saja tidak ada uang lembur. Hehehe.
Mungkin karena itu kita perlu belajar membuat batas. Bukan berarti pekerjaan selalu bisa ditinggalkan begitu saja. Ada deadline, ada tanggung jawab, ada kondisi tertentu yang memang mengharuskan kita tetap bekerja setelah jam kantor. Tetapi kalau setiap hari pekerjaan ikut masuk ke ruang pribadi, lama-lama batas antara pekerjaan dan kehidupan menjadi semakin tipis.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat untuk beristirahat berubah menjadi kantor kedua. Meja makan menjadi tempat membalas email. Waktu bersama keluarga terpotong karena kita masih memikirkan pekerjaan. Bahkan waktu sebelum tidur digunakan untuk memikirkan apa yang belum selesai hari ini.
Padahal hidup kita terlalu luas kalau hanya diisi pekerjaan.
Kita punya keluarga yang ingin diajak ngobrol. Ada anak yang mungkin hanya ingin menceritakan hal kecil tentang harinya. Ada pasangan yang ingin berbagi cerita. Ada tubuh yang butuh istirahat. Ada hobi yang ingin dilakukan. Ada buku yang ingin dibaca. Ada musik yang ingin didengarkan. Ada secangkir kopi yang seharusnya bisa dinikmati tanpa sambil memikirkan deadline.
Mungkin kita memang tidak selalu bisa meninggalkan semua masalah kantor di gedung. Tetapi kita bisa belajar mengatakan kepada diri sendiri bahwa tidak semua hal harus diselesaikan hari ini. Ada pekerjaan yang bisa menunggu sampai besok. Ada email yang tidak harus langsung dijawab malam ini. Ada masalah yang tidak akan selesai hanya karena kita memikirkannya sepanjang malam.
Sesekali, ketika perjalanan pulang dimulai, mungkin kita perlu menarik napas dan berkata, “Untuk hari ini, cukup.”
Bukan karena kita tidak profesional. Bukan karena kita tidak bertanggung jawab. Tetapi karena kita juga punya kehidupan di luar pekerjaan.
Dan mungkin pulang itu seharusnya bukan sekadar berpindah lokasi dari kantor ke rumah. Pulang seharusnya menjadi waktu untuk kembali menjadi diri sendiri. Melepas sedikit demi sedikit peran sebagai karyawan, lalu kembali menjadi ibu, pasangan, anak, teman, atau sekadar menjadi aku.
Karena besok pekerjaan itu masih ada. Deadline mungkin masih menunggu. Email mungkin masih bertambah. Tapi malam ini, mungkin sudah waktunya kita pulang sepenuhnya.
Bukan hanya pulang ke rumah.
Tapi pulang kepada diri sendiri.






Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)