Broken Strings: Ketika Luka Masa Muda Tidak Pernah Benar-Benar Diam

Rabu, 14 Januari 2026

Ada buku yang selesai dibaca, lalu ditutup, hidup lanjut.
Ada juga buku yang selesai dibaca, tapi kepalanya nggak berhenti muter.

Broken Strings karya Aurelie Moeremans termasuk yang kedua.

Aku nggak baca buku ini sambil rebahan santai. Beberapa bagian bikin aku berhenti. Tutup bukunya. Tarik napas. Terus mikir, “kok ini kayak hidup gue?”

Dan jujur aja, itu nggak enak.

Broken Strings: Ketika Luka Masa Muda Tidak Pernah Benar-Benar Diam

Broken Strings Itu Tentang Luka yang Nggak Langsung Kelihatan

Buku ini bukan soal cinta yang gagal doang.
Bukan juga sekadar kisah sedih biar kita iba.

Broken Strings adalah memoar tentang manipulasi, pelecehan, relasi kuasa, dan gimana seseorang bisa terjebak tanpa sadar. Tentang hal-hal yang kelihatannya “normal”, tapi pelan-pelan bikin kita kehilangan diri sendiri.

Yang bikin buku ini kena banget adalah satu hal: nggak ada dramatisasi berlebihan.

Nggak ada adegan sok heroik.
Nggak ada narasi “aku kuat banget”.
Yang ada justru kebingungan, rasa bersalah, dan sunyi.

Dan itu… real.

Broken Strings: Ketika Luka Masa Muda Tidak Pernah Benar-Benar Diam

Kenapa Buku Ini Relate Banget Buat Aku

Aku baca buku ini bukan sebagai orang yang netral.
Aku baca sebagai seseorang yang:

  • di usia 14 tahun pernah mengalami sexual harassment dari pria usia 20-an (kakak dari teman sendiri),

  • pernah ada di hubungan toxic waktu kuliah, yang bikin aku pelan-pelan menjauh dari keluarga, dari teman, bahkan dari diriku sendiri,

  • pernah mikir, “kok hidup gue jadi kayak gini, ya?”

Broken Strings: Ketika Luka Masa Muda Tidak Pernah Benar-Benar Diam

Dan seperti banyak penyintas lain, aku dulu juga nggak langsung sadar.
Karena yang terjadi nggak selalu kasar.
Kadang justru dibungkus perhatian.

“Kamu istimewa.”
“Aku begini karena sayang.”
“Aku cuma mau kamu buat aku.”

Kalimat-kalimat yang kelihatannya manis, tapi lama-lama bikin kita ngerasa nggak punya pilihan.

Broken Strings: Ketika Luka Masa Muda Tidak Pernah Benar-Benar Diam

Bagian Paling Ngena: Kita Nggak Selalu Tahu Kalau Kita Sedang Disakiti

Satu hal penting yang disampaikan Broken Stringsnggak semua korban sadar saat itu juga.

Dan ini penting banget, karena masih banyak orang yang mikir:
“Kalau dia nggak teriak, berarti mau.”
“Kalau dia bertahan, berarti setuju.”
“Kalau dia nggak pergi, berarti salah dia.”

Padahal kenyataannya nggak sesimpel itu.

Broken Strings: Ketika Luka Masa Muda Tidak Pernah Benar-Benar Diam

Ada takut.
Ada bingung.
Ada freeze response.
Ada relasi kuasa.
Ada rasa “kalau gue nolak, nanti gimana?”

Buku ini nggak nyalahin itu.
Dan sebagai penyintas, aku ngerasa… akhirnya ada yang ngerti.

Broken Strings: Ketika Luka Masa Muda Tidak Pernah Benar-Benar Diam

Tentang Rasa Bersalah yang Selalu Datang Belakangan dan Gak Mudah Buat Dipahami

Yang paling berat dari pengalaman traumatis sering kali bukan kejadiannya—
tapi rasa bersalah setelahnya.

“Kenapa gue diem?”
“Kenapa gue nggak lari?”
“Kenapa gue masih stay?”

Aurelie menulis bagian ini dengan jujur banget. Nggak sok kuat. Nggak sok benar. Dan itu bikin aku ngerasa divalidasi.

Karena ya… kadang kita bertahan bukan karena lemah,
tapi karena belum tahu caranya keluar.

Broken Strings: Ketika Luka Masa Muda Tidak Pernah Benar-Benar Diam

Buku Ini Berat, dan Itu Nggak Masalah

Aku perlu jujur juga: Broken Strings bukan buku buat semua orang, di semua waktu.

Ada trigger warning, dan itu bukan formalitas. Kalau kamu lagi di fase rapuh, buku ini bisa kebaca terlalu dekat.

Dan itu nggak apa-apa.

Nggak ada kewajiban buat “kuat”.
Nggak ada lomba siapa yang paling cepat sembuh.
Menutup buku di tengah jalan juga valid.

Menjaga diri sendiri selalu lebih penting daripada menyelesaikan satu bacaan.

Broken Strings: Ketika Luka Masa Muda Tidak Pernah Benar-Benar Diam

Kenapa Buku Ini Penting Buat Dibaca (Kalau Kamu Siap)

Buku ini penting karena:

  • ternyata kita gak sendirian,

  • ngebongkar mitos bahwa korban selalu “tahu” apa yang terjadi,

  • bikin penyintas ngerasa nggak sendirian dan nggak lebay.

Kadang satu buku nggak menyembuhkan.
Tapi bisa bikin kita mikir:
“Oh. Jadi ini namanya.”
“Oh. Jadi gue nggak sendirian.”

Dan kadang itu cukup buat bertahan hari ini.

Broken Strings: Ketika Luka Masa Muda Tidak Pernah Benar-Benar Diam

Penutup: Kita Nggak Rusak, Kita Cuma Bertahan

Judul Broken Strings ngomongin senar yang patah.
Tapi buat aku, buku ini juga tentang suara yang balik pelan-pelan.

Sebagai gadis kecil yang dulu yang pernah diam, menjauh, dan ngerasa hancur—aku pengin bilang satu hal:

Kalau kamu pernah ada di situ,
kalau kamu pernah bingung, takut, atau nyalahin diri sendiri,
itu bukan karena kamu lemah.

Itu karena kamu manusia.

Dan senarmu, meski pernah patah,
masih bisa bunyi lagi.
Pelan-pelan. Dengan caramu sendiri. 

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)