Burnout bukan sekadar rasa lelah biasa. Simak pengalaman aku sebagai working mom mengenali tanda-tanda burnout, penyebabnya, dan cara perlahan bangkit tanpa menyalahkan diri sendiri.
Ada masa dalam hidupku ketika alarm pagi bukan lagi pertanda semangat memulai hari.
Tapi justru menjadi pengingat bahwa aku harus kembali menjalani rutinitas yang rasanya begitu berat.
Sebagai seorang working mom, hari-hariku hampir selalu penuh. Bangun sebelum matahari, menyiapkan kebutuhan keluarga, berangkat ke kantor, menyelesaikan pekerjaan, pulang masih harus memastikan rumah tetap berjalan, lalu malamnya mencoba menjadi ibu yang hadir untuk anak.
Di luar, semuanya terlihat baik-baik saja.
Tapi di dalam hati...
Aku lelah.
Bukan lelah yang hilang setelah tidur semalam.
Melainkan lelah yang menumpuk, diam-diam, sampai akhirnya membuatku kehilangan semangat menjalani hal-hal yang dulu kusukai.
Dan belakangan aku baru sadar, ternyata itu namanya burnout.
Beb, Burnout Bukan Sekadar Capek
Dulu aku pikir burnout itu cuma istilah keren untuk orang yang terlalu sibuk bekerja.
Ternyata tidak sesederhana itu.
Burnout adalah kondisi ketika tubuh, pikiran, dan emosi sama-sama kehabisan energi akibat tekanan yang berlangsung terus-menerus.
Yang membuatnya berbahaya adalah... burnout sering datang tanpa kita sadari.
Awalnya hanya merasa cepat lelah.
Lalu mulai sulit fokus.
Pekerjaan yang biasanya selesai dalam satu jam, sekarang terasa seperti butuh seharian.
Hal-hal kecil mulai memancing emosi.
Bahkan kadang muncul pikiran, "Aku sebenarnya lagi ngapain, ya?"
Saat Menjadi "Kuat" Terlalu Lama
Aku percaya banyak perempuan mengalami hal yang sama.
Kita terbiasa menjadi orang yang bisa diandalkan.
Di kantor, kita profesional.
Di rumah, kita menjadi ibu.
Menjadi istri.
Menjadi anak.
Menjadi teman.
Menjadi tempat orang lain bercerita.
Saking seringnya menguatkan orang lain, kita lupa bertanya pada diri sendiri,
"Aku sendiri masih baik-baik saja, nggak?"
Lucunya, ketika tubuh mulai memberi sinyal untuk berhenti, justru kita merasa bersalah.
Merasa tidak produktif.
Merasa kurang bersyukur.
Merasa gagal.
Padahal tubuh sebenarnya sedang berkata,
"Aku cuma butuh istirahat."
Burnout Tidak Selalu Terlihat
Yang sering disalahpahami, orang yang burnout tidak selalu terlihat menangis.
Banyak yang tetap bekerja.
Tetap datang meeting.
Tetap memasak.
Tetap mengantar anak sekolah.
Tetap aktif di media sosial.
Tapi semuanya dilakukan seperti mesin.
Tidak lagi menikmati prosesnya.
Hanya menjalani karena merasa harus.
Aku pernah berada di titik itu.
Menjalani hari demi hari dengan mode autopilot.
Sampai akhirnya sadar bahwa hidup seharusnya bukan hanya tentang menyelesaikan daftar pekerjaan.
Aku Belajar Berhenti Sejenak
Sekarang aku masih bekerja.
Masih menjadi ibu.
Masih menjalani banyak peran.
Bedanya, aku mulai belajar memberi ruang untuk diriku sendiri.
Sesederhana menikmati secangkir kopi tanpa terburu-buru.
Berjalan kaki sore sambil mendengarkan lagu favorit.
Menulis isi kepala di blog.
Mematikan notifikasi pekerjaan setelah jam kerja ketika memang memungkinkan.
Mengizinkan diri berkata,
"Hari ini aku cukup sampai di sini."
Ternyata dunia tidak berhenti hanya karena kita beristirahat sebentar.
Justru setelah memberi jeda, aku bisa kembali dengan energi yang lebih utuh.
Burnout Tidak Membuatmu Lemah
Kalau akhir-akhir ini kamu merasa mudah marah, cepat lelah, kehilangan motivasi, atau bahkan merasa kosong meski semua terlihat baik-baik saja...
Mungkin kamu bukan kurang bersyukur.
Mungkin kamu hanya terlalu lama memikul semuanya sendirian.
Burnout bukan tanda bahwa kamu lemah.
Burnout adalah tanda bahwa selama ini kamu sudah berusaha terlalu keras.
Dan tidak apa-apa kalau hari ini kamu memilih melambat.
Karena kita bukan mesin yang bisa terus menyala tanpa henti.
Kita manusia.
Butuh jeda.
Butuh dipeluk.
Butuh didengarkan.
Termasuk oleh diri kita sendiri.
Pada akhirnya aku belajar satu hal sederhana.
Produktif itu penting.
Bertanggung jawab juga penting.
Tapi menjaga diri sendiri sama pentingnya.
Karena versi terbaik dari kita bukanlah yang selalu sibuk.
Melainkan yang tetap sehat, tetap waras, dan masih bisa menikmati hidup bersama orang-orang yang kita cintai.






iyaa yaa mba..kadang kita tuh dah outopilot habis ini lanjut ini ini hingga semua pekerjaan terselesaikan..kadang jika ingin istirahat aku kepikiran pekerjaan yg belum aku selesaikan...apalagi jika ternyata banyak deadline yang harus dikerjakan yang ada malah bersa tergesa2 isi kepala saling teriak...dan bener sie seharusnya kita bisa lebih santai menikmati setiap hal yg kita kerjakan jika tidak selesai mungkin bisa dikerjakan esok hari yang penting jangan merasa dihantui tugas2
BalasHapussetuju. sesibuk apapun, secapek apapun, kita perlu mengambil jeda. bukan karena lemah, melainkan justru untuk menjaga agar tetap produktif
BalasHapusBulan-bulan ini memang terasa burnout banget ya kak, kesibukan A-Z yang berulang setiap hari kadang dalam Harti juga bertanya ini kapan jedanya ...
BalasHapusNggak mudah emang ya buat perempuan menjalani peran ganda. Semua2 dipikirin padahal kepala cuma satu, eh, berujung burnout.
BalasHapusPernah mengalami burnout yang nggak terlihat itu. Tiap malam setiap mau bobo kek jadi sesek nafas gitu T.T
Kyknya yang masih bisa bikin waras cuma karena memeluk iman dan sholat, dah itu aja huhu.
Tapi bener lho mbak, mengalihkan perhatian dengan aktivitas yang disukai tu lumayan membantu mengatasi burnout. Kalau sekarang keknya musim2 orang2 pada olahraga buat melepas stress juga nggak sih?
Apa aja dilakukan buat menjeda dari aktivitas dan nyari2 hormon dopamin gitu :D
Aku paham banget betapa capeknya ada di titik itu, dan baca cerita Mbak ini rasanya bener-bener relate. Butuh keberanian besar buat bisa jujur sama diri sendiri kalau kita udah kehabisan energi dan akhirnya mau ngasih ruang buat istirahat. Thanks udah mau berbagi cerita yang sejujur dan se-terbuka inini jadi pengingat penting kalau menjaga kesehatan mental itu bukan hal yang sepele, tapi kebutuhan utama. Please, pelan-pelan aja dan kasih waktu buat diri sendiri buat memulihkan energi, ya!
BalasHapusSetuju bahwa kita manusia bukan mesin, tapi banyaknya rutinitas yang harus dijalani sehari-hari itu memang jadinya seperti mendorong kita untuk jalan autopilot, sementara pikiran sibuk mempersiapkan hal lain lagi. Laptop atau hp aja padahal bisa panas ya kalau terlalu banyak task dibuka sekaligus.
BalasHapusAku ibu rumah tangga di rumah aja udah pusing... Apalagi yang dilakukan sambil kerja di luar dengan tekanan atasan ya
BalasHapusSemoga perempuan manapun bisa berhasil dengan segala pilihannya
Perempuan bukan mesin. Wajar sempat lelah dan butuh sandaran
Sehat selalu ya Teh Aie
Aamiin..
Ini relate banget mba Aie. Kadang kita terlalu sibuk sampai lupa kalau tubuh dan pikiran juga butuh jeda. Burnout memang nyata, bukan sekadar capek biasa. Semoga makin banyak yang sadar pentingnya istirahat tanpa merasa bersalah. Terima kasih sudah berbagi cerita.
BalasHapusKebanyakan dari kita sering lupa kalau tempat istirahat itu bukan cuma pilihan, tapi kebutuhan. Terkadang emang kita baru sadar setelah beneran 'drop' fisik dan emosinya. Artikel ini jadi pengingat yang pas banget buat lebih peka sama sinyal tubuh sendiri. Semangat selalu!
BalasHapusBetul sekali mbak. Versi terbaik diri itu justru yang selalu jujur serta care. Memahami kalau butuh jeda. Burnout itu sangat menantang banget. Rasanya tuh beda sama kelelahan.
BalasHapusDi artikel ini kupas tuntas terkait Burnout. Semoga banyak yang baca dan kebantu juga.
saya juga pernah mengalami burn out kalau sudah seperti ini percuma saya paksa, mending saya melipir sebentar, dan memang hanya sebentar apalagi jikaada dDL yang harus segera diselesaikan
BalasHapusburnout itu wajar kok bukan kelemahan, istirahat sebentar untuk nantinya kembali lagi itu hal lumrah
semangat untuk kita semua ya
Benar banget, mbak. Setiap dari kita butuh jeda. Saya pribadi, burnout gak burnout, kalau urusan ngopi sih emang paling nikmati kalau dinikmati pelan-pelan. Dirasakan betul setiap menyeruputnya. Nah, urusan ngeblog, sedang ikutan challenge rutin menulis nih selama setahun, semoga konsisten, dan semoga menjadi langkah dalam mengimbangi burnout.
BalasHapusToss mbak. Sepertinya, siapa pun kita, memiliki masa-masa burnt out personal. Saya bahkan sampai pernah cuma gegulingan di kasur dan total di dalam kamar sampai lebih dari sehari. Cuma ya nggak yang sampai 'rutin', misal, sekali setahun gitu. Bisa iya, kadang bisa juga full setahun tanpa merasa burnt out.
BalasHapusAku pernah ngalami dan sering itu ketika anak-anakku masih kecil, berasa ketemu tembok ke tembok, terus kerjaan blog yang bergulir, nulis novel. Berasa pengen lari dan..udah ah, capek. Pengen me time gitu wkwkwkw, tapi ternyata semua ada masanya. Alhamdullilah setelah anak bertumbuh besar, bisa longgar
BalasHapusKayanya di tengah hiruk pikuk kehidupan sehari-hari, pasti pernah ada Burnout-nya yaa..
BalasHapusKadang ingin denial, tapi engga bisa.. gak bisa dihindari jugaa.. jadi kudu pinter-pinter mengenali diri dan renungan ka Aie ini sangat bermanfaat sekali ketika butuh penenang hati ketika alami Burnout.