RABU | SATU KOTA, SATU CERITA #04: Pekanbaru dan Songket Riau: Ketika Budaya Melayu Ditenun Menjadi Sebuah Cerita

Rabu, 23 September 2026

Ada kota yang kita ingat karena tempat wisatanya.

Ada yang kita ingat karena makanannya.

Dan ada juga kota yang justru membuat kita ingat pada sebuah budaya.

Buat saya, Pekanbaru punya cerita yang sangat kuat tentang budaya Melayu.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah songket Riau.

RABU  SATU KOTA, SATU CERITA #04 Pekanbaru dan Songket Riau Ketika Budaya Melayu Ditenun Menjadi Sebuah Cerita

Kalau selama ini kita mengenal kain songket sebagai kain tradisional yang cantik dengan benang-benang berkilau, sebenarnya ada cerita panjang di balik selembar kain tersebut.

Ada keterampilan.

Ada ketelitian.

Ada kesabaran.

Dan ada pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi

Songket Bukan Sekadar Kain Cantik

Ketika melihat kain songket, mata kita mungkin langsung tertuju pada motif dan warna yang indah.

Tapi coba bayangkan proses di baliknya.

Selembar kain tidak tiba-tiba muncul dengan motif yang cantik.

Ada tangan-tangan terampil yang bekerja dengan teliti, menyusun benang demi benang sehingga menghasilkan pola tertentu.

Di situlah menurut saya nilai budaya sebuah kerajinan tradisional terasa.

Karena yang diwariskan bukan hanya produknya.

Tetapi juga keterampilan dan pengetahuan untuk membuatnya.

Songket Riau sendiri merupakan bagian dari identitas budaya Melayu Riau. Motif dan penggunaannya juga tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Melayu.

Jadi, ketika kita melihat kain tradisional, jangan buru-buru melihatnya hanya sebagai “kain mahal” atau “oleh-oleh”.

Di sana ada sejarah.

RABU  SATU KOTA, SATU CERITA #04 Pekanbaru dan Songket Riau Ketika Budaya Melayu Ditenun Menjadi Sebuah Cerita

Melayu Riau dan Cara Memandang Kehidupan

Pekanbaru berkembang sebagai salah satu pusat penting di Provinsi Riau.

Sebagai bagian dari kawasan Melayu, budaya lokalnya terasa dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk bahasa, adat, makanan, pakaian, seni, hingga tata kehidupan masyarakat.

Ada sesuatu yang saya suka dari budaya Melayu.

Kesannya lembut.

Tetapi sebenarnya memiliki prinsip yang kuat.

Dalam kehidupan masyarakat Melayu, nilai sopan santun, penghormatan terhadap orang lain, kebersamaan, dan adat menjadi bagian penting.

Dan mungkin itulah sebabnya budaya tidak cukup hanya dipelajari lewat buku.

Kita perlu melihat bagaimana nilai tersebut hadir dalam kehidupan sehari-hari.

RABU  SATU KOTA, SATU CERITA #04 Pekanbaru dan Songket Riau Ketika Budaya Melayu Ditenun Menjadi Sebuah Cerita

Jangan Lupa Mencicipi Kuliner Melayu

Kalau membicarakan budaya, rasanya kurang lengkap kalau tidak membicarakan makanan.

Karena makanan juga merupakan bagian dari identitas.

Di Pekanbaru dan Riau, kita bisa menemukan berbagai kuliner yang memiliki pengaruh budaya Melayu, seperti gulai ikan patin, ikan salai, nasi lemak, mie sagu, dan berbagai hidangan khas lainnya.

Saya selalu percaya bahwa kuliner adalah salah satu cara paling menyenangkan untuk mengenal sebuah daerah.

Kita mungkin lupa nama jalannya.

Lupa nama tokonya.

Bahkan lupa persis kapan datangnya.

Tapi rasa makanan tertentu sering kali justru tinggal lebih lama di ingatan.

Begitu mencicipinya lagi, tiba-tiba memori perjalanan muncul.

“Oh iya... dulu pernah makan ini di sana.”

Sesederhana itu.

RABU  SATU KOTA, SATU CERITA #04 Pekanbaru dan Songket Riau Ketika Budaya Melayu Ditenun Menjadi Sebuah Cerita

Dari Pekanbaru, Saya Belajar Tentang Proses

Ada satu hal yang kemudian terasa menarik ketika membicarakan songket.

Kita hidup di zaman serba cepat.

Pesan makanan, tinggal klik.

Belanja, tinggal checkout.

Komunikasi, tinggal kirim pesan.

Hampir semuanya bisa dilakukan dalam hitungan detik.

Sementara kerajinan tradisional mengajarkan hal sebaliknya.

Tidak semua hal baik harus selesai dengan cepat.

Ada sesuatu yang memang membutuhkan waktu.

Membutuhkan ketelitian.

Membutuhkan kesabaran.

Dan membutuhkan orang-orang yang mau menjaga keterampilan tersebut agar tidak hilang.

Mungkin itu pula yang membuat kerajinan tradisional selalu punya nilai emosional.

Bukan karena ia sempurna.

Tetapi karena ada manusia di balik proses panjang pembuatannya.

RABU  SATU KOTA, SATU CERITA #04 Pekanbaru dan Songket Riau Ketika Budaya Melayu Ditenun Menjadi Sebuah Cerita

Menjaga Budaya di Tengah Dunia yang Terus Berubah

Pekanbaru bagi saya bukan hanya tentang kota yang pernah saya datangi.

Ia menjadi pengingat bahwa Indonesia punya kekayaan budaya yang luar biasa besar.

Dari Sabang sampai Merauke, setiap daerah punya cerita masing-masing.

Ada yang diwariskan melalui makanan.

Ada yang melalui tarian.

Ada yang melalui rumah adat.

Ada yang melalui permainan tradisional.

Dan ada pula yang diwariskan melalui sehelai kain.

Songket Riau adalah salah satunya.

Karena itu, ketika kita membeli atau menggunakan produk kerajinan tradisional, sebenarnya kita tidak hanya membeli sebuah benda.

Kita ikut memberikan ruang agar keterampilan tersebut tetap punya masa depan.

Dan mungkin itulah bentuk pelestarian budaya yang paling sederhana.

Bukan cuma berkata, “Jangan sampai budaya kita hilang.”

Tetapi ikut mengenalinya.

Menggunakannya.

Menceritakannya.

Dan membuat generasi berikutnya tahu bahwa pernah ada tangan-tangan yang dengan sabar menenun benang menjadi bagian dari identitas sebuah daerah.

Dari Pekanbaru, saya belajar bahwa budaya tidak selalu berisik.

Kadang ia hadir diam-diam.

Dalam sehelai kain.

Dalam sepiring makanan.

Dalam bahasa yang digunakan sehari-hari.

Dan dalam cara seseorang menghormati orang lain.

Karena budaya yang hidup bukan hanya budaya yang kita banggakan, tetapi budaya yang terus kita jalankan dan wariskan.

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)