Rabu, 24 Juli 2019

Nobar & Diskusi Film Dua Garis Biru Bersama PKBI: Pentingnya Pendidikan Seksualitas Sejak Dini


Siapa diantara kalian yang sudah nonton film Dua Garis Biru? Kebetulan aku udah nonton bareng beberapa teman blogger dan media beberapa hari yang lalu buat memenuhi undangan dari PKBI atau Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia. Setelah acara nobar selesai, kami juga diberikan kesempatan untuk diskusi film Dua Garis Biru bersama penulis skenarionya langsung, Gina S. Noer.


Hasil Diskusi Bersama PKBI dan Penulis Skenario Film Dua Garis Biru

Pada kesempatan ini, diskusi juga dilakukan bersama Direktur Eksekutif PKBI Pusat Eko Maryadi, Pewakilan Forum Remaja PKBI DKI Jakarta, Staf PKBI Pusat dan DKI Jakarta, relawan dan jaringan mitra PKBI.

Berdasarkan hasil nobar dan diskusi film Dua Garis Biru, bisa aku simpulkan  bahwa film ini dianggap penting sebagai ruang untuk mendiskusikan hal-hal mengenai isu seksualitas yang selama ini masih tabu untuk dibicarakan, misalnya seputar kontrasepsi, tes kehamilan, kehamilan yang tidak diinginkan, perkawinan anak, aborsi tidak aman, hingga masalah komunikasi orang tua dengan anak terkait isu kesehatan seksual dan reproduksi.

Atas dasar ini, maka pendidikan seksualitas pada anak harus dilakukan sejak dini guna mencegah terjadinya hal-hal seperti kehamilan yang tidak diinginkan pada anak sekolah yang berujung aborsi.


Data WHO Terkait Aborsi

Laporan Organisasi Kesehatan Dunia – WHO memperlihatkan bahwa sekitar 25 juta aborsi tidak aman dilakukan setiap tahunnya di negara-negara berkembang. Implikasi aborsi tidak aman di antaranya pendarahan, infeksi, dan kerusakan pada organ dalam karena alat aborsi yang tidak aman dan tidak sesuai prosedur WHO. Data Klinik PKBI (2016) menunjukkan bahwa sekitar 47,3% klien yang datang ke klinik PKBI sudah melakukan upaya aborsi tidak aman sebelum datang ke klinik.

Kenyataannya, ketika terjadi hubungan seksual yang tidak aman, berisiko mengalami Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD). Masalah menjadi semakin kompleks. Tekanan datang dari segala penjuru. Ini sangat membebani kondisi fisik, psikis, medis, dan sosial perempuan yang mengalami KTD. Miris ya beb. Tapi itulah fakta yang terjadi.  

Pihak yang Dirugikan Ketika Terjadi KTD

Film ini juga membicarakan ketimpangan akses pendidikan untuk siswa perempuan dan laki-laki di sekolah. Ketika terjadi KTD, pihak sekolah mengeluarkan siswa perempuan, sedangkan laki-laki tidak. Padahal Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 4 menyatakan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa.


Bagi PKBI, Film Dua Garis Biru juga menarik jika ditilik dari sudut pandang parenting dan pendidikan seksualitas komprehensif. “Film Dua Garis Biru ini menunjukkan bahwa sangat penting untuk mulai berkomunikasi soal pendidikan seksualitas komprehensif bagi anak dan remaja Indonesia. Termasuk parenting education bagi orang tua,” tutur Eko Maryadi.

Pentingnya Peran Pola Asuh Orang Tua pada Anak dan CSE
Sebagai informasi, pendidikan seksualitas komprehensif (CSE) adalah pendidikan seksualitas berbasis hak dengan pendekatan yang berfokus gender dan diajarkan di dalam maupun di luar sekolah.

CSE sendiri terdiri dari 7 komponen yaitu :
(1) Keadilan dan Kesetaraan Gender,
(2) Kesehatan seksual dan reproduksi serta HIV/AIDS,
(3) Hak asasi manusia serta hak reproduksi dan seksual,
(4) Aspek Positif dari Seksualitas,
(5) Kekerasan berbasis Gender dan Seksual,
(6) Keberagaman dan
(7) Relasi Antar Manusia.


Dengan pemberian CSE, setiap individu akan belajar untuk menghargai tubuhnya dan memahami pentingnya hak kesehatan seksual dan reproduksi, serta membuat keputusan yang bertanggung jawab.
Berbicara masalah pendidikan seksualitas pada anak sejak dini sangatlah lekat dengan agama. Karena itu aku ingin berbagi mengenai perspektif Islam terhadap pendidikan seksualitas.

Pendidikan Seksualitas Anak Ditilik dari Pandangan Islam

Jujur, sebagai seorang ibu muncul rasa kuatir apabila film ini ditonton oleh anakku ataupun para remaja. Terlebih karena film ini dibintangi oleh dua artis belia yang sudah memiliki penggemar tersendiri. Meskipun “tujuannya untuk memberikan pendidikan seksualitas dan menyadarkan para orang tua bahwa penting, lho, pendidikan seksualitas pada anak," namun film ini tetap memberikan gambaran tentang pergaulan bebas di kalangan remaja.



Lantas, terbersit pertanyaan dalam hati, haruskah pendidikan seks pada anak khususnya remaja dengan tontonan atau gambar? Saat diskusi tersebut memang belum tersampaikan pertanyaanku ini. Harap maklum, ada kekhawatiran nantinya dibilang sok agamis atau bagaimana. Lalu kuteringat broadcast message perihal pokok-pokok pendidikan seks (sex education) secara praktis yang bisa diterapkan pada anak sejak dini yang aku kutip dari tulisan Zulia Ilmawati, Psikolog Pemerhati Masalah Anak dan Remaja dalam tulisannya Pendidikan Seks Untuk Anak-anak:

1. Menanamkan rasa malu pada anak

Rasa malu harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Jangan biasakan anak-anak, walau masih kecil, bertelanjang di depan orang lain; misalnya ketika keluar kamar mandi, berganti pakaian, dan sebagainya. Dan membiasakan anak untuk selalu menutup auratnya.

2. Menanamkan jiwa maskulinitas pada anak laki-laki dan jiwa feminitas pada anak perempuan

Berikan pakaian yang sesuai dengan jenis kelamin anak, sehingga mereka terbiasa untuk berperilaku sesuai dengan fitrahnya.

Mereka juga harus diperlakukan sesuai dengan jenis kelaminnya. Ibnu Abbas ra. berkata:
Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang berlagak wanita dan wanita yang berlagak meniru laki-laki. (HR al-Bukhari).


3. Memisahkan tempat tidur mereka

Usia antara 7-10 tahun merupakan usia saat anak mengalami perkembangan yang pesat. Anak mulai melakukan eksplorasi ke dunia luar. Anak tidak hanya berpikir tentang dirinya, tetapi juga mengenai sesuatu yang ada di luar dirinya.

Pemisahan tempat tidur merupakan upaya untuk menanamkan kesadaran pada anak tentang eksistensi dirinya. Dengan pemisahan tempat tidur dilakukan terhadap anak dengan saudaranya yang berbeda jenis kelamin, secara langsung ia telah ditumbuhkan kesadarannya tentang eksistensi perbedaan jenis kelamin.

4. Mengenalkan waktu berkunjung (meminta izin dalam 3 waktu)

Tiga ketentuan waktu yang tidak diperbolehkan anak-anak untuk memasuki ruangan (kamar) orang dewasa kecuali meminta izin terlebih dulu adalah: sebelum shalat subuh, tengah hari, dan setelah shalat isya. Dengan pendidikan semacam ini ditanamkan pada anak maka ia akan menjadi anak yang memiliki rasa sopan-santun dan etika yang luhur.

5. Mendidik menjaga kebersihan alat kelamin

Mengajari anak untuk menjaga kebersihan alat kelamin selain agar bersih dan sehat sekaligus juga mengajari anak tentang najis. Anak juga harus dibiasakan untuk buang air pada tempatnya (toilet training).

Dengan cara ini akan terbentuk pada diri anak sikap hati-hati, mandiri, mencintai kebersihan, mampu menguasai diri, disiplin, dan sikap moral yang memperhatikan tentang etika sopan santun dalam melakukan hajat.


6. Mengenalkan mahram-nya

Tidak semua perempuan berhak dinikahi oleh seorang laki-laki. Siapa saja perempuan yang diharamkan dan yang dihalalkan telah ditentukan oleh syariat Islam. Ketentuan ini harus diberikan pada anak agar ditaati.

Dengan memahami kedudukan perempuan yang menjadi mahram, diupayakan agar anak mampu menjaga pergaulan sehari-harinya dengan selain wanita yang bukan mahram-nya. Inilah salah satu bagian terpenting dikenalkannya kedudukan orang-orang yang haram dinikahi dalam pendidikan seks anak.

7. Mendidik anak agar selalu menjaga pandangan mata

Telah menjadi fitrah bagi setiap manusia untuk tertarik dengan lawan jenisnya. Namun, jika fitrah tersebut dibiarkan bebas lepas tanpa kendali, justru hanya akan merusak kehidupan manusia itu sendiri. Karena itu, jauhkan anak-anak dari gambar, film, atau bacaan yang mengandung unsur pornografi dan pornoaksi.

8. Mendidik anak agar tidak melakukan ikhtilât

Ikhtilât adalah bercampur-baurnya laki-laki dan perempuan bukan mahram tanpa adanya keperluan yang diboleh-kan oleh syariat Islam. Perbuatan semacam ini pada masa sekarang sudah dinggap biasa. Karena itu, jangan biasakan anak diajak ke tempat-tempat yang di dalamnya terjadi percampuran laki-laki dan perempuan secara bebas.


9. Mendidik anak agar tidak melakukan khalwat

Dinamakan khalwat jika seorang laki-laki dan wanita bukan mahram-nya berada di suatu tempat, hanya berdua saja. Biasanya mereka memilih tempat yang tersembunyi, yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Anak-anak sejak kecil harus diajari untuk menghindari perbuatan semacam ini. Jika dengan yang berlainan jenis, harus diingatkan untuk tidak ber-khalwat.


10. Mendidik etika berhias

Berhias berarti usaha untuk memperindah atau mempercantik diri agar bisa berpenampilan menawan yang dilakukan secara berlebihan, sehingga menimbulkan godaan bagi lawan jenisnya. Tujuan pendidikan seks dalam kaitannya dengan etika berhias adalah agar berhias tidak untuk perbuatan maksiat.


11. Ihtilâm dan haid

Ihtilâm adalah tanda anak laki-laki sudah mulai memasuki usia balig. Adapun haid dialami oleh anak perempuan. Mengenalkan anak tentang ihtilâm dan haid tidak hanya sekadar untuk bisa memahami anak dari pendekatan fisiologis dan psikologis semata.

Jika terjadi ihtilâm dan haid, Islam telah mengatur beberapa ketentuan yang berkaitan dengan masalah tersebut, antara lain kewajiban untuk melakukan mandi.

Yang paling penting, harus ditekankan bahwa kini mereka telah menjadi Muslim dan Muslimah dewasa yang wajib terikat pada semua ketentuan syariah. Artinya, mereka harus diarahkan menjadi manusia yang bertanggung jawab atas hidupnya sebagai hamba Allah yang taat.


Itulah beberapa poin tentang pendidikan seks pada anak yang bisa dilakukan sebagai pembiasaan sehari-hari tanpa harus memberikan tontonan yang justru dapat menjerumuskan mereka ke dalam pergaulan bebas. Wallahu a'lam bisshawab.

Poin-poin tersebut perlahan sudah aku terapkan pada anakku,  Darell Adhibrata, sesederhana memberikan info perihal alat reproduksi anak laki-laki dan perempuan, menjelaskan dengan lugas tanpa ada rasa tabu atau malu mengenai hal-hal yang kaitannya dengan alat reproduksi, alasan mengapa anak laki-laki dan perempuan berbeda dan dibedakan, terutama masalah bukan mahram.

63 komentar:

  1. aq termasuk yang pro dengan ditayangkannya film ini, karena menurut aq emang sudah seharusnya film di ditayangkan agar menjadi perhatian untuk kita sebagai orang tua bahwa anak-anak remaja sangat butuh perhatian dari orang tuanya agar tidak melakukan kesalahan untuk masa depannya.

    BalasHapus
  2. Film ini ih lg hype banget ya. Bnyak pro ama kontra nya. Aku penasran nih pengen ikutan nonton juga.. weekend ini deh fix ntn.

    BalasHapus
  3. Jadi penasaran sama filmnya nie kak kayaknya emang edukatif banget buat para orang tua jaman now gitu film ini

    BalasHapus
  4. sex education perlu banget , bukan hal yang tabu lai kalau harus kta kasih tau untuk anak di usia dini karena ini perannya penting banget ya kak

    BalasHapus
  5. sebenarnya film ini bagus ya kak, banyak ilmu dan pendidikannya tapi banyak yang belum paham, hanya melihat judulnya sudah menjudge yang tidak2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Judulnya memang mengundang kontroversi yaa, teh..
      Jadi banyak yang anti duluan.
      Was-was banget kalau punya anak Abege.

      Hapus
    2. Iya, aku juga awalnya gitu. Tapi begitu baca yang review, bagus ternyata ya. Kita hanya perlu mendampingi dan ngasih pengertian

      Hapus
  6. selain itu anak mesti diberitahu juga konsekuensinya baik dalam agama maupun dari segi kesehatan, moral, etika, dan banyak hal. Menjadi orangtua konsekuensinya seumur hidup bahkan sampai masuk akherat juga kita ditanya ttg anak kita.

    BalasHapus
  7. Dari kemarin mau nonton belum sempat terus.. Btw, waktu aku sekolah, jaman SMP dr boyke datang utk penyuluhan loh!

    BalasHapus
  8. Banyak hal hal ya mba yang tetap perlu kita ajarkan kepada anak-anak kita agar terus menjaga norma-norma yang ada. Film ini bagus utk edukasi kita para orgtua juga

    BalasHapus
  9. Banyak yang memuji film ini ya Mba, bagus untuk pendidikan karakter
    Dengan sebuah kisah, kita banyak belajar banget. Aku belum nonton mba, di XXI Pekalongan udah masuk belum ntar aku cek
    pengen nonton juga

    BalasHapus
  10. Filmnya menurutku juga bagus, sebagai peringatan buat orang tua untuk bisa membagi waktu dengan bijak mengatur anak di rumah agar mereka bisa tumbuh dengan kasih sayang yang mereka butuh kan :)

    BalasHapus
  11. aku belum pernah nonton ini mnbak.. tapi dari reviewnya ini aku jadi pengen belajar, terutama utnuk aku sendiri supaya bisa berhati2 ,.. karena aku juga hidup di jaman milenial yang.... ahh.. ya begitulah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tooos aku jg belum nonton, tapi baca reviewnya dan semua review mengatakan ini bagus buat edukasi remaja. Mungkin kapan2 perlu ada nobar jg kali di sekolah2 SMA apa ya

      Hapus
  12. Film ini menurutku cocok ditonton sama keluarga yang udah punya anak usia SMP dan SMA, abis nonton didiskusikan bersama deh ttg "kecelakaan" di usia muda. SUpaya anak juga paham bahwa masa depannya terlalu berharga cuma utk melakukan hal yg kyk gtu yaa. Syaang blm nonton filmnya eui, kyknya bagus, mungkin perlu jg diputar di sekolah2 SMA gtu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Miris banget ya soal aborsi, tapi data itu bikin kita para ortu gak bisa menutup mata bahwa kejadian gtu emamg nyata :(
      Fil Garis Biru ini layak tonton khususnya buat ortu yang punya anak menginjak remaja ya

      Hapus
  13. Wah, noted banget nih tipsnya. Dua anakku udah masuk abege. Ngeri-ngeri sedap nih dengan mereka. Salah satunya takut dengan hal berbau seksual. Huhu, masih kagok ngasih tahu ini itunya. Tapi kalo enggak, takutnya jadi tahu dengan cara salah. Dan awal lihat trailer film ini, aku ngeri. Tapi begitu tahu nilai edukasinya, jadi berubah. Semoga kita semua bisa jadi orang tua yang mampu mendidik anak-anak kita dengan baik.

    BalasHapus
  14. Iya nih perlu edukasi alat reproduksi sejak dini tentu dengan bahasa anak-anak ya, sepakat dengan pendidikan mengenal makhrom dan memisahkan tempat tidur. Keren acaranya ya

    BalasHapus
  15. Mbak nanti sharing lebih banyak lagi yaaa soal ini hehehe. Aku juga nanti harus melakukan hal yang sama ke Rio. Makasih banyak tips tipsnya 🥰

    BalasHapus
  16. Betul mba.. pendidikan seksualitas yang sesuai dwngan umur akan sangat membantu anak - anak mba. Daripada banyak unwanted pregnancy yaa

    BalasHapus
  17. Penyampaian sesuatu melalui media film ini rentan perbedaan persepsi.
    Apalagi kalau yang menonton anak remaja.
    Ada baiknya film macam begini didampingi oleh konselor yang bisa menjelaskan maksud dan tujuan film ini sendiri dibuat.

    Nuhun kak...sharingnya.
    kereen pisssan...

    BalasHapus
  18. Penting sekali untuk mendapatkan sex education sejak dini agar bisa tahu apa saja negatif sex usia dini

    BalasHapus
  19. aku dapet spoiler nya doang nih film dua garis biru, belum sempet nonton tapi aku suka banget dengan pesan yang disampaikan di film ini.

    BalasHapus
  20. aku memang belum nonton filmnya, cuma jadi penasaran.
    aku suka poin-pon apa yang harus diperhatikan untuk mengajari sex education kepada anak, terimakasih infonya.

    BalasHapus
  21. Jadi penasaran pengen nonton filmnya, kayaknya seru banget ya, Mbak.

    BalasHapus
  22. Pengen nonton film dua garis biru ini mbak. Teman aku yang nuliskan kembali filmnya jadi novel dan yang berperan di sini anak satu kampus dulu. Penasaran benar.

    BalasHapus
  23. Anak saya cowok nih, udah SD, deg-degan juga rasanya mengenalkan seksualitas, sementara paksu jarang di rumah.
    Semoga nantinya anank-anak kita tidak salah jalan, aamiin :)

    BalasHapus
  24. Aku juga sudah nonton kak, sangat bagus ditonton oleh anak remaja, karena sangat penting pengenalan seksual di usia dini, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan sebelum waktunya

    BalasHapus
  25. Makin penasaran ingin nonton dua garis biru ini, banyak pesan moral yang disampaikan yah, jadi jangan nilai negatif dulu hanya karena judulnya aja.

    BalasHapus
  26. Aku kemarin ke bioskop pas hari kedua film ini tayang kalau ga salah, tapi ga jadi nonton karena dikejar waktu. Ada hal yang harus diselesikan. Alhasil makinlah aku penasaran apalagi habis baca ini postingan. huhu...

    BalasHapus
  27. Banyak ya ternyata peernya untuk mengajarkan anak tentang pendidikan seks. Mungkin si anak harus diberi penjelasan tentang seks dulu sebelum nonton ini. Masalahnya ini bukan film hanya untuk sekedar hiburan tapi menyisipkan makna nya ke anak itu yang susah.

    BalasHapus
  28. Iya, sih. Pasti penting banget pendidikan seksual dari lingkungan keluarga, jangan sampai anak salah bergaul, atau dapat pemahaman yang enggak tepat. Film ini memang punya berbagai kontroversi, tapi Kita bisa ambil hikmahnya. Jangan sampai anak terjerumus dan memilih aborsi. Jangan biarkan mereka menyesal kemudian

    BalasHapus
  29. Ahh suka banget sama poin2 pendidikan seks pada anak dalam islam. Indeed Islam sudah mengatur sedemikian Rupa mulai dari baru lahir sampai wafat ya mom. Akupun meski belum pernah nonton tapi tidak menentang film itu, yaa Karena emang belum nonton. Hehe. Belum jadi jadi mau nonton

    BalasHapus
  30. Semoga negeri ini semakin terbebas dari sex bebas. Akhir-akhir emang bikin ngeri soalnya. Semoga Allah selalu menjaga anak cucu dari bahaya zina. Aamiiiin

    BalasHapus
  31. Awalnya memandang film dua garis biru ini aku sungguh tidak setuju. Tetapi setelah menonton sungguh banyak pelajaran dan hikmah bagi pelajar dan keluarga dari film ini.

    BalasHapus
  32. Kok kamu udah nonton gak ngajak aku sik? Aku sepertinya minggu ini bakal marathon nonton nih, film Indonesia lagi banyak yang bagus soalnya ya.

    BalasHapus
  33. Aku belum nonton nih, padahal suamiku ngajakin waktu itu tapi lagi gak sempet aja. Kalau jaman dulu ngomongin sex sama orangtua itu tabu ya padahal ini salah satu edukasi ortu ke anak juga ya. Dari film ini bisa jadi bahan pembelajaran juga ya

    BalasHapus
  34. Wah maafkan daku nih..gagal fokus ama watermark Oppo Reno di semua fotonya..Kece beuttt...Belum nonton filmnya nih...kayaknya perlu ya..buat referensi aja..

    BalasHapus
  35. Kalau dilihat ketimpangan akses pendidikan untuk siswa perempuan dan laki-laki di sekolah. Ketika terjadi KTD, pihak sekolah mengeluarkan siswa perempuan, sedangkan laki-laki tidak.

    Pertimbangannya mungkin bisa saja pada saat anak perempuan hamil, apalagi dia masih muda, pasti mual dan muntah di sekolah, dan itu mengganggu kegiatan belajar mengajar. Kalau ini terjadi di kuliah, pastinya engga kayak gini, karena masa belajar nya kan ga full 8 to 5

    BalasHapus
  36. Banyak yang belum nonton tapi udah antipati ya mba sama film ini, padahal bagus untuk pendidikan ke anak, materi diskusinya bergizi banget, aku bintangin dulu yaa..

    BalasHapus
  37. Aku ragu2 sih mau nonton film ini. Anyway, dari sinopsis-nya, Film Dua Garis Biru ini mengingatkan aku pada film Juno. Ada kah yang pernah nonton film Juno? Terlepas dari segala pro kontra-nya, mengenalkan pendidikan seksual sejak dini itu penting. Di Islam sendiri kan memang diajarkan juga ya mbak Aie, seperti soal najis, mahram, dll. Siapa nih ya yang mau nonton bareng aku biar ada temennya...

    BalasHapus
  38. Film dua garis biru ini langsung bikin ak sama suami diskusi panjang lebar dan point diatas jd salah satu bahasan kami berdua sepanjang jalan sampe Karawang dari Tangerang.

    BalasHapus
  39. Ini kapan filmya nongol di Iflix ya Mbaaa, huhuhu. Nasiib nggak ada bioskop gini, cuma mupeng pas baca ulasan film yang bagus banget. Giliran nanti bisa nonton, udah ilang hype-nya, ahahaha.

    Tapi paling enggak meskipun belum nonton aku udah bisa dapet pelajaran yang banyak banget dari film ini melalui review dan diskusi seperti yang dishare Mba Aie. Luvvv!

    BalasHapus
  40. Pendidikan sex sejak dini memang harus dimulai dari keluarga, jadi ketika anak-anak keluar rumah tidak telalu pengen tahu dan mendapatkan info dari temannya. Film nya bagus sih, meski kalo anak kita masih berusia 15 tahun ya wajid didampingi. Jangan nonton sama teman-temannya gitu

    BalasHapus
  41. Kalau menurut saya tanggung jawab untuk memberikan sex education ada pada keluarga. Tontonan semacam ini bisa, tapi harus dengan pendampingan. Kalau perlu nobar dilakukan dengan pendampingan dari ahlinya. Dan yang pasti itu tidak mengurangi tanggung jawab utama keluarga untuk memberikan pemahaman tentang pendidikan sex pada anak.

    BalasHapus
  42. PR banget nih buat aku yang sekarang udah jadi orang tua, apalagi menjelaskan secara lugas tanpa ada tabu-tabunya dan ga pake malu-malu. 😁 Thanks mbak atas artikelnya, dan aku jadi penasaran pengen nonton film Dua Garis Biru

    BalasHapus
  43. Baru nonton teasernya mba, bagus sepertinya,kaya akan pesan, jadi bisa banget ditonton anak2 muda / ABG.

    Nanti ah, nunggu di iflix...pengen liat juga😀 soalnya anak+suamiku susah klo diajakin liat film genre drama gini mba

    BalasHapus
  44. Aku suka pendidikan seks kayak gini, dibandingkan pakai kondom buat cegah kehamilan. Memang anak sekarang dunianya terbuka banget, bisa tahu seks sejak dini. Jadi bikin serem kan. Semoga bukan hanya kehamilan aja yang ditekan tapi juga pergaulan bebas.

    BalasHapus
  45. Film yang rame diobrolin grup para ibuk-ibuk apalagi yang punya anak abege. Tapi walau anakku blm di phase abege, film ini jadi masukan buat aku sbg orang tua..

    BalasHapus
  46. Pendidikan seksualitas yang sesuai dengan usia memang akan sangat membantu menghindari anak - anak dan generasi muda dari pergaulan bebas maupun kehamilan yang tidak diinginkan ya mba

    BalasHapus
  47. Aku sampai sekarang belum kesempatan nonton Mak. Tapi pengen nonton dan akan ajak anak anakku nonton jika sudah abege. Kalau sekarang masih terlalu kecil dan belum paham mungkin, jadi memang ngenalin dari hal hal sederhana dulu tentang perbedaan laki laki dan perempuan.

    BalasHapus
  48. Timeline-ku sempat ramai menolak film ini
    Katanya ngajari seks bebas, haha
    Padahal kalau mau ambil sudut pandang lain, harusnya berpikir positif tentang manfaat film ini untuk MENCEGAH hal tersebut terjadi

    BalasHapus
  49. Aku termasuk yang setuju kok dengan sex edukasi sejak dini. Dan menurutku sama sekali nggak masalah si kalau media pembelajarannya harus dengan gambar atau video. kan untuk sex edukasi yang ditampilkan bukan sekadar hubungan seks, tapi lebih ke pengenalan alat reproduksi, bagaimana cara kerjanya, pengenalan resiko dan sebagainya. Jadi kalau mereka tahu resiko2nya, anak juga bisa mikir sendiri kan kalau mau ngelakuin yang nggak2.

    BalasHapus
  50. Ih, aku kok ga diajak ya..Ini film dah lama pengen kutonton, bagus banget artikelnya,Aie. Aku suka dan butuh karena dua anakku masuk tahap abg

    BalasHapus
  51. eh kok gitu justru si korban (siswa perempuan) yang dikeluarkan dari sekolah. Karena malu gitu ya padahal ga bakal terjadi kalau si laki ga begitu kan. It takes two to tango!

    BalasHapus
  52. Keren juga diskusinya ya jadi atas isi agama Islam, bahwa emang perlu diajarkan anak untuk menerapkan rasa malu terbukanya aurat kepada orang lain. Thanks sharingnya, Mbk.

    BalasHapus
  53. Belum nonton dua garis biru ini masih ada kah di bioskop mba ay? Jadi penasaran pgn nonton

    BalasHapus
  54. uraian pokok-pokok pendidikan seks ini menarik mbak, beberapa poin sudah saya terapkan sejak dini pula sementara lainnya nanti mengikuti perkembangan usianya.

    BalasHapus
  55. Jadi sebenarnya recommended atau nggak nih film ini untuk ditonton anak remaja, Aie?
    Pendidikan seks memang secara bertahap sudah harus diberikan sesuai poin2 yang disebutkan di atas tadi ya. Jadi ketika memasuki gerbang remaja anak sudah tau mana yang benar dan mana yang tidak.

    BalasHapus
  56. Setuju dengan poin2 tsb gimana sebaiknya kita mengajarkan sex edu pada anak. Cuma berdasar yg kubaca2 ttg film ini katanya endingnya si cewek ttp bs lanjut kuliah ke Korea ya. Akunjd kuatir klo yg nonton remaja mereka jd kepikiran ah ternyata ga papa. Semuanya bs dihadapi dgn baik. Menurutku lbh pas ini ditonton sama ortu sih.

    BalasHapus
  57. Kayaknya edukasi kayak gini harus dibanyakin diadakan di sekolah2 ya mbak. Melihat gaya hidup anak remaja sekarang bikin deg2-an. Ya Lord aku yg udah menikah gini aja sampe mules liat gaya anak muda pacaran zaman sekarang

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)