Utang Budi: Haruskah Jadi Beban?

Kamis, 17 Juli 2025

Beberapa waktu lalu, aku pernah banget ditolong sama teman kantor saat sedang kalut soal pekerjaan. Waktu itu aku kebingungan cari data untuk laporan bulanan, deadline sudah mepet, kepala rasanya mau meledak. Di saat aku hampir menyerah, teman sekantorku tiba-tiba bilang, "Aku ada file-nya, nih. Mau aku bantuin rapihin?"

Utang Budi Haruskah Jadi Beban

Nggak butuh waktu lama, file yang kutunggu-tunggu beres dalam hitungan jam. Rasanya kayak nemu oase di tengah padang pasir. Lega sekaligus… malu. Aku langsung mikir, "Aduh, aku jadi berutang budi nih." Aku nggak pengen dianggap nggak tahu diri atau nggak tahu terima kasih.

Ternyata nggak cuma aku yang pernah merasa begitu. Kita sering tanpa sadar menganggap setiap kebaikan orang lain itu jadi 'utang budi' yang bikin kita nggak nyaman. Padahal nggak semua orang ngasih pertolongan dengan niat bikin kita merasa berhutang. Kadang mereka bantu karena memang peduli, atau sekadar karena mereka mampu.

Utang Budi: Haruskah Jadi Beban?

Utang Budi: Haruskah Jadi Beban?

Aku jadi kepikiran, jangan-jangan selama ini kita kebanyakan mikir dengan pola pikir transaksional. Kalau dibantu, ya harus balas. Kalau ditolong, harus segera membalas budi. Tapi apa iya relasi antar manusia harus selalu diukur pakai hitung-hitungan kayak gitu?

Sekarang, tiap kali aku ditolong, aku selalu bilang dalam hati, "Ini bukan utang. Ini pengingat kalau aku juga harus siap jadi penolong buat orang lain." Jadi energi kebaikan itu nggak berhenti cuma di aku, tapi lanjut mengalir ke orang lain. Aku percaya, Tuhan kirim bantuan lewat tangan siapa saja yang dipilih-Nya. Jadi aku cukup bersyukur, nggak perlu merasa tertekan.

Utang Budi: Haruskah Jadi Beban?

Utang Budi: Haruskah Jadi Beban?

Aku juga belajar untuk nggak sungkan berterima kasih dengan tulus. Kalau memang bisa dibalas langsung, ya aku lakukan. Kalau nggak bisa? Aku cari cara lain. Kadang sekadar kasih mereka makanan favoritnya, bantu di project lain, atau bahkan sekadar jadi pendengar yang baik saat mereka lagi butuh teman cerita. Biar mereka tahu, aku nggak lupa sama kebaikan mereka.

Cara lain yang sering aku lakukan adalah menjaga hubungan baik tanpa pamrih. Jadi nggak cuma datang waktu butuh aja. Kadang aku sempatkan kirim pesan random, nanyain kabar, atau share info yang mungkin mereka perlukan. Biar mereka juga ngerasa dihargai sebagai manusia, bukan cuma fungsi.

Aku percaya, rasa nggak enak hati karena merasa berutang itu muncul karena hubungan kita sama orang tersebut memang sebatas transaksional. Makanya aku selalu berusaha membangun relasi yang genuine. Biar ketika ada yang bantu, aku bisa menerimanya dengan ringan tanpa merasa harus buru-buru membalas.

Utang Budi: Haruskah Jadi Beban?

Utang Budi: Haruskah Jadi Beban?

Aku ingat pernah baca kutipan, "Balas budi itu nggak selalu harus ke orang yang sama." Kadang, membalasnya dengan membantu orang lain justru lebih bermakna. Kayak estafet kebaikan yang nggak boleh putus. Kalau kamu nggak bisa langsung membalas ke orang yang bantu, bantu aja orang lain yang lagi butuh. Universe akan bekerja untuk menyeimbangkan semuanya.

Ada juga satu hal penting yang aku pegang, yaitu komunikasi yang jelas. Kalau memang merasa sangat terbantu dan belum bisa membalas, nggak apa-apa bilang aja, "Makasih banget ya, aku belum bisa bantu balik sekarang, tapi aku akan ingat ini." Komunikasi kayak gitu justru bikin hubungan lebih nyaman dan nggak ada prasangka.

Utang Budi: Haruskah Jadi Beban?

Utang Budi: Haruskah Jadi Beban?

Pernah juga satu momen, aku kebantu banget sama temenku waktu aku lagi mentok cari ide konten buat kerjaan. Dia bantu brainstorm tanpa diminta, bahkan kasih referensi dan insight. Aku merasa sangat terbantu, tapi aku juga nggak mau terus-terusan 'menerima'. Akhirnya aku balas bantu dia di project lain yang dia kerjain, walaupun dia nggak minta.

Menurutku, utang budi jadi berat kalau kita menahannya sendiri tanpa diolah jadi aksi. Tapi kalau langsung direspon dengan aksi nyata, baik ke orang yang sama atau orang lain, rasanya plong. Nggak ada beban.

Dan satu lagi, penting juga untuk jadi pemberi yang nggak membuat orang lain merasa berutang budi. Aku selalu berusaha bantu tanpa bikin orang lain nggak enak hati. Niatnya bantu ya bantu aja, nggak perlu diungkit atau diingatkan terus.

Utang Budi: Haruskah Jadi Beban?

Utang Budi: Haruskah Jadi Beban?

Akhirnya aku paham, hidup itu kayak putaran energi. Kita nggak selalu bisa balas kebaikan langsung ke pemberinya, tapi energi baik itu pasti akan balik ke kita dengan cara yang seringkali nggak kita sangka.

Jadi sekarang, kalau ada yang bilang, "Santai aja, nggak usah ngerasa utang budi," aku udah nggak canggung lagi. Karena aku tahu, aku punya PR untuk terus berbuat baik. Bukan buat bayar utang, tapi buat menjaga aliran energi baik itu tetap hidup.

11 komentar

  1. Saya selalu menanamkan sebuah pemahaman dalam diri bahwa berbuat baik itu untuk diri sendiri...buat untuk orang lain. Melatih diri agar bisa selalu ikhlas.

    BalasHapus
  2. Mantul kak Aie. Benang merahnya oke nih, karena intinya apa yang kita lakukan itu memang nawaitunya kepada Allah Swt, dan balasan setiap yang diperbuat adalah dari-NYA, sehingga ketika kita berbuat baik inshaAllah dapat balasan yang baik pula

    BalasHapus
  3. Jujur Aie, aku tuh typical orang yang ngerasa gak enakan klo punya hutang budi sama orang duuh. Suka kepikiran. Pdahal klo kita pribadi bs berbaik budi sama orang ya ga ada niat mikirin balasan jg. cuma ttp aja tuh suka jadi gimanaa gt. Makanya mulut nih gak boleh pelit untuk bilang makasih utk kebaikan budi orang dan aku biasakan tambahkan doa juga utk orang tsb. kita ga tahu barangkali krn kasih sayang Allah doa kita diijabah kan

    BalasHapus
  4. "Dan satu lagi, penting juga untuk jadi pemberi yang nggak membuat orang lain merasa berutang budi. Aku selalu berusaha bantu tanpa bikin orang lain nggak enak hati. Niatnya bantu ya bantu aja, nggak perlu diungkit atau diingatkan terus."

    Pengennya gini...tapi kok susah :D. Awalnya ga pengen ngungkit, tapi begitu diaa malah bikin sebel, ga tau diri, kok keluar semua "ingatan" kebaikan kita itu.

    BalasHapus
  5. Dulu saya juga sering merasa seperti itu, karena memang saya dari kecil sudah terbiasa mandiri dan melakukan apapun sendirian sehingga membuat bantuan dari orang lain tuh jadi beban. Makanya dulu saya paling susah minta bantuan orang lain.

    Kalau sekarang sudah lebih menerima dan tahu batasan diri, sehingga bantuan atau pertolongan dari orang lain bisa lebih saya terima dan melanjutkannya ke orang lain yang mungkin lebih membutuhkan.

    BalasHapus
  6. Kalo aku sih bukan jadi beban ketika kita pernah dibantu seseorang. Malah jadi motivasi buat bisa bantu balik atau malah ke orang lain yang memerlukan. Ibarat butterfly effect

    BalasHapus
  7. Hangat banget rasanya sepanjang aku membaca curhatan Kak Aie. Dulu sekali pernah ada orang random yang kumintai tolong di jalan, dia bilang, "kalau saya sekarang nolong kamu, semoga Allah memudahkan saya ditolong oleh orang lain di waktu yang lain." Waktu itu aku sedang nyasar di jalan ceritanya. Beneran dianterin sampai ke tempat tujuan sementara aku kebingungan.

    Lalu tulisan Kak Aie seolah menarik lagi kenangan lama itu. Megingatkanku lagi kalau apapun yang kita lakukan di dunia ini, sebaik-baiknya adalah nggak selalu berpikir sebagai bentuk tindakan transaksional. Mana tahu, ketika kita tengah membutuhkan kelak, akan ada orang dengan frekuensi sama yang menadi pelepas dari kesulitan itu.

    Terima kasih banyak ya, Kak Aie.

    BalasHapus
  8. memang kadang kalau kita mendapat bantuan di saat benar-benar perlu itu kayak jadi berhutang budi ya, mba apalagi misalnya ada hubungannya sama nyawa atau uang. biasanya kalau ceritanya begitu paling bagus selalu menjaga silaturahmi ya dengan temannya itu

    BalasHapus
  9. Saya baru aja mengajarkan anak tentang utang budi. Karena dia sempat ditolong beberapa temannya saat kesulitan. Saya ingatkan untuk selalu mau membalas kebaikan temannya. Tapi, jangan sampai dimanfaatkan untuk hal gak baik

    BalasHapus
  10. mungkin karena kebiasaan dan tata krama juga mba, biasanya kebaikan dibalas dengan kebaikan (dengan orang yang sama) bagian dari etika yang jadi semacam aturan tak tertulis dalam bersosialisasi. Sayangnya memang jadi semacam keharusan yang bikin gak enak juga, dan emang bener, kadang orang berbuat baik yang emang pengen aja bukan pengen di balas kebaikannya. mungkin kita perlu mengubah mindset ya.

    BalasHapus
  11. Aku punya pengalaman sama tetangga Mba, ketika mengirim makanan dibalas lagi terus aja gitu saling balas gak henti, ternyata kami saling gak enakan, kebaikan yang diniatkan jangan dijadikan beban harusnya ya? Terima dan nikmati saja saat mendapatkan rezeki itu, gak perlu berlebihan untuk membalas yang impulsif. Justru kalau kita gak enakan pastinya yang memberi akan kecewa karena niat baiknya gak kita terima. Cerita Mba Aie juga sangat menyentuh dan pola pikirnya terhadap bantuan orang lain sangat bijak.

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)