Ada satu fase dalam kehidupan seorang ibu yang mungkin paling sulit diterima:
anak kita akan tumbuh besar.
Suatu hari nanti, mereka tidak lagi memanggil kita untuk setiap hal kecil.
Tidak lagi meminta kita memilihkan baju.
Tidak lagi selalu ingin ditemani.
Tidak lagi bertanya tentang hampir semua hal.
Tidak lagi menganggap ibu sebagai orang pertama yang harus tahu segala sesuatu.
Dan jujur saja, memikirkannya kadang bikin hati agak sesak.
Karena selama ini kita terbiasa dibutuhkan.
Sejak mereka kecil, hampir semua hal membutuhkan kita.
Makan membutuhkan kita.
Mandi membutuhkan kita.
Sekolah membutuhkan kita.
Tidur membutuhkan kita.
Bahkan menangis pun kadang mencari kita.
Lalu perlahan semuanya berubah.
Anak Tumbuh, Tapi Ibu Juga Harus Belajar Bertumbuh
Menjadi ibu dari anak yang semakin besar ternyata bukan hanya tentang melihat anak bertumbuh.
Tapi juga tentang belajar mengubah cara kita mencintai.
Saat anak masih kecil, cinta sering kali berbentuk perlindungan.
Kita pegang tangannya ketika menyeberang.
Kita memilihkan apa yang menurut kita terbaik.
Kita mengingatkan berkali-kali.
Kita memastikan semuanya aman.
Tapi semakin besar anak, kita tidak mungkin terus berada satu langkah di depan mereka.
Karena hidup mereka nantinya adalah milik mereka.
Mereka akan punya pilihan.
Punya teman.
Punya kesukaan.
Punya pendapat.
Punya kesalahan.
Dan mungkin suatu hari nanti, punya keputusan yang tidak sesuai dengan keputusan yang akan kita pilih.
Di titik itu, tugas ibu perlahan berubah.
Dari yang awalnya memegang tangan, menjadi berjalan di samping.
Memberi Ruang Bukan Berarti Berhenti Menjaga
Ini bagian yang sulit.
Karena sebagai ibu, naluri kita selalu ingin melindungi.
Kalau anak salah, ingin segera memperbaiki.
Kalau anak kecewa, ingin segera menghibur.
Kalau anak mengalami sesuatu yang menyakitkan, rasanya ingin mengambil rasa sakit itu dan menaruhnya di tubuh kita sendiri.
Tapi kita tahu, kita tidak bisa selamanya melakukan itu.
Ada pelajaran yang memang harus mereka alami sendiri.
Ada keputusan yang harus mereka ambil sendiri.
Ada kegagalan yang mungkin harus mereka rasakan.
Dan ada luka yang mungkin tidak bisa kita cegah.
Bukan karena kita tidak sayang.
Tapi karena menjadi dewasa memang membutuhkan pengalaman.
Tugas kita bukan membuat hidup mereka selalu mudah.
Mungkin tugas kita adalah memastikan ketika hidup terasa sulit, mereka tahu ke mana harus pulang.
Suatu Hari Nanti, Rumah Akan Menjadi Lebih Sepi
Aku sering membayangkan masa ketika anak sudah dewasa.
Mungkin rumah tidak lagi seramai sekarang.
Tidak ada suara memanggil.
Tidak ada barang berserakan.
Tidak ada pertanyaan-pertanyaan kecil.
Tidak ada rutinitas yang dulu kadang membuat kita lelah.
Dan lucunya, mungkin pada saat itu kita justru akan merindukan semuanya.
Kita akan merindukan suara yang dulu kadang membuat kita ingin berkata:
“Sebentar dong, Bunda lagi sibuk.”
Kita akan merindukan pertanyaan yang dulu terasa sederhana.
Kita akan merindukan masa ketika seseorang kecil begitu percaya kepada kita sampai merasa dunia aman selama ada ibu.
Karena waktu memang begitu.
Saat sedang menjalaninya, kita ingin cepat selesai.
Setelah selesai, kita justru ingin mengulanginya.
Jadi, Mungkin Sekarang Saatnya Menikmati
Mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk memikirkan bagaimana anak akan menjadi apa nanti.
Mungkin hari ini cukup dengan benar-benar hadir.
Mendengarkan ceritanya.
Menanyakan bagaimana harinya.
Menikmati makan bersama.
Tertawa.
Berantem kecil.
Berbaikan.
Mengobrol tentang hal-hal yang kadang tidak penting.
Karena ternyata masa kecil dan masa remaja anak bukan cuma sedang membentuk mereka.
Diam-diam, mereka juga sedang menciptakan kenangan yang suatu hari akan kita rindukan.
Anak kita memang sedang bertumbuh menuju kehidupan mereka sendiri.
Dan kita juga sedang belajar satu hal yang tidak mudah:
mencintai tanpa memiliki.
Menjaga tanpa mengikat.
Memberi nasihat tanpa mengendalikan.
Memberi ruang tanpa merasa kehilangan.
Karena suatu hari nanti, anak kita tidak lagi membutuhkan kita sebanyak sekarang.
Dan ketika hari itu tiba, semoga kita tidak hanya bisa berkata,
“Untung dulu aku sudah melakukan semuanya untuknya.”
Tapi juga bisa tersenyum dan berkata,
“Untung dulu aku sempat benar-benar menikmati masa ketika dia masih membutuhkan aku.”
Karena pada akhirnya, anak-anak mungkin tidak akan mengingat semua yang kita belikan.
Mereka mungkin tidak mengingat rumah yang selalu rapi.
Mereka mungkin lupa berapa kali kita mengingatkan mereka.
Tapi semoga mereka mengingat satu hal:
rumah adalah tempat mereka selalu boleh pulang.







Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisanku ini, bahagia deh rasanya kalo kamu bisa berkomentar baik tanpa ngasih link apapun dan enggak SPAM. :)