Kalau ada kota yang membuat saya berpikir bahwa Indonesia memang dibangun dari banyak pertemuan, salah satunya adalah Semarang.
Pertemuan manusia.
Pertemuan budaya.
Pertemuan sejarah.
Dan tentu saja... pertemuan rasa.
Karena kalau bicara Semarang, selain Lawang Sewu dan Kota Lama, rasanya kurang lengkap kalau tidak membicarakan lumpia Semarang.
Makanan yang satu ini justru menjadi contoh menarik bagaimana sebuah kuliner bisa lahir dari pertemuan budaya yang berbeda.
Lumpia dan Cerita Akulturasi
Lumpia Semarang sering dianggap sebagai makanan khas kota ini.
Tapi yang menarik, cerita di baliknya berkaitan dengan akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa.
Dari sinilah saya merasa bahwa makanan ternyata bisa menjadi “dokumen sejarah” yang enak dimakan.
Kita mungkin tidak sadar ketika sedang menikmati lumpia bahwa di balik makanan tersebut ada perjalanan budaya yang panjang.
Ada pengaruh kuliner Tionghoa.
Ada bahan dan cita rasa lokal.
Kemudian semuanya beradaptasi dengan kehidupan masyarakat Semarang.
Hasilnya?
Sebuah makanan yang akhirnya justru menjadi identitas kota.
Ini menarik karena menunjukkan bahwa perbedaan budaya tidak selalu menghasilkan jarak.
Kadang justru menghasilkan sesuatu yang baru.
Kota Lama Semarang dan Jejak Sejarah
Selain kuliner, Semarang juga punya Kota Lama yang menjadi salah satu kawasan ikonik.
Bangunan-bangunan bergaya kolonial membuat kawasan ini punya suasana yang berbeda dibandingkan bagian kota lainnya.
Berjalan di kawasan Kota Lama seperti sedang membuka halaman buku sejarah.
Tetapi bedanya, kita tidak cuma membaca.
Kita bisa melihat bangunannya.
Menyentuh dindingnya.
Berjalan di jalannya.
Dan membayangkan seperti apa kehidupan masyarakat pada masa lalu.
Tentu saja, sejarah sebuah kota tidak selalu sederhana.
Ada banyak lapisan cerita di dalamnya.
Dan justru karena itulah bangunan tua penting untuk dirawat.
Bukan semata-mata karena bentuknya cantik untuk difoto.
Tetapi karena ia menyimpan memori.
Lawang Sewu dan Cerita yang Lebih dari Sekadar Foto
Semarang juga punya Lawang Sewu, salah satu bangunan bersejarah yang paling terkenal di Indonesia.
Namanya secara harfiah berarti “seribu pintu”, meskipun jumlah pintunya bukan benar-benar seribu.
Saya rasa ini salah satu contoh bagaimana sebuah bangunan bisa memiliki identitas yang begitu kuat sampai namanya sendiri menjadi cerita.
Bagi wisatawan, Lawang Sewu mungkin menjadi tempat untuk berfoto.
Tetapi kalau kita mau sedikit meluangkan waktu untuk membaca sejarahnya, bangunan ini memberikan perspektif yang berbeda tentang perjalanan Semarang dan Indonesia.
Dan saya selalu merasa bahwa wisata sejarah menjadi jauh lebih menarik ketika kita berhenti melihatnya sebagai “tempat tua”.
Karena yang tua bukan berarti tidak relevan.
Justru dari sanalah kita bisa memahami bagaimana kita sampai di titik hari ini.
Semarang dan Kuliner yang Nggak Ada Habisnya
Selain lumpia, Semarang juga punya berbagai kuliner khas yang membuat perjalanan ke kota ini terasa kurang lengkap kalau hanya mengandalkan itinerary wisata.
Ada tahu gimbal, wingko babat, bandeng presto, dan berbagai makanan lainnya.
Dan seperti kota-kota lain di Indonesia, makanan Semarang juga memperlihatkan bagaimana budaya bisa saling bertemu.
Pengaruh Jawa, Tionghoa, dan berbagai kelompok masyarakat yang hidup di kota pelabuhan ini ikut membentuk karakter kulinernya.
Jadi kalau dipikir-pikir, satu piring makanan bisa menjadi miniatur Indonesia.
Ada sejarah di dalamnya.
Ada perpindahan manusia.
Ada perdagangan.
Ada adaptasi.
Dan ada kreativitas.
Permainan Tradisional: Ketika Anak-Anak Belum Kenal Gadget
Ada satu hal lagi yang menurut saya menarik ketika membicarakan budaya Indonesia: permainan tradisional.
Sebelum anak-anak sibuk dengan game di smartphone, ada masa ketika sore hari berarti keluar rumah.
Main petak umpet.
Gobak sodor.
Engklek.
Bentengan.
Atau permainan lain yang berbeda nama dan bentuk di setiap daerah.
Permainan tradisional sebenarnya bukan sekadar permainan.
Anak belajar bekerja sama.
Belajar menunggu giliran.
Belajar menang dan kalah.
Belajar menyelesaikan konflik kecil.
Dan yang paling penting...
Belajar bersosialisasi tanpa perlu koneksi internet.
Sayangnya, permainan seperti ini semakin jarang terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Padahal kalau dipikir-pikir, mungkin anak-anak zaman dulu punya satu kemewahan yang sekarang semakin mahal:
ruang untuk bermain bersama.
Semarang dan Pelajaran Tentang Indonesia
Semarang membuat saya melihat budaya dari sudut yang sedikit berbeda.
Bahwa identitas sebuah kota tidak selalu lahir dari satu budaya yang berdiri sendiri.
Kadang ia justru terbentuk dari banyak budaya yang bertemu, beradaptasi, lalu melahirkan sesuatu yang baru.
Lumpia adalah salah satu contohnya.
Kota Lama adalah pengingat sejarahnya.
Lawang Sewu adalah bagian dari memorinya.
Dan permainan tradisional adalah bagian dari kehidupan sosial yang pernah begitu dekat dengan masyarakat.
Mungkin itu sebabnya saya suka perjalanan.
Karena setiap kota seperti punya cara sendiri untuk mengajari kita sesuatu.
Semarang mengajarkan saya bahwa perbedaan tidak selalu harus dipertentangkan.
Kadang perbedaan justru bisa menjadi kekayaan.
Seperti lumpia.
Kulitnya bukan dari satu cerita.
Isinya bukan dari satu budaya.
Tetapi ketika semuanya bertemu...
jadilah sesuatu yang kemudian justru dikenal sebagai identitas sebuah kota.
Dan bukankah Indonesia juga begitu?
Berbeda-beda, tetapi ketika dirawat dengan baik, perbedaan itu justru menjadi kekuatan.
Jadi, kalau nanti ada kesempatan kembali ke Semarang, saya mungkin tidak akan buru-buru mengejar semua tempat wisata.
Saya ingin berjalan sedikit lebih pelan.
Makan lumpia.
Menikmati bangunan tua.
Mengingat sejarah.
Dan mungkin mencari satu permainan tradisional yang masih dimainkan anak-anak.
Karena saya ingin pulang bukan hanya membawa foto.
Tapi juga membawa satu cerita lagi tentang Indonesia.





Sebagai pencinta makanan, cerita Mbak Andiyani tentang satu piring tahu gimbal atau sepotong lumpia yang menjadi bukti indahnya akulturasi. Ternyata wisata sejarah itu bisa dinikmati dengan cara yang sangat menyenangkan bahkan lewat kuliner sekali pun. Ah jadi pengen ke Semarang, saya belum pernah ke sana soalnya.
BalasHapusSemarang memang selalu berhasil bikin rindu, mulai dari deretan arsitektur bersejarah di Kota Lama, kulineran khas yang lezat, sampai suasana kotanya yang punya perpaduan budaya begitu hangat. Saya suka sekali lumpia semarang. Tapi, hanya lumpianya, gak pakai saosnya.
BalasHapusIndonesia memang kaya akan budaya yaa, baik budaya asli, budaya pendatang, sampai budaya yang merupakan hasil akulturasi dari aneka budaya tersebut. Malah jadinya menghasilkan sesuatu yang unik, karena bisa jadi hasil pembauran di satu daerah terhadap suatu budaya pendatang tetap beda jadinya dengan daerah lain dengan budaya pendatang yang sama.
BalasHapusIyaya, ada akulturasi budaya yang dihadirkan, dan salah satunya lewat makanan seperti lumpia. Indah sebenarnya, karena tanpa menghilangkan jejak aslinya
BalasHapusSemarang itu jadi salah satu kota favorit ku mbak 🤩 ku suka banget liburan ke sana. Rasanya beda. Kebudayaannya menarik, banyak bangunan lawas yang masih terawat, Lawang Sewu salah satunya. Belum lagi dari sisi kulinernya. Rasanya explore Semarang nggak cukup kalau hanya 5 hari an saja yaaa. Mesti minimal seminggu deh.
BalasHapusSemoga yaa, mbak segera liburan kesana lagi dan melambat menikmati momen.
Selama ini kalau bepergian, seringnya ingat untuk icip-icip makanan khasnya aja, padahal kalau dieksplor lebih jauh, ada banyak cerita di baliknya, yang tentunya menarik untuk diceritakan dan diketahui banyak orang.
BalasHapusSemarang ini termasuk wishlist aku nih kalau liburan nanti soalnya ada banyak tempat yang pengen banget kukunjungi kayak Lawang Sewu dan Kota Lama Semarang yang ikonik banget itu
BalasHapusPaling seru kalo bahas kuliner, budaya, sejarah dan akulturasi didalamnya. Kota-kota besar kaya Semarang, Jogja, Surabaya, Jakarta bahkan Bandung sangat-sangat kaya akan hal-hal tersebut
BalasHapusSepakat, kadang dari perpaduan budaya maka muncullah ciri khas yang menjadi iKON suatu daerah dan ini ga hanya terjadi di Semarang, di kita lain juga ada yang begitu.
BalasHapusYang saya suka dibalik kuliner ada filosofi, di balik istimewanya sebuah lokasi atau tujuan wisata ada cerita menarik dan begitu seterusnya. Indonesia itu menarik kok
Semakin banyak informasi yang kita tahu mana akan semakin terkagum-kagum, itu saya sih
Nambah lagi nih kehebatan Indonesia. Karakter orangnya yang ramah dan terbuka bisa jadi sebuah pintu yang membuat akulturasi itu bisa terjadi. Bayangkan kalau orang Indonesia jarudes, menolak pengaruh luar, bisa jadi tak ada penharuh asing masuk ke negara kita. Ada sisi positif dan negatifnya sih. Moga ciri khas Indonesia bisa tetap lestari
BalasHapusSeumur2 baru sekali ke kota Semarang dan pengen balik lagi ke sini. Tapi entah kenapa aku kurang suka lumpianya apa karena isinya rebung dan wangi baunya kurang ku suka ya. Yang aku suka bandeng prestonya enak.
BalasHapus